BAB 38

1596 Words
Seperti dugaan Aelin, beberapa hari setelah dirinya bertemu dengan Ares, Arne tiba-tiba melakukan hal serupa. Polanya persis seperti enam tahun silam, hanya berbeda di bagian pertemuan dengan Ares. Kini, Arne tiba-tiba mengajaknya bertemu di taman Istana Hampstead tanpa konteks yang jelas. Ia telah tidak bertemu Aelin selama enam tahun, dan itu tidak apa-apa. Namun, setelah Aelin bertemu Ares, tiba-tiba saja Arne mengajaknya bertemu beralasan rindu. Dahulu, Aelin tidak menyadari maksud tersirat di balik kejanggalan sikap Arne. Secara simpel berpikir gadis itu memang sangat ingin bertemu dengan saudara beda ibunya karena penasaran. Sebab dia berpatokan pada apa yang telah diatur di dalam novel. Arne dituliskan sebagai gadis berwatak polos dan lemah lembut, pikirannya murni sehingga ia tidak akan melakukan hal-hal buruk. Alhasil, Aelin tidak memikirkan asumsi apa pun terhadap Putri Mahkota itu. Akan tetapi, kini mulai terasa janggal hingga pola pikir Aelin terpaksa berubah karena sikap Arne yang memang aneh. Dia telah menyaksikan bagaimana alur novel berubah sedemikian rupa pada diri Ares. Lantas, hal yang sama tidak mustahil untuk terjadi pada diri Arne. Gadis itu diciptakan sangat baik oleh sang penulis, tetapi bahkan tokoh sekeji Ares dapat berubah sedemikian rupa. Alhasil, tidak ada jaminan tokoh baik seperti Arne tidak akan berubah. “Bagaimana kabar Kakak? Kuharap baik-baik saja.” Aelin tersenyum meski dia berharap dia dapat memandang hamparan taman daripada wajah polos Arne. “Baik, terima kasih atas perhatianmu. Bagaimana denganmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.” “Ya, aku baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk menyiapkan segalanya untuk debut. Jantungku berdebar sekali hanya dengan memikirkannya saja.” Aelin tidak pernah menyukai Arne sejak awal membaca kisah “Trash of The Imperial Family”. Gadis itu pasif terhadap penderitaan kakaknya. Hanya bisa bersimpati meski sebenarnya ia bisa melakukan lebih dari itu. Aelinna tidak akan berakhir tewas akibat dikambinghitamkan jika saja Arne lebih sigap melakukan tindakan. Terdampar di dimensi ini dan bertemu langsung dengan Arne hanya membuat perasaan tak sukanya kian membesar karena penilaiannya terbukti benar. Malah justru bertambah buruk. Arne terkesan protektif pada teritorialnya dan apa-apa yang ia miliki, termasuk Ares. Ia seolah menegaskan kepada Aelin bahwa Ares adalah ayahnya dan ialah yang dipilih menjadi Putri Mahkota. Maka, Aelin tidak boleh terlena atau berani berpikir posisinya akan berubah hanya karena Ares tiba-tiba bersikap baik padanya. Sebuah pemikiran yang buruk, tetapi Aelin tidak dapat berhenti memikirkannya. Dahulu, dia akan memendam asumsi negatif itu dalam-dalam. Dia masih memiliki keinginan untuk percaya bahwa Arne benar-benar baik kepada Aelin, ia hanya naif dan pasif. Namun, kini seiring berjalannya waktu perlahan-lahan asumsi negatif tersebut mulai terbukti. Sepertinya, alasan Aelin untuk pergi dari istana bertambah. “Kau akan baik-baik saja. Kau selalu mampu melakukan segalanya, bukan?” tanggap Aelin, masih dengan senyuman yang penuh paksaan. Arne mengangguk, senyuman lebarnya yang bak beruang kecil itu pun merekah. “Terima kasih, Kakak. Dukungan Kakak sangat berarti bagiku.” Aelin dan Arne sedang bercengkrama di taman Istana Hampstead. Sebuah pengalaman pertama bagi Aelin karena dahulu dirinya dilarang keluar dari Istana Clementine. Dia telah menginjakkan kaki di taman itu berkat keusilan Saga enam tahun silam, namun tidak pernah berharap dapat bercengkrama di sana seperti saat ini. Baginya, taman sederhana di Istana Clementine jauh lebih baik. Di sana lebih terasa hangat dan menyenangkan. “Oh, Kakak pasti sudah tahu, tapi aku bertunangan dengan Pangeran Kedua Deltora, Karl Nicholas Zacharias. Kakak pasti pernah mendengar sesuatu tentangnya, bukan?” Aelin mengangguk kecil. “Pangeran jenius dan berwibawa. Sebuah ikon Deltora selain Putra Mahkotanya.” “Benar, benar! Aku tidak sabar dapat berdansa dengannya di pesta debutku. Tetapi, kudengar, nona bangsawan Deltora sangat cantik. Aku takut aku tidak cukup pantas bersanding dengan Karl.” “Jangan khawatir. Kau adalah Putri Mahkota Neuchwachstein, calon Kaisar. Tidak ada yang lebih baik darimu.” Senyuman Arne berubah sendu. “Aku tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkannya. Bebannya sangat besar dan berat. Bayangkan, “Kaisar”, gelar tertinggi di Neuchwachstein, memimpin lima kerajaan besar. Benar-benar menakutkan.” “Wajar untuk merasa takut. Tidak ada yang tidak akan merasa santai bila berada di posisimu, Arne,” senyuman palsu Aelin berubah menjadi tulus, “kau pasti bisa. Karl akan mendampingimu, kau tidak sendirian.” Arne menatap Aelin begitu serius. “Lalu, bagaimana dengan Kakak? Kakak juga pasti akan disampingku, bukan?” Pertanyaan yang cukup sensitif. Untuk berada di Istana Kekaisaran saja terasa sangat mencekik bagi Aelin. Walau dia tidak menderita lagi karena ulah para pelayan yang tidak menghormatinya, tetap saja ketakutannya tidak berkurang. Dia tidak bermasalah lagi dengan Ares, tetapi masih ada Duke Morrison yang pasti akan mencelakainya di kemudian hari. Entah itu saat pesta debut Arne atau lainnya. Berikut juga orang-orang lain yang membenci Aelin dalam diam. Sepertinya, Arne tidak memedulikan hal itu sama sekali. “Ya, semoga saja,” jawab Aelin akhirnya, memilih tidak menjanjikan apa pun. Arne meraih tangan kanan Aelin, menggenggamnya cukup erat. “Harus yakin. Aku tidak ingin sendirian. Kakak sangat berarti bagiku, jadi maukah Kakak berjanji padaku?” Aelin melirik tangannya yang digenggam oleh Arne. Sanubarinya merasa sangat tidak nyaman merasakan kulitnya disentuh oleh Arne. Bukan, bukan merasa jijik atau sejenisnya, melainkan murni tidak nyaman. Entah karena dipicu oleh rasa tidak sukanya atau perasaan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih negatif sehingga respon Aelin sangat sensitif terhadap Arne. “Arne, aku tidak suka berjanji,” ungkap Aelin membuat Arne mengerjap kaget. “Janji itu ibaratnya sama dengan obat penenang yang hanya mengobati sementara. Tidak ada jaminan akan terpenuhi tetapi kerugiannya besar sekali. Walau orang yang dijanjikan tidak berharap itu akan terpenuhi, tetap saja merasa sakit karena teringkari. Aku tidak suka menjanjikan apa pun. Jadi, yang dapat kusampaikan padamu hanyalah aku akan berusaha semampuku untuk tetap berada di sini.”      Sebuah kebohongan, namun apa yang diucapkan terkait janji bukanlah kebohongan. Pada dasarnya, Aelin memang tidak suka berjanji. Dia tidak akan menjanjikan apa-apa kepada semua orang, melainkan membuktikannya. Dia tidak menyukai Arne, tapi untuk hal semacam itu dia tidak akan mempermainkannya. Dia tidak sejahat itu. Usai jeda yang terasa seperti sekian jam, Arne menarik tangannya dari Aelin. Tatapannya sendu menatap cangkir teh miliknya yang masih terisi penuh seiring ekspresi wajahnya beranjak murung. “Benar juga, aku tidak boleh egois kepada Kakak,” tukas Arne, “selama ini Kakak berada di Istana Clementine. Tidak diperkenankan keluar dari sana selain diminta oleh Ayah dan aku. Pasti terasa sulit, bukan?” Kau hanya bisa bersimpati tanpa aksi meski kau memiliki kemampuan untuk mengubah hal itu, batin Aelin, dipendam dalam-dalam. “Tidak perlu mengkhawatirkanku, Arne. Walau terkesan sulit, sebenarnya aku menikmatinya.” Arne mendongak, menatap tidak percaya. “Menikmatinya?” Aelin tersenyum simpul kemudian menoleh ke kanan, menatap hamparan langit biru di balik atap dan dinding rumah kaca. Jemari-jemarinya memeluk cangkir teh. “Aku lahir dan tumbuh di sana bersama Sierra, Freda dan Leah. Awalnya cukup sulit tetapi semua itu berakhir berkat Ayah enam tahun lalu. Di sana memang lebih sederhana, tidak seindah Istana Hampstead. Tetapi, aku menyukainya lebih dari apa pun karena itulah rumahku. Terlebih, semenjak Saga hadir, rutinitasku tidak begitu membosankan lagi di sana.” Tatapan Arne sedikit terbelalak pada Aelin kala nama Saga keluar dari bibir gadis itu. Benak Arne segera dibawa kembali ke masa lalu ketika pertama kali bertemu dengan Saga. Terpatri jelas dalam ingatannya bagaimana sosok Saga yang sangat tidak mengesankan usianya. Alih-alih anak kecil, ia tampak sangat mengerikan seperti orang dewasa yang dapat melakukan apa pun padanya. Arne ingat betapa pekat aura Saga, betapa tajam sorot manik emasnya, dan betapa menakutkannya lelaki itu menatap seolah menyelami sanubarinya dalam diam. Sampai saat ini, Arne tidak berani berhadapan dengan Saga lagi. Memori pertemuan pertama itu telah menumbuhkan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Traumatis? Mungkin saja. Walau saat itu Saga tidak berbuat apa pun selain membawanya kembali ke Istana Hampstead, segala gerak-gerik dan ucapannya sungguh menakutkan. Pemikiran konyol Arne pun melahirkan asumsi bahwa Saga bukanlah penyihir biasa. Akan tetapi, di sisi lain, melihat kedekatan Saga dan Aelin membuat Arne berpikir; “Begitukah rasanya memiliki teman?” “Arne? Ada apa?” Arne tersentak, segera mengerjap cepat. Pandangannya yang mengabur pun kembali fokus pada Aelin yang kini menatapnya kebingungan. “A—Ah, ya, aku baik-baik saja. Maaf, sedikit melamun.” “Sungguh? Jika ada masalah, jangan sungkan—” “Ya, sungguh. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.” Menghalau pemikiran sebelumnya, Arne segera menenggak teh yang sedari tadi dia acuhkan. Gerakannya canggung sehingga dia yakin Aelin masih menaruh curiga dan tanda tanya padanya. Tetapi, setidaknya gadis itu tidak akan mempertanyakannya karena Arne telah memberi batasan. Arne tidak ingin membicarakan sudut pandangnya tentang Saga. Akan tetapi, rasa penasarannya tentang penyihir itu cukup besar. “Kakak sangat dekat dengan Tuan Penyihir Kecil Jenius itu,” cetus Arne usai menenggak setengah isi cangkir. Aelin mengerjap beberapa kali, tampak cukup bingung melihat Arne tiba-tiba menyinggung Saga. “Yah, begitulah. Dia adalah dokter sekaligus temanku. Kedekatan tidak bisa dihindari.” Arne tersenyum. “Kedekatan kalian sangat ramai diperbincangkan para pelayan.” “Begitukah?” dengus Aelin. “Aku tidak tahu apa yang dipikirkan mereka, tetapi Saga bukan tipikal pria manis idaman. Dia sangat menyebalkan. Sikap sombongnya yang suka pamer itu sangat memuakkan. Kau tidak akan pernah tahan.” Arne terkekeh kecil. “Setidaknya, Tuan Saga selalu setia menemani Kakak. Aku bersyukur mengetahui rutinitas Kakak terasa jauh lebih menyenangkan sejak kehadiran si penyihir.” “Astaga, senjata makan tuan. Jika Saga mendengarnya, dia akan mengocehkannya selama berbulan-bulan.” Lalu, mereka tertawa bersama-sama. Pada detik itu, Aelin merasa tawanya tulus. Tidak ada kepalsuan di dalamnya. Mungkin karena itu menyangkut tentang Saga sehingga dia dapat tertawa lepas bersama seseorang yang tidak dia sukai. Sungguh, sudah berapa banyak jasa Saga dalam hidup Aelin? Aelin tidak dapat menghitungnya.   TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD