“Hei, apakah Pangeran Karl masih….?”
Pelayan perempuan yang ditanya oleh rekannya pun mengangguk canggung akibat waspada pada kondisi sekitar, mewanti-wanti tidak ada siapa pun selain mereka. “Ya, begitulah.”
Rekannya segera ikut murung sekaligus takut. “Bagaimana ini? Beliau sangat menyeramkan karena tidak pernah marah. Ini pertama kalinya beliau tampak semarah itu. Beliau tersenyum untuk menyembunyikan kemarahannya.”
“Aku tahu, Rue. Suasana Istana terasa tidak nyaman karena semua orang begitu tegang bersitatap dengan Pangeran.”
Rekannya yang bernama Rue itu pun mendengus jengkel dalam sekejap. “Pangeran pasti menjadi demikian karena kabar buruk yang menimpa Putri Arnemesia. Perubahan sikap Pangeran terjadi tepat di hari kabar buruk itu beredar. Ingatkah kau saat kita membersihkan kamar Pangeran, Jules? ekspresinya sungguh kusut.”
Jules, si pelayan muda yang menjadi rekan Rue sebagai pelayan Karl pun mengangguk. “Pangeran pasti merasa kesal karena tidak dapat segera menemui Putri. Jadwalnya padat bertabrakan dengan kasus di Istana Kekaisaran.”
Rue menghela napas berat. “Kira-kira sampai berapa lama kita harus menghadapi Pangeran? Walau beliau tidak melampiaskan amarahnya, itulah yang membuatnya kian mengerikan. Aku gugup sekali.”
“Mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa berharap suasana hati Pangeran lekas membaik. Semua orang juga mengeluh, ketakutan.”
Sesuai percakapan mereka, Karl sedang dilanda suasana hati yang sangat buruk sejak kabar pengkhianatan Aelin beredar, lebih tepatnya tiga hari yang lalu. Dia tidak terang-terangan menunjukkan kemarahannya, akan tetapi aura gelap yang memancar darinya tidak bisa dibohongi. Dia tersenyum seperti biasa, menyembunyikan kemarahannya. Senyuman khasnya yang selalu memesona berganti kesan menjadi mengerikan karena Karl seolah-olah menunggu bom waktu meledak untuk melampiaskan amarahnya.
“Apa yang kalian lakukan?”
Jules dan Rue terlonjak kaget, spontan berbalik badan, menemukan Karl dan Jesse sedang melangkah menyusuri koridor. Bulu kuduk mereka segera meremang karena berasumsi percakapan mereka terdengar oleh gendang telinga Karl, terlebih lelaki itulah yang barusan menginterupsi mereka.
Tidak kunjung mendapatkan jawaban sampai di detik Karl tiba di hadapan kedua pelayan tersebut, dia mengulangi pertanyaannya. “Apa yang kalian lakukan di sini? Ada masalah?”
Rue segera menggeleng lalu membungkuk hormat diikuti oleh Jules. “Tidak, tidak ada masalah, Yang Mulia. Semuanya baik-baik saja. Maafkan kami karena sedikit lalai dalam bekerja.”
“Tolong jangan lalai. Hari ini, ada cukup banyak tamu yang hadir untuk Ayahanda dan Kakak. Berikan kesan yang bagus.”
“Dimengerti, Yang Mulia.”
Tanpa memberikan respon, Karl melanjutkan langkahnya bersama Jesse menuju perpustakaan. Sama seperti percakapan Jules dan Rue, Pangeran itu meninggalkan aura gelapnya yang tidak kunjung sirna selama tiga hari. Jangankan para pelayan, Jesse selaku sahabat karib sejak kecil pun merasa was-was kepada Karl. Sama seperti orang-orang, Jesse belum pernah menghadapi Karl yang sedang marah. Dan, ia tidak berharap hal itu terjadi.
“Karl,” panggil Jesse sedikit ragu-ragu.
“Apa?” sahut Karl datar.
Sesaat, Jesse ragu untuk menyuarakan keluhannya. Dia belum tahu bagaimana sikap Karl saat melampiaskan amarahnya. Jika keberuntungan tidak memihaknya, bisa jadi dia justru menyinggung Karl dan berujung pada pelampiasan amarah yang mengerikan. Itu sama seperti menyulut api pada sumbu yang telah diredamkan oleh air, memetik masalah yang bisa saja tidak akan terjadi.
Kendati demikian, Jesse merasa tidak tahan lagi berdekatan dengan Karl yang seperti bom berjalan, menunggu durasi hitung mundur ledakannya. Seseorang harus berani melakukannya. Jesse sempat berkonsultasi dengan Ralph terkait Karl, pria itu berkata lebih baik membiarkan amarah Karl mereda dengan sendirinya. Sepertinya, Ralph memiliki ketakutan yang sama, ia takut pada adiknya sendiri meski ia berwatak pemberani. Sebesar itulah dampak yang ditimbulkan oleh Karl.
Benar, seseorang harus berani melakukannya demi kebaikan bersama.
“Apakah kau sedang marah?” tanya Jesse akhirnya, spontan menimbulkan atmosfer menegangkan. “Aku merasa akhir-akhir ini suasana hatimu sedang tidak baik. Jadi, aku ingin tahu, mungkin aku bisa menghiburmu?”
“Aku baik-baik saja,” jawab Karl, penuh kebohongan namun lelaki itu sepertinya berkata sebenarnya. Tampaknya, dia tidak menyadari suasana buruk hatinya menimbulkan aura gelap di sekitarnya.
Jesse spontan menggeleng. “Tidak, tidak, kau tidak baik-baik saja sejak tiga hari lalu—” dia spontan menutup mulutnya seakan-akan baru saja mengatakan sebuah kutukan terlarang.
Karl berhenti melangkah begitu saja, memicu bulu kuduk Jesse meremang ketakutan. Berasumsi bahwa akhirnya bom waktu akan meledak diikuti oleh Karl. Pepatah selalu berkata bahwa marahnya orang pendiam lebih berbahaya. Parahnya, Jesse tidak tahu bagaimana cara mengatasinya!
“Tiga hari lalu?” beo Karl mengutip ucapan Jesse. Lantas, manggut-manggut. “Benar, perasaanku tidak nyaman sejak masalah buruk menimpa Istana Kekaisaran. Aku menduga-duga, apa alasannya?”
Sesaat, Karl diam seolah tenggelam dalam penutusan Jesse seakan-akan apa yang ia ucapkan adalah rahasia besar di kehidupannya. Namun, tentu saja, Karl tidak akan tinggal diam.
“Benar juga.”
TO BE CONTINUED