BAB 22

1086 Words
“Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini.” “Saga, cepatlah selagi antrian belum panjang!” Saga menatap sebal pada figur Aelin berjarak sepuluh meter di depannya. Kerumunan di sekeliling tidak dapat menyamarkan gadis itu sama sekali, ia tetaplah mencolok dengan rambut merah terangnya yang berkilau diterpa sinar matahari. Seolah mendukung auranya, gaun berwarna persik yang ia kenakan membuatnya semakin mencolok meski itu adalah gaun sederhana yang lazim dikenakan perempuan jelata. Saga tidak akan heran. Keluarga kekaisaran memiliki aura pekat secara alami tidak peduli bagaimana tampilan mereka. Itu menjadi salah satu alasan mengapa sulit bagi anggota kekaisaran untuk berkeliaran di luar Istana Kekaisaran. Mereka terlalu mencolok sehingga mudah menjadi incaran para musuh di balik selimut. Hari ini, Saga harus rela menghadapi segala ancaman dari Aelin selama membawa gadis itu berjalan-jalan di kota. Tentu saja, Saga tidak pernah setuju melakukan tugas semacam itu. Dia lebih ingin berleha-leha di Menara Sihir Kekaisaran daripada menemani Aelin pergi ke kota. Lagi pula, dia sudah berkali-kali menolak keinginan gadis itu untuk membawanya keluar dari istana. Namun, entah sihir apa yang digunakan oleh Sierra, Ares memberikan persetujuan atas permintaan Aelin dengan syarat harus didampingi oleh Saga. Alhasil, beginilah akhirnya. “Tidak peduli perputaran zaman, aku tetap benci menginjakkan kaki di sini,” gerutu Saga dalam langkahnya menyusul Aelin yang telah melesat menuju salah satu kios pedagang sate barbeque. Kota yang menaungi Istana Kekaisaran adalah Narfort, dikenal sebagai Ibu Kota Neuchwachstein. Perkembangannya sangat pesat selaku menjadi Ibu Kota Kekaisaran. Mode, perdagangan, teknologi dan pendidikannya tak diragukan lagi. Bagi Saga, Narfort tidak luar biasa, sama seperti kota-kota lainnya. Tetapi, bagi Aelin adalah sebaliknya, itu wajar. Gadis itu tidak pernah mengenal dunia luar istana sehingga mengunjungi pasar kota seolah-olah seperti sedang mengunjungi gedung opera terbaik di tengah kota. “Mau sampai berapa kali kau makan, huh?” cibir Saga kala dia sampai di sisi Aelin yang sedang mengantre di kios barbeque. “Perutmu bisa meledak.” “Kau ini tidak mengerti, ya? Ini adalah kesempatan emas yang belum tentu dapat kumiliki lagi, aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin!” sahut Aelin bernada cibiran seperti Saga. “Lagi pula, seharusnya kau berterimakasih padaku karena berkat diriku kau dapat mangkir dari pekerjaanmu di Menara Sihir. Aku tahu di sana pasti merepotkan.” Saga mendengus. “Lebih baik aku terjebak bersama penyihir-penyihir bodoh di sana daripada menemanimu di sini.” Aelin menoleh, cemberut. “Apa katamu?” Saga menoleh ke sisi kiri, manik emasnya menyorot tidak minat selagi melipat tangan di d**a. “Apa yang menyenangkan dari berjalan mengelilingi Narfort? Kota ini tetap sama menyebalkannya meski waktu telah lama berlalu.” “Dengar, kau bisa berbicara sombong seperti itu karena kau bebas pergi ke mana pun. Tapi tidak denganku, jadi bagiku ini menyenangkan. Berhenti menghina kebahagiaanku.” Saga mendengus kembali seraya menoleh ke kanan, menatap Aelin yang mendelik padanya. “Ya, ya, setidaknya aku paham alasan simpel dari sesuatu yang kau anggap luar biasa ini.” “Tidak bisakah kau bersikap lebih lembut padaku setidaknya untuk hari ini saja?” “Tidak. Aku tidak peduli kau sedang bertambah usia atau semacamnya, aku hanya ingin ini segera selesai dan kembali ke istana.” “Cih, apa bedanya kau dengan ayahku?” Saga menyeringai. “Setidaknya kau harus bersyukur karena aku tidak memasang rantai kekang di lehermu demi membebaskanmu berlarian seperti anak bodoh di sini.” Aelin mengernyit jijik bercampur merinding. “Kau anggap apa manusia di matamu, huh?!” “Makhluk merepotkan,” tukas Saga lugas lalu mendorong Aelin maju karena giliran mereka telah tiba seraya menyelipkan koin pada gadis itu. “Segini cukup.” Seolah diatur otomatis, wajah Aelin berubah sumringah akibat perhatiannya dialihkan ke barbeque. Dengan ceria memesan jajanan itu seolah tidak terjadi apa-apa. Mudah sekali mengalihkan perhatian gadis itu, pikir Saga. Sekian bulan kebersamaan mereka, Saga sudah merasa cukup mengenal watak Aelin. Tidak mengherankan, gadis itu seringkali tidak sengaja sangat terbuka tanpa ia sadari. Mungkin ada beberapa hal yang tidak seharusnya ia katakan namun tanpa sadar itu terlontarkan begitu saja. Haruskah Saga menuruti permintaan Aelin untuk bersikap lebih lembut padanya? Lihatlah Putri Terbuang itu, tersenyum lebar hanya karena membeli jajanan rakyat jelata. Selain mudah mengalihkan perhatiannya, mudah juga membuatnya bahagia. Terkadang Saga berpikir betapa simpelnya diri Aelin. Gadis itu mudah ditebak dan dibaca seperti buku yang terbuka lebar. “Kudengar ada toko aksesoris terkenal di kota. Saga, ayo ke sana,” ajak Aelin saat barbeque-nya tersisa satu tusuk. “Terserah, aku hanya menemani,” sahut Saga malas, duduk di sisi kanan sang Putri yang sungguh riang hanya karena memakan jajanan pasar kota. Aelin menoleh, pipinya menggembung. “Kau tidak memiliki tempat yang ingin dikunjungi? Kita bisa ke sana bersama-sama.” “Tidak, tidak ada yang baru di Narfort.” Alis Aelin naik sebelah, mulai heran. “Kau berkata seolah-olah kau sudah mengunjungi seluruh tempat di sini.” Saga melirik. “Memang. Makanya, aku ingin kau segera selesai dengan tur kecilmu ini.” Aelin mendengus seraya membuang muka dari Saga. Bersungut-sungut pada barbeque yang tersisa. “Kau ini teman kencan yang buruk, kau tahu? Tidak ada yang akan menyukaimu, Saga.” “Terima kasih sudah mengingatkan, tapi aku tidak akan pernah berkencan,” ledek Saga diiringi seringai usai menoleh pada Aelin. “Seharusnya kau bersyukur karena memiliki kesempatan ditemani olehku. Tidakkah kau menyadari sudah berapa kali aku dipandangi oleh gadis-gadis kota?” “Sifat narsismu menjijikkan.” Bohong, Aelin menyetujui pertanyaan narsis Saga karena pada kenyataannya itu adalah fakta. Sejak mereka memulai perjalanan di kota, banyak sekali gadis-gadis seumuran mau pun lebih tua menaruh perhatian pada Saga entah disengaja atau tidak. Sorot mata mereka begitu terpana hingga Aelin merasa heran dengan bagian mana dari diri Saga yang dapat dikagumi. Dia akui Saga cukup tampan, tapi apakah memang setampan itu untuk sampai menjadi pusat perhatian? Yah, perbedaan pengalaman. Aku mengenal sifat-sifatnya yang menjengkelkan jadi dia tidak terlihat tampan sama sekali, batin Aelin sembari mengunyah potongan terakhir daging barbeque kemudian turun dari bangku, bersiap pergi ke tempat selanjutnya. “Aku ingin pergi ke gedung opera dahulu. Kudengar akan ada pertunjukan dari artis-artis terkenal di sana,” ujar Aelin seraya merapikan gaun dan rambutnya. Saga turun dari bangku. “Begitu? Baiklah.” Tanpa aba-aba, Saga menggandeng tangan kanan Aelin lalu membawanya melangkah ke gedung opera di tengah kota. Sikap aneh itu membuat Aelin mendelik kaget dan bersemu bukan main. Otaknya mencerna cukup lama sebelum menyadari tangannya digandeng oleh Saga dan dia tidak bisa memberontak. Apakah dirinya disihir lagi oleh lelaki itu agar menuruti kemauannya? Aelin menatap tangan mereka yang saling bertaut. Apa yang merasuki penyihir bodoh ini?   TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD