Penyesalan

1188 Words

 Santi bergegas keluar dari ruangan itu. Ternyata kedua orang tua Kanaya sudah tiba saat Santi keluar dari ruang intensif. “Santi, bagaimana keadaan Kanaya?” tanya Shita. Air matanya sudah mengering. Ia tidak henti-hentinya menangis selama perjalanan ke rumah sakit. “Kanaya belum siuman, Tante. Lukanya cukup parah jadi perlu tindakan lebih lanjut.” Shita hampir terjatuh ke lantai andai saja Daniel dan Sebastian tidak cepat menangkap tubuhnya. Sebastian menggiring sang istri duduk di kursi besi. Ia coba menenangkan Shita yang wajahnya berubah pucat. “Pa, Kanaya kritis,” kata Shita. Tangisnya pecah saat Sebastian memeluknya. “Ma, jangan menangis lagi. Papa yakin Kanaya bisa keluar dari masa kritisnya. Dia anak yang kuat.” Sebastian memeluk Shita yang menangis tanpa henti. Begitu jug

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD