Rencana Angela

1324 Words

Ciuman pagi tadi masih membuat Kanaya terheran-heran. Ia seperti mengingat sebuah kejadian di masa lalu. Kanaya terus berpikir sampai kepalanya pening. Ia masih belum mengingat satu pun moment saat bersama Max. Andai ia memiliki buku diary yang bisa menjadi petunjuk bagaimana perasaan dulu ketika mengenal Max. Ponsel Kanaya berdering, ia segera mengambilnya. Hampir saja ponselnya terjatuh saat melihat nama pria itu muncul pada layar. Kanaya pikir Max tidak akan  menghubunginya. “Halo,” sapanya dengan suara pelan. “Saya sudah di depan sekolah.” Kanaya menjauhkan sedikit ponselnya. Ia pikir Max tidak akan menjemput. “Kanaya kamu tidak pulang?” tanya Bu Rastri yang masih mengerjakan sesuatu di meja kerjanya. “Eh? I-iya, saya pulang sekarang. Permisi, Bu.” Bergegas ia mengambil tas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD