Jelang Pelantikan

1001 Words
"Berbaris yang rapi Brigadir!" ucap seorang panitia seleksi kepadanya membuat Kate langsung kembali fokus di dalam acaranya ini. Hening dan sangat senyap. Aula besar berkapasitas satu ribu orang ini mendadak seperti kuburan. Kate berdiri tegap di dalam barisannya. Ketegangan mendadak menyelimuti sekujur tubuhnya saat pembawa acara mengumumkan kdatangan Komandan B. "Hormat grak!" Komando dari pemimpin acara ini langsung menghentak smeua orang dalam parade hormat yang sangat takjim. Semuanya terdiam dalam sikap hormat sempurna menyambut kedatangan Komandan Pasukan Elite termuda dalam sejarah negara ini yang biasa disebut Komandan B. "Istirahatkan!" Suara barithon yang khas dan sangat dikenali Kate mendadak menyahut. Membuat sekujur tubuh Kate meremang. "Tegak grak!" "Istirahat ditempat grak!" Kate tak berani mengalihkan pandangannya ke arah suara, dia memilih tetap di tempatnya meski kini suara barithon itu tengah memberikan pemaparannya. Suara yang sangat berwibawa, siya dengan sosoknya yang juga sangat penuh kharisma. Untuk kali kesekian, Kate berada sangat dekat dengan sosok paling ditakuti di negeri ini. Pengaruh luar biasa seorang Komandan B, membuat seluruh ruangan terhipnotis. Sial untuk Kate karena dia justru cegukan disaat seperti ini. "Ada yang ingin kau katakan Brigadir?" tanya Komandan B yang langsung tertuju kepadanya membuat semua orang pun seolah ikut mengawasinya. "Siap salah! Siap, aku tidak ingin mengatakan apa-apa," ucap Kate tetap berusaha sigap. "Bagus! Itu adalah salah satu contoh dari pasukan elite ceroboh yang akan membuat bahaya seluruh misi, kalian paham?" ucap Komandan B sambil tersenyum. "Siap paham Komandan!" *** "Kau memang si pembuat onar," ucap seseorang kepada Kate. Acara jamuan Komandan selesai dan kini semua orang tengah bersiap mendengarkan pengumuman. "Maafkan aku, itu adalah hal alami yang tidak bisa aku prediksi," ucap Kate mencoba membela diri. "Sayang sekali, karena hal alami seperti cegukanmu itu bisa membuat misi kita gagal bukan?" ucap rekan tak dikenalinya itu menambahkan. Kate hanya mengangguk mengiyakan sambil terus berjalan mengikuti arahan panitia. "Di sini tmpat sekarang kalin bersiap! Ada waktu setengah jam untuk kalian mendapatkan kelengkapan pribadi kalian yang kami simpan secara random di kamar ini. Kunci yang dibagikan tadi adalah jalan kalian menemukan pakaian dan juga kelngkapan lainnya yang harus kalian gunakan dalam acara pelantikan dua puluh sembilan menit lagi dari sekarang. Jika aku jadi kalian, aku akan segera mncarinya, Now!" ucap senior tersebut sambil terus mengawasi pnghitung waktu mundur di tangannya. "Apa? Sekarang?" ucap rekan di sebelah Kate tak kalah terkejut. "Baiklah Catherine! Kita lihat hasil pekerjaanmu!" guman Kate sambil melangkah masuk menuju kamar ganti tersebut untuk menemukan lokernya. Sesampainya di dalam, Kate terhenyak kaget beserta lima orang lainnya yang juga bergeming di depan sebuah locker raksasa yang memenuhi skeliling dinding ruangan ini. "Menurutmu kita akan berhasil menemukannya?" tanya seseorang kepadanya. Kate menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. "Ini seperti menemukan jarum di dalam tumpukan jerami," ucap Kate sambil memperhatikan kunci ditangannya. Lima kunci yang dipegang empat orang lain yang kini bersamanya, membuat perbandingan antara jumlah loker yang mncapai tiga ratusan loker itu menjadi sangat jauh. Satu demi satu rekannya mulai mencoba daun pintu loker dengan kuncinya. Merka berusaha mendapatkan lebih cepat. Tapi Kate, wanita itu memilih tetap tenang dan diam. "Pasti ada rumus yang mereka selipkan untuk membuka dengan cepat. Tiga ratus lima puluh loker, dalam setengah jam? Itu mustahil untuk mencoba semuanya dengan kmungkinan yang hanya 5:350 itu. Tunggu dulu!" ucap Kate yang mengingat angka di buketnya itu. "LT 1/14 LT 1/1. Apa ada hubungannya?" ucap Kate smabil brusaha menmukan ptunjuk lainnya. "DONE!" ucap Kate saat melihat di salah satu sudut terdapat dua titik pintu loker yang berhadapan dan memiliki nomor 1 di salah satunya. "Thanks," ucap Kate ketika dia memastikan jika LT 1/14 itu adalah kode posisi loker miliknya. Kate kemudian berjalan dengan cepat ke arah kanan ruangan. Dia langsung memasukkan kunci padaloker yang dimaksudnya. Pintu terbuka dan Kate sangat senang mendapatkan pakaiannya. "Kau mendapatkannya? Padahal kau hanya diam mematung dan .... kau menghitung?" ucap seorang rekan kepadanya. Kate kemudian menyapukan senyuman di wajahnya. Merka semua berhasil mendapatkan pakaian untuk acara pesta malam ini. "Kau sangat seksi sekali, aku yakin meski kau gagal ... akan ada perwira polisi yang menggandengmu ke penghulu kawan," ucap salah satu rekan di dekatnya kepada rekan lainnya yang tengah mengenakan gaun berwarna merah itu. "Kau bisa saja, lihat dirimu ... kau juga sangat manis dengan gaun sabrinamu itu." Satu demi satu, rekannya sudah pergi ke aula kembali. "Kau belum siap?" tanya senior di luar kepadanya. "Aku hampir selesai.," ucap Kate. Dia bukannya belum siap, tapi ... gaun hitam yang dikenakannya kali ini begitu ketat dan juga berbelahan tinggi pada bagian kaki dan juga punggungnya membuat Kate gusar mengenakannya. *** Ruangan kerja Komandan B. "Komandan, semua sudah siap," ucap ajudannya kepada Bryan. "Apa gadis itu juga sudah siap?" tanya Bryan sambil mengetatkan dasi kupu-kupunya. "Tentu, dia sudah menemukan gaunnya," jawab sang ajudan. "Baiklah," Bryan melangkah meninggalkan ruangannya, dia kemudian bergabung dengan sejumlah Jenderal Kepolisian yang juga akan menghadiri acara pelantikan pasukan elite tersebut. Sejumlah petinggi di Kepolisian telah berkumpul di bagian depan aula. Bryan mnyalaminya satu demi satu. "Komandan Bryan, senang bertemu denganmu," ucap seorang Jenderal senior menyapanya. "Siap Jenderal, maafkan aku atas jamuannya yang mungkin kurang berkenan," ucap Bryan balas menyambutnya. "Dan ini, Audrey putriku," ucap Jenderal tersebut mengenalkan seorang wanita muda disebelahnya.kepada Bryan. "Audrey, Komandan B," ucap wanita dengan gaun sangat seksi dan ketat itu sambil menyodorkan tangan kanannya kepada Bryan. Disaat yang bersamaan, netra Bryan justru mengunci sosok yang baru saja keluar dari ruangan ganti peserta seleksi. Seorang wanita dengan gaun panjang berwarna hitam berblahan tinggi hingga mencapai paha dan juga punggung yang terbuka itu melangkah di kejauhan. 'Manis sekali,' gumamnya. Bryan tersenyum manis dan sangat manis sekali memandanginya. "Ekhem," Suara deheman sang Jenderal senior disebelahnya membuyarkan lamunan Bryan. "Maaf," ucap Bryan sambil melepaskan tangannya dari gengaman tangan Audrey. "Kau masih harus melihat situasi, Nak. aku tahu, putriku memang sangat memepsona. Dia mewarisi darah Rusia dari sang Ibu, membuatnya tidak hanya cantik tapi juga sangat pandai melayanimu, aku akan sangat bahagia menjadi wali kalian berdua," ucap Jenderal tersebut panjang lebar. Bryan meneguk salivanya berulang kali. Sementara di depannya, Audrey terlihat tersipu malu telah salah paham dengan apa yang terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD