bab 14

1087 Words
Bastian masih menunggu Ririn, di ruang kerja nya, ingin marah dan bertanya apa maksud nya melakukan semua ini, kenapa dia sengaja memilih diri nya untuk menggunting pita? bukan di acara resmi yang di tayangkan di stasiun tv mana-pun. Bastian tidak menjawab panggilan telepon dari Nisa, dia masih bertanya tentang kenapa, kenapa dan kenapa, tangan nya menggenggam erat hp nya. Terdengar bunyi pesan dari hp Bastian, dan pesan itu dari Nisa. “kenapa kamu diam saja? Aku dipermalukan oleh istri tercinta mu! Kamu pria lemah, kamu tidak di pantas di sebut laki-laki, kalau kamu tidak memberi Ririn peringatan, aku akan menggugurkan anak ini!” Nisa sudah kehabisan akal,dia hanya bisa menyerang Ririn melalui Bastian. “silahkan Nisa, akan lebih mudah buat aku untuk membuang mu jauh dari hidup ku!” Bastian tahu jika ancaman seperti ini hanya untuk membuat nya panik, sehingga akan menyakiti Ririn dengan perkataan dan perbuatan nya. “kamu jangan mengancam ku mas.” Balasan dari Nisa “aku masih sangat mencintai ririn, jika kamu mau menggugurkan janin itu, semua nya hak kamu, akan lebih bagus lagi kan? Aku bisa lepas dari mu,kemudian memperbaiki rumah tangga ku lagi,jangan pernah mengancam ku dengan janin yang ada dalam rahim mu.” Bastian semakin geram dengan apa yang di katakan oleh nisa melalui pesan di hp nya,dia sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Nisa. Nisa yang merasa tidak di acuhkan bastian, sangat marah dan ingin membalas Ririn lebih dari ini. “puas kamu menjatuhkan harga diriku Ririn? Kamu akan menangisi semuanya, bastian akan menjadi milik ku, dan aku akan menyingkirkan mu, kamu tidak ada apa-apa nya dengan aku!” nisa masih sangat malu bertemu dengan karyawan yang lain nya. Di ruang meeting Ririn “terima kasih atas undangan istimewa ini buk Ririn, saya tidak sabar untuk segera memakainya.” Ucap salah seorang wanita yang berstatus istri pengusaha yang sudah tidak bisa berpaling ke butik lain. “saya juga sangat penasaran dengan hasil nya nanti buk.” Ririn mengusap-usap kedua tangan nya, seakan-akan ini adalah karya yang sangat mendebarkan perasaan nya. “saya percaya kamu mbak, karya kamu tidak ada lawan nya.’ Ucap seorang artis senior, membuat ririn kembali tersenyum dengan sangat bangga. “terimakasih loh mbak, saya akan membuat karya terhebat lagi dan lagi, kalian hanya akan melihat karya terbaik dari Ririn.” Ririn membanggakan dirinya yang sangat multitalenta dalam segala hal. Para tamu undangan dari kalangan artis,pengusaha dam istri petinggi negara pamit kepada ririn, dengan senang hati Ririn ,mengantarkan semua pelanggaan nya keluar dari butik nya. Ririn masuk lagi ke dalam butik nya, setelah semua pelanggaan nya pulang, melihat Nisa tidak ada di depan mesin jahit membuat Ririn kesal sekali. “keke, Dimana nisa? Apa dia makan gaji buta? Ini jam bekerja, bukan jam tidur, panggil dia untuk bekerja, jika dia ingin tidur- tidur silahkan keluar dari butik ini.” ririn sengaja meninggikan nada suaranya, karena melihat Bastian di dalam ruangan nya. “saya akan memanggil nya buk.” Keke pamit dan memanggil Nisa. Ririn masuk ke dalam ruangan nya, dia melihat Bastian yang sedang menunggu nya, mengacuhkan nya begitu saja, kemudian memilih duduk di meja kerja nya, tidak menanyakan suaminya sudah makan atau belum. “sayang.” Bastian memanggil ririn dengan panggilan kesukaan nya. “heeemm.” Mata nya terus fokus pada laptop nya, membuat design lagi. “bisakah kamu menjaga harga diri ku di hadapan orang ramai? Tadi itu memalukan sekali bagi ku.” Bastian harus mengatakan keberatan nya pada Ririn, memendam masalah hanya akan menambah keretakan di rumah tangga bastian. “siapa yang mempermalukan kamu, sedari kamu menggunting pita, aku hanya mendengar ini, “ kenapa leher wanita itu, dasar wanita tidak tahu malu, apa suaminya seorang predator, atau jangan jangan wanita itu seorang penghibur pria tua bangka?” lantas aku harus menjawab apa, hemmm, bisa kamu yang menjawab nya?” Ririn menatap bastian yang memang menunjukkan kemarahan nya, tapi bagi Ririn sama sekali tidak menggoyahkan hati nya. “aku merasa masalah ini tidak ada yang serius, jadi jangan di ambil pusing dan kenapa kamu cemas begini?” Ririn tertawa mengejek,dia sangat pintar memutarbalikkan perkataan bastian. “bukan begitu sayang,” bastian mencari alasan yang tepat, dia merasa seperti seorang maling yang baru tertangkap basah, semua tingkah nya menjadi salah di hadapan Ririn. “kalau bukan itu, lalu apa? kamu aneh bastian,Nisa saja tidak malu, kenapa kamu yang malu? Ririn masih sangat marah kepada Bastian, jika berteriak pada Bastian mungkin dia sudah bisa melampiaskan amarahnya, “sebaiknya kamu kembali bekerja bas, ini sudah hampir pukul 2 siang.” Ririn mengacuhkan bastian, dia melanjutkan pekerjaan nya. "cara kamu ini memalukan sekali Ririn, aku sampai meninggalkan pekerjaan ku,hanya untuk bisa bicara dengan mu!" Bastian tampak kecewa dengan perlakuan Ririn yang sangat dingin kepadanya. "caraku memalukan? kamu ada hubungan apa dengan Nisa sehingga kamu berani mengatakan aku mempermalukan mu?" Ririn membalik mempertanyakan hubungan Bastian dengan Nisa, seolah-olah dia ingin mendengar langsung jawaban dari Bastian. "kami tidak mempunyai hubungan apapun, tapi kenapa kamu melakukan itu kepadaku?" Bastian masih berbohong menutupi siapa Nisa,ada hubungan apa dengan Nisa semua masih tersembunyi rapat dari mulut Bastian. "jika kamu tidak memiliki hubungan kenapa kamu marah kepada ku,bas?" Ririn mengusap rambut Bastian, tapi matanya tampak sangat marah. Bastian tidak bisa menjawab apapun, dia hanya mau penjelasan dari Ririn kenapa harus dia yang memotong pita tadi. "kamu terlalu berlebihan Bastian, memotong pita itu sudah hal biasa bagi kita, mempertunjukkan desain baru yang akan dipamerkan di depan orang banyak, kamu seperti tidak pernah melakukannya?" Ririn tersenyum mengejek Bastian, entah mengapa melihat wajah Bastian ini membuat dia merasa muak. "kenapa kamu sangat berubah Rin?" Bastian masih merasa tidak bersalah dengan apa yang dilakukannya terhadap Ririn. "aku tidak berubah sayang, tidak ada yang berubah,perasaanmu yang mengatakan jika aku berubah karena kamu melakukan kesalahan mungkin di belakang aku, tapi aku yakin kamu tidak melakukan itu di belakangku, kamu masih sangat mencintaiku kan bas?" Ririn masih mengusap pipi Bastian yang tampak pucat sekali, entah terkejut dengan perkataannya atau mungkin dia sedang sakit. "Ririn percayalah kepadaku, Aku hanya mencintaimu seorang, tidak ada wanita lain yang bisa menggeser kamu dari hatiku, jangan lagi ragu kepadaku, percayalah seperti biasa sayang." Bastian masih memerankan perannya dengan sangat baik, hingga ririn saja terkesima dengan apa yang dikatakan oleh Bastian, Ririn ingin tertawa dengan sangat keras di hadapan Bastian, tapi Dia lebih memilih untuk mengacuhkan apa yang dikatakan oleh Bastian. "Aku sangat mencintaimu Rin, hanya Kamu." Bastian menggenggam erat tangan Ririn meyakinkan jika memang cintanya hanya milik Ririn seorang, mencoba menenangkan istri nya, meskipun sebenarnya sudah tahu semua itu bukan dari hati Bastian
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD