bab 8

2000 Words
Lagi-lagi Ririn harus kecewa lagi dengan perbuatan Bastian, bagaimana bisa pria itu memberikan Nisa uang, dan apa alasan nya. "Kamu mau kasih kejutan apalagi sih Bastian?" bagaimana pun dia harus meminta penjelasan pada Bastian,tapi mengingat jika suaminya akan kerja ke luar kota,dia mengurungkan niatnya, sampai Bastian pulang dari luar kota . "Jangan sampai kalian berdua melakukan nya kepada ku, aku akan membuat kalian berdua menyesal!" Ririn mengepalkan tangannya erat, hatinya seperti dihantam batu besar. Di rumah Nisa  Nisa masih sibuk dengan rasa bahagia nya, dia bisa membawa Bastian lagi ke dalam pelukan nya. Bastian pasti tidak akan bisa lagi lepas dari Nisa, karena yang dia dapatkan dari Nisa tidak pernah dia dapatkan dari Ririn. "Ternyata di balik kesuksesan dan kebahagiaan yang kamu pertunjukan di hadapan orang banyak, ada suami yang tidak pernah bisa kamu puaskan Ririn." Nisa tertawa bahagia, merasa mendapatkan harta yang sangat berharga. "Bastian akan tetap menjadi milikku, dia akan terus mencari ku, karena dia tidak pernah menikmati hubungan suami istri dengan Ririn. " Nisa kembali bahagia sekali, dia sedang berpikir nasib baik berpihak padanya. hp Nisa bergetar dan dia tidak tahu itu nomor siapa, Nisa mengacuhkan nya, dia berpikir itu hanya orang iseng atau salah sambung. "Mobil aku sudah beres nggak ya? Tunggu dulu, aku kan tidak tahu mobil aku di bawa kemana oleh mas Bastian." Nisa mengambil hp nya, dia membuka pesan dari nomor baru, ternyata itu dari bengkel tempat mobil Nisa sedang diperbaiki. "Oh di sini ya." Nisa mengambil tas nya, dia memilih untuk naik ojek on-line saja. ** Ririn menghubungi Linda, dia tidak tahan jika hanya menanggung masalah ini sendiri. "Hallo Lin, kamu dimana?" Ririn berharap jika Linda sedang di rumahnya,dia ingin segera ke rumah Linda. "Hallo Rin, aku sedang ada di luar kota, aku mau cerita sama kamu, untung kamu hubungi aku." Linda yang panik,merasa lega karena Ririn menghubungi nya. "Kamu kenapa? Apa ada masalah? Kanu sakit?" Banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Ririn, sehingga dia lupa kalau dia mau bercerita perihal Bastian kepada Linda. "Rin, aku tadi ada operasi kecil di rumah sakit desa, tapi pasien aku pendarahan hebat, ini keluarganya sedang mengusahakan agar pasien di bawa ke rumah sakit kota. Aku kayaknya sampai tengah malam di rumah, kamu bisa temani mama aku Rin, dia baru datang dari luar Negeri." Linda berharap jika Ririn mau membantunya. "Iya pasti aku mau lah, Bastian juga keluar kota selama seminggu, aku nginap di rumah kamu ya." Ririn berharap bisa bercerita banyak pada mama Linda, yang sudah seperti mama nya sendiri. "Kamu serius?" Linda tampak sangat bahagia, sudah lama dia rindu dengan suasana seperti ini. "Iya Lin, kita habiskan waktu kita, kayak dulu lagi." Ririn tampak sangat bersemangat sekali,lupa dengan kesedihannya tadi. Ririn melihat jam tangannya, dia memutuskan untuk . memeriksa jahitan kebayanya dulu di bagian ruang pakaian. Keke yang sedang sibuk, tidak bisa menemani Ririn. Masuk ke dalam ruangan khusus menjahit yang di jaga kebersihan nya, karena Ririn tidak mau ada yang kotor nantinya di kebaya pelanggann nya. Saat Ririn tengah asyiknya di ruang menjahit, Bastian datang untuk pamit dulu kepada Ririn sebelum di pergi "Maaf pak, ibu Ririn di ruang menjahit, mau saya panggilkan pak?" keke yang melihat Bastian masuk dan hendak akan masuk ke dalam ruangan Ririn. "Biar saya saja." Bastian tersenyum hangat pada Keke, dia berlalu dan mengetuk pintu ruang kerja Ririn. "Sayang." Bastian membuka pintu,dia menghampiri Ririn. "Ngapaen kesini?" Ririn yang tadinya sudah lupa teringat lagi dengan uang yang dikirim ke rekening Nisa. "Aku mau berangkat sayang,kamu lupa." Bastian bingung sendiri, kenapa Ririn bisa lupa dengan keberangkatannya ke luar kota. "Oh iya,maaf,maaf, aku lupa. Kita bicara di ruangan aku saja." Ririn menarik tangan Bastian keluar dari ruangan menjahitnya. "Kamu harus banyak istirahat sayang,jangan memaksakan diri terus,kamu harus ingat jika ada suami kamu, yang bisa memenuhi semua keperluan hidup kamu." Bastian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, berpikir jika Ririn sangat kelelahan dengan pekerjaannya. "Tapi aku juga harus ingat,kalau suamiku itu seringkali memberikan uang kepada orang yang tidak aku kenal, kamu kenapa baik sekali sih." Sindiran di sertai dengan senyuman yang di kira Bastian hanya candaan biasa. Masuk ke dalam ruangan Ririn, bukannya memeluk suaminya, dia malah merapikan mejanya, karena dia juga akan pergi setelah Bastian pergi. "Aku pergi dulu, kamu hati-hati dirumah ya, jangan terlambat makan dan kerja nya jangan sampai lupa waktu." Bastian memeluk istrinya dari belakang. “aku akan sangat merindukan kamu sayang.” Bastian menciumi punggung Ririn, dia sangat akan rindu pastinya. “hahahha.” Ririn tertawa dengan sangat kencang, dia rasa nya ingin mencaci maki bastian, tapi karena pria itu akan pergi kerja, dia mengurungkan niatnya untuk itu. “kamu nggak tahu? Aku juga pasti akan sangat rindu kamu sayang.” Ririn membelai tangan yang sedang melingkar di perutnya. “terima kasih masih merindukan aku.” Bastian tampak sangat sennag sekali dengan apa yang dikatakan Ririn. “pasti sayang, kamu cepat kerjakan kerjaan kamu, dan segera kembali ke sini ya.” Ririn ingin melemparkan gelas tepat di kening Bastian, tapi dia masih bisa menahan dirinya. “aku pasti akan kembali sayang, secepatnya.” Bastian membalikkan badan Ririn memberikan ciuman di pipi, kening dan bibir Ririn. “sayang, kalau kamu pulang nanti, aku tidak mau ada kejutan lagi ya.” Ririn merapikan baju suaminya, sambil tersenyum penuh arti. Bak di sambar petir, bastian merasa berdosa lagi telah berbuat zinah di belakang Ririn, tanpa sepengetahuan istri nya, apa ini yang dimaksudh oleh Nisa, bastian hanya bergumam dalam hatinya, dia tampak sedikit gugup, tapi senyuman nya berhasil menutupi rasa canggung itu. “kamu bisa telat, kalau melamun gitu.” Ririn melepaskan pelukan nya dari bastian, dia duduk di kursinya,meinggalkan bastian yang masih terdiam. “aku berangkat dulu sayang.” Bastian mencium kening Ririn lagi, tapi tidak ada balasan dari Ririn. “hati-hati di jalan, jangan buat aku jadi janda ya.” Ririn lagi lagi membuat bastian enggan meninggalkan Ririn,”upss,,maaf  sayang, lebih baik jadi janda karena suami aku meninggal sih, daripada jadi janda karena suami main wanita di belakang istri!” Ririn tersenyum lagi, dia tidak melihat ekspresi dari bastian, “jaga diri kamu, jangan terlambat makan.” Bastian pun pergi meninggalkan ruangan Ririn, sangat sakit rasanya mendengarkan ucapan Ririn. “sejak kapan kamu menjadi wanita kasar begini Rin.” Bastian masuk ke dalam mobilnya, dia keluar meninggalkan butik Ririn, “saat akan menuju jalan besar, mobil Nisa dan mobil Ririn berpapasan,Nisa berhenti karena dia sangat tahu, mobil milik bastian ini. “mas, kamu sudah mau berangkat ya.” Nisa berhenti tepat di sebelah bastian, hingga mereka bisa saling tegur sapa. “iya.” Jawab bastian singkat, dia masih memikirkan perkataan Ririn. “sayang, papa kamu mau pergi bekerja, kamu baik-baik yang diperut mama, kalau rindu sama papa, kita tunggu saja papa datang.” Nisa melanjutkan perjalanan nya ke butik Nisa. “kenapa tidak di perut Ririn, benih itu hadir.’ Bastian benar-benar dilema dengan keadaan nya. Dia terus melanjtukan perjalanan nya ke rumah saudara laki-laki nya, karena mereka akan berangkat bersama. “semoga saja aku hamil benaran, aku kan bisa memiliki mas bastian seutuh nya, dan kami akan hidup bersama-sama untuk membesarkan anak kami nanti, dan buat kamu Rin, bye.” Nisa tersenyum sekarang, luka Ririn adalah kebahagiaan nya sekarang. Dalam perjalanan menuju rumah saudara laki-lakinya, Bastian melihat hp nya, tidak ada panggilan dari Ririn, biasa nya jika Bastian pergi keluar kota begini, Ririn akan menangis kesepian,sampai bastian harus menenagkan nya dulu, baru dia bisa pergi. “ada apa dengan Ririn, apa dia tahu? Tapi dia tidak marah, sepertinya pekerjaan nya terlalu banyak, aku akan membawa dia bulan madu,setelah aku pulang dari luar kota.” Bastian menghembuskan nafasnya panjangm keinginan nya sebagai pria dewasa tersalurkan pada Nisa, tapi dia tidak bisa tenang setelah kejadian nya tadi bersama Nisa. 10 menit berlalu Bastian sampai di rumah saudaranya, dimana di situ juga ada orang tua Bastian. “apa yang akan dikatakan mama lagi kali ini.” Bastian bersandari di kursi mobilnya, menatap ruamh yang ada di hadapan nya ini, rumah yang diberikan Ririn kepada kedua orangtua bastian, saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan. Bastian turun dari mobil, dia masuk ke dalam rumah, dan melihat para keponakan nya sedang bermain di teras rumah. “om babas.” Teriak Darel dengan sangat senang, anak laki laki berusia 9 tahun yang sangat sayang kepada bastian apalagi Ririn. “mana tante Ririn, mana?” Darel melihat tidak ada lagi yang turun dari mobil. “tante lagi sibuk sayang, kamu ngerti kan jagoan.” Bastian menggendong darel, duduk di bangku yang kosong, ada juga bayi kecil berusia 4 bulan yang sangat lucu bernama Dilla. “hei anak manis, sayang nya om babas.” Bastian menggendong Dila dan mencium pipi nya. “aku panggil mas Harry dulu Bas.” Kakak ipar bastian yang sangat baik kepada Ririn. “ya mbak, silahkan.”  Bastian merasa sangat bahagia, melihat Dila. “seandainya Ririn hamil saat itu, mungkin anak aku udah 3 tahun.” Bastian merasa sangat sedih di hatinya, dia teringat nisa yang pura-pura hamil. Ada senyum di bibir Bastian. “aku juga akan punya anak, Nisa sudah janji akan pergi sejauh mungkin, jika nanti anak itu lahir.” Bastian memeluk darel yang sedang asyik bercerita tentang  sekolah nya, sedangkan Dila sibuk mengamati wajah bastian. “nak, kamu kenapa tidak masuk ke dalam, sapa mama dan papa.”  Rina, mama bastian menghampiri anaknya yang tak kunjung masuk ke dalam rumah. “maaf ma, aku langsung sibuk ama dua anak kecil ini.” bastian berdiri dan mencium pipi mama nya. “belum hamil juga, sudah 4 tahun loh ini, kenapa kamu masih betah sih?’ muali memanas-manasi bastian dengan keadaan Ririn. “belum ma.” Jawab bastian sesingktanya, sesekali matanya melihta ke rumah, tapi Hary tidak juga keluar. “Bastian, kamu bisa menggunakan ini sebagai alasan kamu untuk menikah lagi, untuk apa punya butik besar dan terkenal kalau tidak bisa memberikan anak buat kamu?  Mama butuh cucu dari kamu, bukan uang, rumah dan perhiasan. Mama yang akan bicara dengan Ririn nanti, kamu harus memiliki keturunan!” pernyataan tegas dari Rina, kadang membuat Bastian ingin melawan nya, taoi Ririn selalu menasehati nya,agar tidak melawan pada sang ibu. “aku tidak akan menikahi wanita lain ma, aku bisa mengadopsi anak nanti.” Bastian menjawab dengan tenang, agar rina tidak tersinggung. “kamu pikir hanya hidup berdua saja cukup, anak itu harus  ada untuk mempererat cinta kalian.” Rina masih meradang,dia tidak bisa menggiyahkan hati bastian. “kita berangkat bas.” Hary keluar dari rumah, sini papa cium dulu, Darel pun memeluk papa nya, dan dila juga. “kami berangkat ma, jangan berpikiran yang aneh-aneh ya mas, bastian sangat mencintai Ririn.” Bastian memeluk rina, dan masuk ke dalam mobil, bastian belum bertegur sapa dengan papa nya, karena dia juga sedang sibuk. “kamu yang sabar, mas doakan agar rumah tangga kamu tetap harmonis dnan semoga akan  ada seorang anak yang melengkapi rumah tangga kalian.” Nasehat dari kakak nya, yang membuat bastian tersenyum “doakan aku kak, agar segera punya anak.” Bastian melajukan mobilnya, matanya melihat hp yang juga tidak ada panggilan dari ririn. “bas, kamu jangan sampai selingkuh dari ririn,jika tadi kata-kata mama menyinggung perasaan kamu,dan berhasil menggoyahkan pendirian kamu.’  Hary menenpuk punggung adik nya, “aku sangat mencintai ririn mas.” Bastian tersenyum pada Bastian “jika kamu membuat dia terluka karena wanita lain,aku dan kakak ipar mu tidak akan lagi mengganggap kamu adik kami lagi, jika aku dan kakak ipar kamu harus memilih di saat ada nyawa yang harus di selamatkan, kamu sudah tahu jawaban nya bas, dan itu akan terus menjadi jawaban kami, jika kamu bertanya lagi.” Hary menegaskan kata-katanya. “pasti kalian memilih aku yang mati kan.” Bastian menyunggingkan senyumnya. “itu lebih baik, daripada Ririn yang mati, dia wanita yang sangat baik bas,seharusnya dia itu adi kandung ku saja,aku akan menghabisi siapapun yang membuat adik ku menangis!” hary membuat bastian tidak bisa menjawab apapun, dia hanya fokus pada jalan di hadapan na. “aku sudah menyakitinya mas,mungkin jika kamu tahu, tangan mu sudah mencekik leher ku dengan sangat erat.’ Bastian bergumam di dalam hatinya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD