Ririn yang masih sibuk dengan peelanggan-nya, tidak lagi mempedulikan kemana Bastian pergi, dia sibuk dengan baju kebaya modern, yang sudah dia selesaikan,sesuai dengan pesanan dari sang artis.
“kalau sudah tangan kamu yang pegang baju aku, hasilnya tidak akan pernah mengecewakan, bayar mahal juga aku nggak akan menyesal.” Sang artis memuji baju kebaya yang ada di badan nya, memutar-mutarkan badan nya di depan cermin besar.
“coba kamu jalan dulu, dari ujung sana sampai ke depan kaca.” Ririn harus memastikan tidak ada yang kurang dari hasil tangan nya ini,sedangkan keke sudah mendokumentasikan, dalam berupa video dan photo.
“sempurna.” Sang artist tersenyum dengan sangat cantiknya, membuat Ririn sangat bangga dengan hasil kerja kerasnya bersama rekan-rekan nya.
“aku sudah transfer sisanya ya, kamu periksa aja.”
“terimakasih loh, tetap berlangganan dengan butik Riuka ya mbak.”
Sang artis pamit pulang, Ririn mengantarkan nya sampai ke pintu depan, dai baru sadar, jika bastian tidak ada di lobby.
“maaf buk, saya baru bilang, pak Bastian tadi titip pesan, kalau ada meeting dadakan,sebelum ke luar kota.” Keke menyampaikan sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh Bastian.
“sudah lama perginya?” Ririn melihat jam masih siang, hal seperti itu sudah biasa juga,sebelum pergi pasti Bastian ada meeting dulu.
“sudah 2 jam buk.” Keke melihat jam dinding.”
“terimakasih ya ke.” Ririn masuk ke dalam ruangan nya, dia sama sekali tidak menghubungi Bastian, Ririn selalu memprioritaskan pekerjaan,sehingga dia juga enggan menghubungi Bastian, jika sedang bekerja.
Sementara di rumah Nisa.
“apa yang aku lakukan? kenapa aku menyentuh Nisa lagi?” Bastian masih berbaring di samping nisa, dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, saling berpelukan dengan Nisa.
“sayang, kamu bicara apa?” Nisa tampak tidak suka dengan perkataan bastian.
“harusnya aku tidak melakukan nya lagi, tapi aku dan kamu melakukannya lagi.” Bastian menghembuskan nafasnya.
“mas, aku ikhlas, aku sangat mencintai kamu.” Nisa menatap mata Bastian, semakin dalam membuat Bastian merasa hangat.
“seharusnya, aku tidak menodai kamu, kamu masih suci saat itu Nisa, maafkan aku merenggut paksa masa depan kamu. Apa yang harus aku lakukan,agar kamu bisa memaafkan aku?” Bastian pasti sangat menyesali nya.
“jangan hindari aku mas, kalau kamu butuh aku, datang dan temui aku, aku tidak akan menolak kamu.” Nisa membelai pipi Bastian hangat.
“tidak mungkin Nisa, kamu tidak boleh seperti itu, kamu harus mencari pria yang tulus kepada kamu, jangan aku.” Merasa bersalah Bastian mencium kening Nisa.
“aku hanya mencintai kamu mas, kamu pria pertama yang membuat aku menjadi seorang wanita,kamu pria yang ku cintai, kamu yang mengambil mahkota ku, aku tidak menyesali nya, kalau kamu mau, aku tidak perlu status pernikahan sayang, tapi hanya satu, jika kamu tidak puas dengan Ririn, jangan cari wanita lain selain aku.” Nisa mencium bibir bastian, menitikkan air matanya.
“bagaimana aku bisa mengkhianati Ririn, aku sangat mencintainya Nisa, kamu akan terluka nantinya.” Bastian mengusap punggung Nisa.
“apa yang kurang dari ku, sehingga kamu dulu pilih Ririn? Nyatanya kamu puas dengan aku? Kamu tersiksa 4 tahun sayang, kamu hanya bisa puas saat kita melakukan nya tadi.” Nisa menyulut rasa kesal di hati Bastian.
“Nisa.” Bastian tampak sudah marah.
“aku hanya minta satu hal dari kamu, aku janji tidak akan pernah ganggu kamu lagi, aku janji mas.” Nisa menangis, dia sangat tidak mau kehilangan Bastian.
“kamu mau apa.” Berharap permintaan nisa akan masuk akal.
“hamili aku mas, saat anak itu lahir, aku akan pergi sejauh mungkin, besarkan anak kita dengan Ririn mas, kamu bisa berbohong tentang anak itu kelak. Kamu bisa merawat dan membesarkan darah daging kamu sendiri,daripada kamu merawat anak orang lain yang bukan darah kamu.” Menangis lagi, nisa sudah kehilangan semuanya,apalagi yang akan dia banggakan pada dirinya sendiri.
“jangan gila Nisa, bukan nya kamu bilang sudah hamil?” bastian tampak marah seperti di bohongi oleh Nisa.
“mas, tidak ada orang yang langsung hamil, baru seminggu berhubungan.” Nisa tertawa dengan sangat keras, Bastian menyunggingkan senyum nya, dia baru tahu, semua butuh proses.
“pikirkanlah mas, lebih baik kamu merawat anak kamu sendiri, kamu tidak akan kecewa.” Nisa beranjak dari tempat tidur, dia merasa badan nya penuh keringat.
“apakah ririn bisa hamil nantinya?”Bastian tampak berpikir panjang, dia melihat jam sudah menunjukkan jam 2 siang,dia harus segera pulang, untuk menyiapkan semua keperluan nya selama meeting di luar kota.
“Nisa.” Bastian mengetuk pintu kamar mandi, jika menunggu Nisa lagi, pasti akan memakan waktu lagi.
“ ya mas.” Nisa yang sudah tidak malu lagi dengan keadaan nya yang sedang basah tanpa apapun yang menutupi badan nya.
“aku buru-buru, harus keluar kota, bisa aku mandi duluan.” Bastian masuk ke dalam kamar mandi.
“sayang, bilang aja, aku mau mandi sama kamu, sudah masuk.” Nisa menutup pintu kamar mandi nya.
Bastian dan Nisa melanjutkan nya lagi di dalam kamar mandi,Bastian sudah kehilangan akal sehatnya, entah efek dari obat tadi atau memang dia yang masih belum bisa menahan dirinya, karena selama 4 tahun tidak pernah sepuas ini.
--
Ririn menunggu Bastian Di butiknya,dia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 3, tapi bastian belum juga datang.
“sayang kamu dimana sih.” Ririn ingin makan siang dulu,sebelum Bastian pergi ke luar kota.
“apa aku telfon aja ya.” Ririn mengambil hp nya,dia menghubungi Bastian.
“ya sayang.” Terdengar bastian menjawab panggilan ririn.
“kamu dimana sayang? Kenapa belum balik ke butik? Aku sudah beli makanan buat kita.”
“aku baru selesai meeting sayang, aku harus balik ke rumah sekarang, mau siapkan pakaian aku dulu, jam 4 nanti kami semua langsung ke kota xx. kamu makan nya, jangan sering terlambat gini sayang. aku sudah makan tadi di kantor.” Bastian tampak kesal, karena waktu sudah menuju sore, tapi Ririn belum makan juag.
“aku kira kamu bakalan cepat selesai meeting nya, mau makan siang sama-sama, ya udah Kamu hati-hati di jalan, maaf aku tidak di rumah saat kamu pergi.” Ririn sebenarnya sangat ingin selalu melihat suaminya ini akan pergi ke luar kota, tapi dia sangat sibuk, jadi tidak bisa melakukan nya.
“nanti aku singgah ke butik kamu dulu ya, sebelum aku pergi. Aku nggak bisa pergi kalau belum peluk kamu.” Bastian hanya bisa melakukan ini, agar Ririn tidak curiga kepada nya.
“aku tunggu ya sayang,aku makan dulu ya.” Ririn menyudahi panggilan telfon nya, dia keluar dari ruangan nya, mengajak keke untuk makan bersama.
Sementara di rumah Nisa
Nisa sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, dia mendengar semua nya, tapi lebih baik dia mengalah asal mendapatkan Bastian.
“aku akan pergi ke luar kota.” Bastian hendak meninggalkan nisa, tapi nisa hanya diam saja, dia kesal sekali Ririn yang memiliki Bastian sepenuhnya.
“hati-hati.” Hanya itu jawaban dari Nisa.
“kamu makan yang banyak, beli vitamin dan s**u untuk ibu hamil, jangan angkat yang berat-berat, kamu paham Nisa.” Bastian menyodorkan hp nya kepada Nisa, untuk memasukkan nomor rekeningnya.
“iya.” Menjawab dengan sedingin mungkin, Nisa mengetikkan nomor rekening nya, dia mendapatkan 5 juta dari bastian,saat Ririn sedang makan, dia melihat ada pesan dari hp nya, ada transaksi sebesar 5 juta ke rekening atas nama Nisa.
Seketika sendok di tangan nya terjatuh ke lantai, dia sangat terkejut, nama Nisa ini, sama dengan Nisa yang sedang bekerja di butik nya.
“nama panjang nisa siapa? Berapa nomor rekening nya keke.” Ririn berharap jika ini adalah Nisa adik sepupu bastian, bukan wanita lain.
“sebentar buk.” Seketika wajah keke tampak berubah, melihat Ririn menahan emosinya, dia langsung mengambil kan berkas dari Nisa.
“ini buk.” Keke memberikan nya ke tangan Ririn.
“terimakasih ke, kamu lanjutkan makan nya ya.” Ririn membawa berkas Nisa ke ruangan nya, dia duduk di sofa nya tangan mulai gemetaran.
“Nisa Hanafi, nomor rekening 111xxxxxxxxxx. Kenapa nomornya sama dengan Nisa karyawan aku, ini salah kan?” Ririn masih tampak tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Bastian, dia tampak bingung, penasaran dengan apa yang terjadi.
“siapa dia.” Ririn mencoba menahan dirinya, dia tidak mau asal menuduhkan bastian.
Bastian pamit kepada Nisa, setelah dia mengirimkan uang nya, dia keluar begitu saja tanpa sepatah kata pun. Mobil Bastian pergi meninggalkan rumah Nisa, dia harus segara pergi ke luar kota. Takut terlambat dan ditinggalkan rombongan nya
Sampai di rumah Bastian mengambil tas dan pakaian nya, dia membawa baju untuk 1 minggu, Bastian melihat hp yang berdering.
“ada apa sayang?’ tanya Bastian sibuk mengumpulkan baju nya.
“kamu sudah berangkat?” Ririn ingin berteriak menanyakan nya pada Bastian, tapi dia masih menahan semuanya.
“belum sayang, ini masih di rumah, kenapa?” bastian juga mengambil berkas-berkas yang lain nya.
“kamu masih ada uang? Apa mau aku transfer?” Ririn akan menanyakan hal itu nanti,selepas bastian pulang dari luar kota.
“ada sayang dari perusahaan cukup kok. Kamu nanti pulang nya sama siapa?” bastian memasukkan laptopnya ke dalam tas.
“aku mau keluar sama linda.” Ririn menarik nafasnya
“mau kemana?” Bastian tampak penasaran
“mau ngemall.” Jawaban singkat dari ririn
“oh iya, kamu jangan kecapekan kerja sayang, makan tepat waktu dan juga vitamin-vitamin nya kamu di minum semua ya." Bastian selesai dengan perlengkapan nya.
"iya sayang, kamu hati-hati ya." Ririn memutuskan sambungan telefon nya, dia menangis dengan terus melihat no rekening Nisa