Nisa yang tidak paham tentang mobil,tampak sangat kesal, dia mengusap rambutnya. Mencoba menghubungi derek mobil, tapi dia tidak tahu nomor-nya. Nisa yang sibuk sendiri, tidak sadar melihat mobil Bastian sudah ada di samping nya.
“Nisa, mobil kamu kenapa.” Ririn turun dari mobil,sedangkan Bastian sama sekali tidak turun, dia juga tidak melirik Nisa sama sekali.
Nisa yang seperti mengenali suara nan lembut itu, melihat ke asal suaranya, dia antara senang dan benci dengan keadaan nya. “ibu, kebetulan ketemu di sini, mobil saya mogok buk, nggak tahu kenapa. Saya juga tidak paham tentang mesin mobil.” Nisa mencoba bicara seiba mungkin agar bisa masuk ke dalam mobil, bersama mereka menuju butik.
“hemm, kamu mau ke butik atau mau ke tempat lain?” Ririn melihat jam di tangan nya, dia masih ada waktu.
“mau ke butik buk,mau pindah hari ini, malah mobilnya mogok.” Nisa yang pura-pura kesal menendang ban mobilnya.
“ya sudah, kamu bareng kita saja, saya juga mau ke butik, mobil kamu nanti biar derek aja yang urus.” Ritin masuk ke dalam mobil.
“sayang, tolong telefon derek mobil,bisa kan?” Ririn tahu suaminya pasti sudah paham maksudnya. Bastian menelfon salah seorang teman nya yang bekerja di bengkel mobil, beres dengan urusan mobil Nisa.
“ayo, nanti kamu telat,lihat jam sudah hampir jam 11.” Bastian menghidupkan mobilnya, akan pergi begitu saja.
“sayang, itu nisa mau ke butik juga, kita bisa sam-sama kan? Dia cewek loh,kalau ada cowok yang ganggu dia gimana?” Ririn turun dari mobil, dan menemui nisa lagi.
“kenapa malah ketemu di sini, wanita ular itu?” bastian pun turun dari mobil tidak mau istrinya terlambat menemui pelangggan nya.
“nisa, kamu ke butiknya sama kami saja ya, barang-barang kamu turunkan saja dari mobil.” Ririn yang sangat baik, tidak sadar dengan nasib baik yang akan berpihak pada Nisa.
“saya di sini saja buk, nggak enak sama bapak.” Berpura-pura menjadi gadis polos.
“nggak apa-apa,mobil kamu nanti biar di urus teman suami saya, keluarin barang kamu, biar suami saya yang angkat ke dalam bagasi mobil.” Ririn sudah melihat wajah kesal dari Bastian.
“kalau tidak merepotkan, saya izin numpang ke butik ya buk.” Nisa membuka bagasi mobilnya, tampak ada 2 koper besar di dalam nya.
Bastian melihat sekilas, dia teringat dengan perkataan Nisa kemarin,bahwa dia hamil.
“biar saya angkat.” Bastian mengeluarkan koper dari bagasi, Ririn lega Bastian mau membantu Nisa.
“maaf merepotkan pak.” Nisa sedang berakting di depan Ririn, hanya di balas senyuman kecil dari Bastian.
“sayang hp kamu bergetar terus, kamu jawab dulu.” Bastian membuka pintu belakang mobil, dan memasukkan 1 koper nisa, sedangkan Nisa mengambil tas kecil yang berisi perlengkapan pribadinya.
“iya,,iya.” Ririn masuk ke dalam mobil,dan mengambil tas nya, ternyata dari Keke. Ririn duduk di dalam mobil, dia tidak tahu lagi apa yang terjadi di belakang mobil.
Nisa melihat Ririn sedang menjawab telefon,saat semua barang Nisa sudah masuk, Bastian menutup pintu belakang mobil, Nisa memeluk bastian dari belakang, karena Ririn juga sudah sibuk dengan telefon nya.
“kamu gila ya?” Bastian melepaskan pelukan Nisa.
“iya, gara gara kamu.” Nisa mencium pipi Bastian, dan masuk ke dalam mobil Bastian, tak lama teman Bastian datang untuk membawa mobil nisa.
Di perjalanan menuju butik Ririn, tangan Bastian terus menggenggam tangan Ririn,sesekali mencium nya, Ririn yang sibuk dengan telfon nya, sesekali membelai pipi bastian.
“kalian sedang bahagia ya? Aduh,,,sebentar lagi semua yang kalian lakukan i ni akan menjadi milik ku,nikmati saja dulu.” Nisa menahan gemuruh di hatinya, yang seakan ingin meledak seperti bom waktu.
Sampai di butik
“sayang, kamu bisa bantu Nisa kan,satpam kita lagi nggak masuk, dia sedang ada acara nikahan adiknya, mungkin malam dia baru masuk.” Ririn memastikan dulu, jika Nisa tidak akan kesusahan membawa barang-barang pribadi milik Nisa, ke dalam kamar nya.
“sayang.” Bastian tampak tidak suka tapi dia juga kepikiran kata kata hamil dari Nisa.
“buk, saya bisa sendiri.” Nisa tampak seperti wanita kuat yang tidak perlu bantuan,dia turun dari mobil Bastian.
“kamu tega ya.” Ririn semakin membuat Bastian tidak bisa menolak.
apa yang terjadi nanti,jika dia membantu Nisa,pasti akan ada hal yang aneh-aneh lagi,tapi melihat mata indah itu memohon, Bastian menganggukan kepalanya.
“terimakasih sayang.” Ririn turun dari mobil,Bastian pun menurunkan b2 koper nisa,dan mendorongnya ke kamar Nisa yang ada di lantai 2,nisa membawa barang-barang yang ringan saja.
Nisa sudah memegang kunci kamarnya, dan membuka pintu,Bastian hanya mengantarkan nya sampai di depan pintu.Nisa yang merasa kepanasan,menghidupkan Ac,sayang nya Ac mati.
“panas sekali, malah mual terus.” Nisa sengaja memancing Bastian,yang akan mau pergi dari kamar Nisa. Lagi-lagi nisa mengeluh panas,dan sengaja mengangkat kopernya yang berat,bastian melihat nya terkejut sekali.
“awas.” Bastian mendorong Nisa pelan, dia membawa koper ke dalam kamar nisa,saat di dorong pun koper ini memang berat juga.
“terimakasih sayang.” Nisa berbisik pelan tapi terdengae jelas di telinga Bastian.
“ini kenapa panas gini ya, kepala ku tambah pusing.” Nisa mengibas-ngibaskan tangan nya ke wajahnya.
“kenapa lagi ac ini.” Bastian tampak semakin kesal, semakin lama dia di dalam kamar Nisa. Bastian mengambil satu kursi ,dia naik ke atas dan memeriksa ac nisa, ternyata karena sudah lama tidak di gunakan Ac nya jadi rusak.
Bastian turun begitu saja,meninggalkan Nisa yang kepanasan. Nisa tersenyum puas. Bastian masuk ke dalam ruangan Ririn, yang sangat sejuk sekali.
“kamu capek ya sayang, sampai keringatan gini?” Ririn mengambil tissue dan membersihkan keringat Bastian.
“panas sekali di kamar Nisa sayang,aku menganggakt kopernya yang berat sekali ke dalam, dia mencoba menghidupkan Ac tapi tidak bisa, saat aku lihat,ac nya ternyata sudah sangat kotor dan juga rusak.” Bastian membuka 2 kancing bajunya, terlihat kerigat membasahi bajunya.
“pasti panas sekali di atas, biar nanti beli ac baru saja sayang, kasihan Nisa pasti kepanasan.” Ririn tampak tidak enak kepada Nisa.
“sayang, kamu fokus kerja aja, itu biar karyawan kamu yang urusin.” Bastian sanget menghindari pertemuan dengan Nisa, cukup baginya kejadian malam itu.
“ya udah, aku kerja dulua ya, bentar lagi artisnya datang.” Ririn menyemprotkan parfum nya ke belakang telinga, pergelangan tangan dan lehernya sedikit.
“aku tunggu di luar sayang, kamu kerja aja ya.” Bastian membawa koran yang ada di dalam ruangan Ririn.
“iya, terimakasih sayang.” Ririn mencium pipi Bastian.
Bastian keluar dari ruangan Ririn, dia melihat sudah ada yang mengantarkan ac untuk kamar Nisa, Keke tampak menerima bukti transaksi mereka.
“langsung di pasang saja mas.” Keke menunjuk kan kamar Nisa dari bawah.
“iya mbak, saya izin naik ke atas.”
“silahkan mas.” Keke pun melanjutkan pekerjaan nya.
Bastian yang duduk di lobby, mengacuhkan apa yang akan terjadi di atas sana,dia sibuk dengan koran nya. 15 menit sudah Bastian menunggu, artis ternama baru saja databg, bastian melihat jam di tangan nya, menunjukkan pukul 11 lewat 15.
“kalau ini rapat, sudah aku suruh keluar artis ini, tapi ini butik ririn, dia sangat sabar sekali dengan orag-orang yang tidak tepat waktu.” Bastian keluar dari butik Ririn, tak sengaja dia melihat Nisa yang sedang menarik spring bed, yang akan dia jemur, karena takut banyak debu.
“jangan di tarik.” Bastian refleks berlari naik ke atas, dia menarik spring bed itu, dan Nisa tampak sangat terkejut sekali tapi sangat bahagia.
“mas.” Nisa tersenyum malu.
Bastian melihat perut nisa, dia harus melakukan sesuatu, tapi dia tidak mungkin menggugurkan anak itu. Bastian melihat ke kamar Nisa, tekhnisi masih sibuk memasang ac, Nisa duduk di kursi yang ada di depan kamar,dia membersihkan keringat nya.
“geser lemari lagi.” Nisa sengaja memancing Bastian, pasti dia akan membantu nya nanti.
“jangan sibuk mencari perhatian ku Nisa.” Bastian mencengkram kuat lengan Nisa.
“kamu yang naik ke sini mas, bukan aku yang panggil kamu!” sangat sakit hati dengan perkataan Bastian.
“kenapa aku harus terjebak dengan kamu lagi, pergilah sejauh mungkin.” Bastian melihat perut Nisa.
“kamu sudah menodai aku, berani kamu bilang gitu? Otak kamu dimana?” Nisa menangis dan menampar pipi bastian, sangat sakit dengan perkataan Bastian.
“aku dalam keadaan mabuk Nisa, dan itu bukan mau aku! Jangan mengambil kesempatan dari kejadian tidak sengaja itu.” Bastian masih menyangkal nya, tidak mau mengakui jika dia sangat puas malam itu.
“turun, turun.” Nisa menunjuk tangga, “bilang ke Ririn seperti itu, aku juga mau pertanggungjawaban kam, kamu sudah menodai aku, mau lepas tangan, kamu pikir aku ini PELACCUR!” nisa masih menangis dengan menahan suaranya, agar tidak terdengar kemana-mana.
“sekali kamu menyakiti Ririn, aku bisa membunuh mu.” Bastian mengancam Nisa.
“tunggu saja kamu.” Nisa masuk ke dalam kamarnya, dia menangis di stiu, tak mau membuang kesempatan Nisa mendorong lemari sekuat tenaganya, Bastian yang memikirkan anak nya, sangat geram sekali.
“cukup Nisa, kamu mau membunuh nya!” Bastian menarik tangan nisa, dan mendorong nya agar tidak mendorong lemari besar itu.
Beruntungnya teknisi itu cepat selesai dan dia tidak mendengar sama sekali perdebatan nisa dan bastian.
“lantas siapa yang mau mendorong nya, istri kamu yang sangat cantik itu?”Berteriak sekuat tenaga nya, karena memang tidak ada orang di sana.
“duduk, biar aku yang mendorongnya, mau diletak dimana.”Bastian lelah berdebat dengan Nisa.
“dekat jendea.” Nisa menjawab nya kesal.
Bastian mendorong lemari itu, meletakkan nya dimana tadi nisa mengatakan nya, selesai dengan itu, bastian menarik tempat tidur Nisa dan menata nya sesuai kemauan Nisa.
“huft.” Bastian tampak sangat lelah, dia merasa haus,Bastian duduk di lantai,dia menghidupan ac nya, Nisa tersenyum senang, teringat obat yang dibelinya.
“aku ambilkan air minum buat kamu.” Sengaja bicara dengan ketus,dia mengambil obat dari dalam tas nya.
Nisa memasukkan serbuk obat kuat dan juga obat perangsaang khusus pria dewasa, mengaduknya dengan sendok, dan dia memberikan nya pada Bastian.
“silahkan minum.” Nisa keluar dari kamar dia mau mengambil bajunya yang ada di koper untuk dia susun ke dalam lemari.
“haus sekali.” bastian meneguk airnya sampai habis, terasa tenggorokan nya sangat segar.
Bastian turun ke bawah, tanpa mengatakan apapun pada Nisa
“20 menit lagi dia pasti akan merasa bergelora, Ririn kan sedang daang bulan, kesempatan bagus ini.” nisa melihat punggung bastian, “sebentar lagi, kamu akan ada dalam pelukan ku mas.” Nisa memasukkan koper ke dalam kamarnya, dia memilih baju nya yang sedikit terbuka,masuk ke dalam kamar mandi, menyiapkan dirinya, dia tidak akan bisa meloloskan bastian begitu saja.
10 menit berlalu Bastian masih ada di lobby, Ririn masih sibuk dengan pelanggaan nya, bastian merasa ada yang aneh gairaahnya serasa naik. Dia menghembuskan nafasnya, semakin uring-uringan,ditambah lagi bagian sensitifnya terasa mendesak di bawah sana.
“aku kenapa? Aku ingin melakukan hubungan badan,tapi kan Ririn sedang datang bulan, dan aku pasti tidak akan puas juga.” Bastian sangat gelisah,dia semakin merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Nisa masuk ke dalam butik setelah dia selesai mandi, dia tersenyum melihat Bastian dengan wajah merahnya. Nisa memakai rok jeans pendek,baju sangat terbuka,tapi dia memakai jacketnya,agar masih terlihat sopan.
“dapat kamu bastian.” Nisa tersenyum menang..
“mbak keke, saya mau ke bengkel dulu ya,ambil mobil, saya mulai kerja besok kan?” Nisa sengaja menungging di hadapan bastian, semakin memancing niatnya.
“ya udah nisa, sekararang kamu bebas, nikmati waktu kamu.” Keke yang sibuk hanya menjawab seadanya.
“saya pamit pak, mau ke bengkel.” Nisa menjilaat bibirnya dengan lidahnya,dan keluar begitu saja.
“nisa.” Bastian memejamkan mata nya,mengingat kejadian malam itu, dia semakin tidak terkontrol.
“ke, bilang ke ibu Ririn, saya harus ke kantor, ada meeting dadakan sebelum ke luar kota.” Bastian berbohong,dia sudah tidak bisa menahan dirinya.
“baik pak” keke pun mengganggukan kepalanya, dan melanjutkan pekerjaan nya, bastian keluar dari butik, dia melihat Nisa sudah berjalan jauh.
“daripada aku menyewa pelacuur, lebih baik dengan Nisa saja,asalkan Ririn tidak tahu, semuanya akan berjalan lancar.” Akibat obat yang diberikan Nisa, semakin bastian merasa nafssu nya naik.
“tiiinn,,tiinnnn” bastian membunyikan klakson mobilnya
“dapat kamu.” Nisa melanjtukan perjalanan nya, pura-pura mengacuhkan bastian.
“nisa,masuk mobil.” Bastian yang sudah tidak sabaran, menarik tangan nisa setelah dia turun dari mobil/
“nggak, jauh jauh kamu mas.” Nisa semakin jual mahal.
Bastian menggendong nisa secara paksa, nisa semakin senang, dia mengalungkan tangan nya di leher bastian.
“mas, turunin.” Nisa semakin membuat Bastian tidak bisa menahan diri nya.
“aku rindu kamu sayang.” Bastian membuka pintu mobil,dan mendudukan nisa di samping nya.
“kamu Cuma nafsu saja.” Nisa pura-pura marah, dia memanyunkan bibirnya.
“aku tidak tahan lagi Nisa.” Bastian menghisap leher Nisa dengan sangat kuat.
Bastian berlari masuk ke dalam mobilnya, dia mengendarai mobil dengan sangat kencang.
“sayang ke rumah aku aja, kamu kenapa sih.” Nisa sudah mengelus benda tumpul itu.
“aku tidak akan melepaskan mu nisa.” Gairah sudah di ujung kepala,membuat dia lupa dengan cintanya pada Ririn.
“akku juga rindu kamu mas.” Nisa senang sekali, sampai di rumah Nisa, mobil langsung masuk ke garasi,dan dia mengunci pagar rumahnya, beruntung nya pintu garasi itu terhubung ke ruang samping, jadi bastian bisa masuk dari situ.
“lama sekali.” bastian menggendong nisa,masuk ke dalam kamar nisa, dia langsung menyerang nisa,dengan sangat kasar, tapi masih bisa diterima oleh Nisa.
“aku di sini sayang.” Nisa membantu bastian melepaskan semua pakaian nya.
Bastian dan nisa kembali melakukan nya setelah kejadian malam itu, nisa yang sangat merindukan hal ini, sangat bahagia sekali,dia menyerahkan semua dirinya pada bastian.
“aku tidak akan melepaskan mu Nisa.” Bastian tidak melewatkan sejengkal pun badan nisa.
Bebas mendesaah karena tidak akan ada yang mendengarkan nya, lama mereka saling menyatu, hingga bastian menyemburkan rahim nisa dengan benih nya.
“aku cinta kamu mas.” Nisa membersihkan keringat bastian.
“kenapa kamu sangat menggoda nisa, kenapa kamu sangat sempurna, seandainya Ririn seperti kamu.” Bastian menggigit mata gundukan nisa, tak habis-habisnya dia merasaklan kepuasan, yang tidak ada pada Ririn.
“aw,,,mas.” Nisa pura-pura manja, membuat 2 hati nurani manusia ini ditutupi oleh nafsu jahat, yang menyakiti Ririn.
“aku tidak akan melepaskan mu mas, kamu bisa memakai ku sesuka mu, carilah aku sayang, jika Ririn tidak bisa memuaskan kamu.” Nisa sungguh tidak akan melepaskan bastian, apapun alasan nya.