“kamu ya.” Bastian memindahkan laptopnya, dia berbaring di samping Ririn, mendekatkan bibirnya, hingga mereka saling melumaat dengan menyalurkan rasa cinta mereka. Bastian sangat menyukai bibir Ririn, terasa sangat lembut sekali. “udah, kamu nanti malah ingin lagi, aku nggak bisa muasin kamu.” Ririn mendorong badan Bastian, bukan nya menjauh, suaminya malah melanjutkan ciuman mereka. “aku mencintai mu.” Bastian melanjutkan isap-isapan nya di leher Ririn, semakin jauh,tapi dia menyudahi nya, karena Ririn sedang datang bulan, percuma juga jika di lanjutkan. “aku lupa, kamu sedang datang bulan.” Bastian mengecup kening Ririn. “kalau aku nggak datang bulan, kamu juga tidak akan puas kan.’ Tersenyum dengan penuh kekecewaan. “kita berobat sayang, bukan karena nafsu ku, tapi karena kamu juga sering sakit saat kita melakukan nya.” Bastian akan memperbaiki semuanya lagi, tidak akan mengulangi hal yang sama lagi. “kamu bosan ya sayang, seharusnya aku tahu diri ya, aku memang harus mengobati diri ku sendiri, agar kamu tidak di ambil wanita lain, aku cinta dan sayang sekali sama kamu mas.” Ririn membelakangi Bastian, menangis pilu, merasa tidak berguna menjadi seorang istri. “sayang, maafkan aku, aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk mencari wanita lain nya, aku akan selalu bersama kamu, aku akan membawa berobat kemana saja, asal kamu jangan pernah meninggalkan ku.” Bastian memeluk Ririn. Memberikan ciuman di bahu Ririn. “Jika aku terus dalam keadaan begini, aku akan mengikhlaskan kamu menikah dengan wanita lain sayang, kamu pria normal, maafkan selama 4 tahun ini aku menyiksa kamu, harusnya kamu cerita sayang.” Ririn membalikkan badan nya, memeluk Bastian dengan sangat erat, menangis sekuat-kuatnya. “ aku sangat mencintai mu, aku tidak mau sampai kamu terluka sayang, aku tidak memikirkan nafsu ku saja, aku tidak sanggup melihat mu terluka, Aku lebih tidak sanggup bercerai dari kamu sayang, aku sangat mencintai mu.” Bastian mengusap rambut Ririn,entah lah dia tidak bisa jauh dari wanita yang sangat di cintai nya ini, kesabaran yang luar biasa dari Ririn yang membuat cinta nya tidak bisa memudar. “aku percaya sayang, kamu sampai sekarang ada dalam dekapan ku,aku tidak meragukan cinta mu.” Ririn semakin keras menangis, dia sangat mencintai Bastian, sifatnya yang selalu mengalah pada Riri, membuat Bastian pria idaman bagi Ririn. Lama mereka terdiam,mengingat kembali pertemuan mereka yang cukup indah untuk di kenang. Bastian yang mati-matian mengejar Ririn, hingga dia tidak mempunyai alasan untuk pergi dari Ririn. “drrrttttt,,ddrrrttt.” Hp Ririn bergetar di atas meja kecil di samping nya, tangan Bastian mengambil hp Ririn dan memberikan nya pada Ririn, tertera nama Keke di situ. “sayang, ada apa ya.” Ririn duduk dan menjawabnya, Bastian tiduran di atas paha Ririn, dia memejamkan matanya, saat tangan Ririn merapikan rambut Bastian. “ya ke ada apa.” Ririn menyapa keke terlebih dahulu. “buk, ini pelanggaan kita hari ini ada yang jemput baju nya, dan pesanan itu sudah selesai buk, apa saya saja yang menyelesaikan transaksi pembayaran nya.” Keke harus izin dulu pada Ririn jika melakukan sesuatu. “oh iya, saya lupa ke, oh gini aja pelangggan nya belum datang kan.” Ririn menepuk kening nya, kenapa dia bisa lupa dengan janji penyerahan baju untuk artis ternama hari ini. “belum buk, saya belum konfirmasi juga kepada pelangggan nya, ibu mau jam berapa.” Keke memang kaki tangan Ririn saat dia tidak di tempat. “jam 11 aja ke, saya segera ke sana,kamu bisa pegang kerjaan hari ini kan, sampai saya datang.” Ririn melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. “bisa dong buk, ok buk saya laporan dulu ke pelangggan ini dulu ya, selamat pagi buk, maaf mengganggu.” Keke menyudahi telfon nya. “sayang kamu jam berapa ke luar kota nya?” Ririn mencium bibir Bastian. “agak sorean sayang, kamu mau ke butik ya, ada pesanan yang harus kamu periksa ya.” Bastian masih menikmati wajah cantik Ririn. “iya sayang, jam 11, kamu bisa antar aku kan.” Ririn menciumi kening Bastian, ntah lah sangat mencintai pria ini. “bisa sayang, kamu mandi dulu, aku siapkan baju kamu.” Bastian menggendong Ririn dan membawa nya masu ke dalam kamar mandi. “harusnya aku yang siapkan baju kamu sayang.” Ririn tertawa malu, Bastian juga membukakan pakaian Ririn seperti anak bayi. “tambah cinta kan sama kamu.” Ririn mencium bibir bastian dengan sangat lembut, lama mereka saling menyatukan bibir, Ririn melepaskan nya. “sama aku juga, aku keluar ya.” Bastian menghidupkan shower, dan Ririn mandi. Bastian menyiapkan baju untuk Ririn, dia sangat suka melihat Ririn memakai dress di atas lutut, menambah kecantikan dan Ririn juga sangat Elegan sekali dalam setiap pembawaan nya. “Dia sangat cantik jika memakai apapun, beruntung aku memiliki wanita itu, kecantikan dan kebaikan nya, tidak ada pada wanita lain.” Bastian menjatuhkan pilihan nya pada dress berwarna hijau tosca, yang sangat cantik untuk Ririn. Selesai dengan urusan baju, bastian keluar kamar, memang makanan sudah tertata rapi di meja, tapi sebelum makan Bastian akan menyiapkan teh hangat untuk Ririn. “ibu Ririn dimana pak?” tanya Eka yang sedang membersihkan meja dapur yang baru selesai dia pakai untuk memasak. “masih mandi Eka.” Bastian mengambil gelas untuk teh hangat nya “bapak mau buat teh untuk ibu ya.” Eka mengambilkan termos yang berisi air panas. “iya, kamu mau, biar sekalian saya buat kan?” tanya bastian sambil menyedu teh kantong yang sudah ada di dalam gelas. “nggak usah pak, aku tidak suka teh pak.” Eka membersihkan semua sampai berish. “ya udah, kalau begitu saya bawa ini ke meja makan dulu ya. Kamu jangan lupa makan ya Eka, makan yang banyak.” Bastian tersenyum pada Eka,dan kembali ke meja makan. “baik pak.” Eka melanjutkan pekerjaan nya yang masih banyak di dapur. “sayang.” Ririn memanggil Bastian dari kamar. “ya sayang.” Bastian masuk ke dalam kamar, tampak Ririn sangat kesusahan mengancingkan dres nya dari belakang. “tolongin,” rengek Ririn dengan sangat manja. “sayang,kamu kenapa selalu cantik gini sih.” Bukan nya melakukan apa yang di lakukan Ririn, pria ini malah asyik menciumi punggung Ririn, yang sangat mulus sekali dengan wangi yang sangat dia sukai.
“sayang,jangan usil terus ah, buruan.” Ririn menggerak-gerakan bahunya, Bastian pun menyelesaikan pekerjaan nya.
“di dekat kamu terus bikin nggak bisa tahan diri.” Bastian mengambil sisir rambut,dan mendudukkan Ririn di depan meja rias nya.
“kamu dandan aja, biar aku yang urus rambut kamu.” Bastian mengambil alat yang biasa di gunakan Ririn untuk meluruskan rambutnya.
“kamu memang suami idaman aku.” Ririn pun berdandan seperti biasa, tidak perlu tebal, karena wajah nya sudah sangat cantik.
Selesai dengan penampilan Ririn, mereka berdua keluar dari kamar, menuju meja makan.
“kamu minum teh hangat nya dulu sayang.” Bastian menyerahkan secangkir teh hangat untuk Ririn, kemudian mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk pauk.
“Kamu harus makan yang banyak, jangan diet terus.” Bastian menyerahkan sepiring nasi untuk Ririn, dengan wajah penuh bahagia Ririn menerima nya.
“terimakasih sayang.” Ririn memberikan ciuman di pipi Bastian.
“sama sama.” Bastian mengambil makanan untuk dirinya sendiri, matanya tak lepas dari wajah ririn.
“kenapa dia sangat cantik sekali?” Bastian seperti merasa di hantui dengan perbuatan khilaf nya bersama Nisa.
“makan sayang, jangan lihat terus, tidak akan kenyang juga.” Ririn tahu jika dia selalu menjadi pusat perhatian suaminya.
“kamu terlalu cantik.” Berkata jujur sambil tertawa malu.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, Bastian dan Ririn sudah bersiap-siap untuk segera ke butik, masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah mereka, setelah Eka membukakan pagar rumah.
“sayang kamu nanti pergi jam berapa tepat nya.” Ririn melihat schedule nya hari ini, sangat padat sampai malam.
“agak sorean sayang, jam 5 sore nanti, kamu kalau sibuk kerja, aku bisa urus perlengkapan aku sendiri, kamu fokus kerja saja” Bastian sangat tahu kesibukkan Ririn, dia tidak pernah mengeluh akan hal itu, istrinya bahagia dengan hobinya, sangat cukup untuk Bastian.
“kamu kecewa ya pasti.” Ririn melihat Bastian sekilas, “ jika istri lain, melayani semua kebutuhan suami,aku malah terbalik, kamu yang siapkan semua.” Ririn sangat mencintai suami nya, sifat sabar nya dan selalu menomor satukan Ririn, di bandingkan apapun.
“kamu bahagia di samping ku?” Bastian memutar stir mobil, masih melanjutkan perjalanan menuju butik Ririn.
“bahagia sayang.” Ririn menjawab nya cepat.
“jadi apa alasan ku untuk kecewa sayang.” Bastian melihat Ririn sekilas.
“Ya, karena aku tidak sempurna.’” Ririn merasakan kecewanya lgi, jika mengingat hal itu.
“aku hanya akan mencintai 1 wanita, yaitu kamu Ririn.” Bastian meyakinkan Ririn dengan perkataan nya.
“justru jika kamu berkata seperti itu, membuat aku yakin kamu akan mudah tergoda oleh wanita lain suatu saat nanti.”Ririn hanya bergumam dalam hatinya.
Ririn melihat sebuah mobil mogok di pinggir jalan, awalnya dia tidak tahu siapa, tapi Bastian sangat mengenali mobil itu, tapi dia tidak mau tahu dan tidak perduli. Nisa keluar dari mobilnya setelah lelah menghidupkan mobilnya, tapi percuma saja, tetap tidak mau hidup.
“sayang, mundur dulu, mundur.” Ririn melihat kaca spion mobil saat mobil sudah melewati mobil Nisa.
“ada apa sayang?” Bastian masih fokus pada jalanan di hadapan nya, bahkan dia tidak sama sekali melirik kaca spion nya.
“itu Nisa, mobilnya mogok sayang, kamu nggak lihat ya.” Ririn tampak kesal,Bastian malah terus melajukan mobilnya.
“kamu tidak dengar.” Ririn tampak kesal sekali, Bastian tidak menjawab nya, tapi dia terpaksa memundurkan mobil, tidak mau berdebat panjang dengan Ririn.
“kenapa harus bertemu seperti ini.” Bastian menggerutu dalam hatinya.