Seolah-olah tidak bisa lepas dari bayangan Nisa, bastian diam-diam selalu ingin mencoba untuk menemui nisa tanpa sepengetahuan Ririn, tapi dia masih bisa menahan dirinya, tidak mau lagi melukai perasaan Ririn. Meskipun Ririn sudah tahu kekurangan dirinya, saat Bastian ingin menyentuhnya, Ririn tidak mau, dia menolak Bastian, karena juga itu akan semakin menyakitkan hatinya, dan tentu saja Bastian akan selalu merendahkannya dengan cara yang halus. Sikap Ririn sudah sangat acuh kepada setelah kejadian itu. Ririn banyak menghabiskan waktu di butik nya, sengaja dia melakukan itu untuk menghindari Bastian. Butik Ririn sangat terkenal sekali,dia bisa kewalahan menerima pesanan yang datang, Ririn sudah memiliki 5 orang anak jahit yang sudah menerima pendidikan khusus keterampilan menjahit sebelum menjadi karyawan tetap Ririn. "Buk, maaf bukannya saya kurang ajar, tapi kayaknya kita butuh beberapa tambahan tenaga penjahit lagi, pesanan kita sangat menumpuk buk, aku takut nanti pelanggann kita kecewa,karena kita sudah memberikan tanggal pesanan mereka selesai, tapi ternyata kita belum menyelesaikannya." Keke kaki tangan dari ririn, dia yang menerima tawaran jahitan yang datang dari beberapa artis, pengusaha bahkan wanita yang bekerja di kantor pemerintahan atau BUMN. "aduh, saya lupa, ternyata artis Selli ini ada acara lamaran dan nikahan di bulan yang sama, dia juga memesan kebaya gaun untuk keluarga kedua belah pihak ya?" Ririn melihat buku rancangannya,dia melihat ada 50 kebaya gaun, dress juga, untuk keluarga, sahabat dan pengisi acaranya. "Ini dia buk, dan kita juga ada pesanan lain lagi di bulan yang sama." Keke membuka buku rancangan yang lainnya. " kamu bisa buat membukakan lowongan pekerjaan di media sosial atau di kantor pos, dengan catatan kita mencari tenaga jahit sebanyak 5 orang yang sudah berpengalaman dan memiliki sertifikat, kalau untuk mengajari kita tidak punya waktu lagi." Ririn membuka tumpukan buku rancangan nya, karena sibuk memikirkan perbuatan menyimpang Bastian,dia tidak menyentuh pekerjaannya di butik. "Baik buk, secepatnya saya akan menyebarkan lowongan pekerjaan di butik ibu, sebaiknya melalui media sosial saja buk, lebih cepat,saya pamit keluar buk." Keke keluar dari ruangan kerja Ririn, segera dia melakukan apa yang diminta Ririn. lowongan pekerjaan terbaru sudah ada si media sosial, Nisa yang juga suka menjahit melihat ada lowongan pekerjaan di sebuah portal lowongan pekerjaan kota xx,dia sangat senang dia berantusias untuk mengambil kesempatan itu. berbekal sertifikat yang diminta, Nisa pun memasukkan surat lamaran pekerjaannya secara online,di situs resmi butik Ririn. "Ini butik sangat terkenal, mimpi apa ya jika aku diterima bekerja di sini?" Nisa sangat tahu bagaiman butik Ririn ini dikenal hingga pelosok negeri ini. "Siapa ya pemiliknya, tidak mungkin cowok kan,karena nama butiknya Riuka, semoga aku bisa masuk ke sini,dan bertemu langsung dengan pemilik nya." Nisa terus tersenyum dengan wajah yang cerah, dia sudah menggambarkan banyaknya ilmu yang akan di dapatkan nantinya. Nisa, hanya tahu Bastian akan menikah dengan Ririn, tapi dia tidak tahu jika Ririn seorang designer terkenal dan pemilik butik yang akan menjadi tempat kerjanya nanti. Nisa hanya tahu butik Riuka adalah butik yang dimiliki oleh Ririn. Keke memeriksa ada 30 orang yang mengirimkan surat lamaran pekerjaan secara on-line ke situs resmi butik Riuka "Ririn Putri Andika". Keke sudah memiliki 13 orang yang memenuhi kriteria nya, karena sangat memenuhi standar butik Riuka. "Tinggal kasih ibu Ririn periksa aja, semoga mereka semua memenuhi standar buk Ririn." Keke mengirimkan Email kepada Ririn, agar bisa memilihnya dan langsung bekerja secepatnya. Ririn sedang sibuk bekerja merancang model terbaru yang sedang trend, agar hasil rancangan dan konsep nya berbeda dari yang lainnya. melihat email masuk, Ririn langsung memutuskan untuk mengambil 5 orang terpilih, diantaranya ada Nisa mantan kekasih suaminya,yang tidak tahu sama sekali. "Segera hubungi 7 orang ini, besok pukul 9 untuk segera datang ke butik." Ririn mengirimkan pesan kepada Keke, dengan semangat nya Keke memberikan informasi pada 7 orang yang sudah di pilih ririn termasuk nama Nisa di dalamnya. Nisa yang menerima Email balasan melonjak kegirangan, dia tidak menyangka akan bekerja dia butik Riuka keesokan harinya,7 orang yang terpanggil langsung menghadap Keke, tidak ada tanya jawab, mereka bertujuh langsung diberikan bahan dasar kebaya yang harus dipotong, sesuai dengan ukuran yang telah diberikan Keke. "Pastikan potongan kebayanya rapi, jangan sampai ada kerjaan yang harus diulangi lagi." Keke mempersilahkan 7 orang itu duduk sesuai dengan nama yang ada di meja. "Aku pasti bisa." Nisa sangat bersemangat sekali,dia mengerjakannya dengan penuh perasaan, sehingga hasil potongannya sangat rapi. "Nisa,Tere dan Firda , kalian langsung kebagian penjahitan, selebihnya kalian bisa melanjutkan pemotongan bahan bahan yang lainnya." Keke membawa 3 orang langsung ke ruang khusus menjahit. "Waaaw, ternyata ini karya designer Riuka, aku bisa melihat dan menyentuh nya secara langsung, ini tidak mimpi kan?" Nisa yang 2 orang lainnya berdecak kagum dengan banyak model pakaian di hadapan mereka. "Kalian boleh menyentuh nya, dengan membaca tata cara yang ada di dinding." Keke menunjuk dinding yang dia maksud, ke-tiga orang itu hanya mengangguk. Ririn tidak lagi mengurus perihal 7 orang karyawan baru, karena sudah ada Keke di situ,maka dia hanya tahu jika pesanan para konsumen nya akan segara di selesaikan dengan sangat cepat. Berhari hari Irene menginap di butik nya, Ririn lembur di saat semua karyawan nya sudah pulang,dia memberikan manik-manik indah pada kebaya yang sudah selesai di jahit oleh Keke saat finishing. butik milik Ririn berupa Apartemen yang luas,dan ada juga karyawan yang tinggal di sini,semua fasilitas mewah di sediakan oleh Ririn, sebagai tanda ucapan terimakasih nya,atas kerja keras para karyawan nya. Mobil Bastian memasuki halaman butik Ririn, dia sangat-sangat merindukan Ririn, hampir 2 Minggu dia tidak bertemu dengan istrinya. Pekerjaan Bastian juga banyak belakangan ini,ada pemeriksaan keuangan selama 1 Minggu, jadi dia lembur hingga pagi,saat pulang Ririn sudah terlelap, tapi saat dia bangun Ririn sudah pergi ke butik. "Selamat malam pak." Budi Satpam butik Ririn, menyapa Bastian saat keluar dari mobil. "Malam Budi,maaf saya mengganggu tidur kamu." Bastian tahu jika jam 1 pagi ini, pasti satpam itu sudah tertidur, karena kompleks butik ini berada di pusat-pusat perkantoran, bank besar,jadi tidak akan ada maling atau apa yang bisa masuk ke dalam, karena di jaga langsung oleh pihak berwajib. "Bapak bisa saja, mari pak." Budi membawa kunci untuk membuka pintu yang sudah dikuncinya. Bastian masuk kedalam apartemen yang sudah di sulap menjadi butik, dengan arena yang sangat luas. Budi kembali ke pos satpam melanjutkan tidurnya. "Siapa yang masuk ke sini? Ini kan sudah hampir jam 2 pagi." Ririn mendengar suara pintu lift terbuka,dia penasaran siapa yang datang, karena pintu lift itu langsung ke dalam ruang kerjanya. "Sayang." Bastian memeluk Ririn dari belakang, Ririn yang sebenarnya tidak suka dengan kehadiran Bastian,pura pura tersenyum bahagia, dengan kedatangan Bastian. "Kamu kenapa ke sini sayang." Ririn melanjutkan menghiasi kebaya di tangannya dengan manik-manik. "Tidak boleh ya,kalau suaminya khawatir dengan keadaan istrinya?" Bastian memegang tangan Ririn,agar dia bisa tidur, karena ini sudah tidak wajar sekali, jam kerja hingga dini hari. "Boleh sayang." Ririn menghentikan pekerjaannya, dia menghadap Bastian, mengalungkan tangannya di leher Bastian "Aku rindu kamu." Bastian mengelus punggung Ririn "Serius Sayang? Habis makan apa" Ririn tampak terkejut tanpa di buat-buat,dia memegang kening Bastian, apakah badannya hangat hingga mengigau tidak jelas. "Kamu terlalu sibuk, sampai lupa dengan suami. aku cemburu dengan semua baju baju ini, mereka dapat perhatian dari kamu setiap harinya. sedangkan aku? Kamu acuh tak acuh padaku, aku sangat merindukan mu." Bastian menciumi pipi Ririn,dia tidak menyangka sikap dingin Ririn ini menyiksa dirinya. "Inilah pekerjaan aku sayang, aku kan harus menyelesaikan semuanya, karena ini adalah tanggung jawab yang harus di selesaikan, kamu seperti baru menikah saja, sampai lupa bagaimana jika aku banyak pekerjaan pasti akan tidur di sini." Ririn menjaga sikapnya di hadapan Bastian, tapi juga menolaknya secara halus dan menyakitkan. "Aku tidak akan melarang kamu untuk bekerja,dan pekerjaan ini juga hobi kamu, jadi bekerjalah dengan perasaan bahagia dan nikmati hobi kamu ini, tapi jangan menyiksa dirimu juga." Bastian merapikan anak rambut Ririn,dia melihat ada guratan lelah di wajah cantik itu "Sama sayang, aku juga tidak akan pernah melarang kamu melakukan apapun yang membuat kamu bahagia, kita ini 2 manusia yang berbeda secara sikap dan pikiran,saling mendukung untuk akan lebih baik kan?" Ririn melepaskan tangannya,dia mengambil air mineral di kulkas dan meneguk nya. Bastian tahu jika sindiran itu untuk dirinya,tapi kan Ririn tidak menyebutkan namanya, jadi kata kata itu mungkin hanya kiasan bagi dirinya. "Aku lelah mau tidur,kamu kalau mau pulang, jangan lupa matikan AC, lampu dan tutup ruangan aku, badanku sangat lelah, aku mau tidur dulu ya sayang. selamat malam" Ririn meregangkan otot-otot tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan menguap menahan kantuknya. dia naik ke atas kamar dengan menggunakan tangga menuju kamarnya, yang ada di dalam ruangan kerjanya. "Aku menginap di sini sayang,mau pulang jauh, aku juga sangat rindu kamu." Bastian segera menyusul Ririn setelah memastikan lampu dan AC mati. Ririn memilih untuk mandi dulu, sebelum dia tidur, Bastian yang sudah lelah langsung merebahkan badannya di atas tempat tidur. Ririn kesal sekali, melihat Bastian ada di butiknya,dia ingin mengusirnya tapi tidak enak sekali rasanya. Ririn merebahkan badannya yang sangat-sangat lelah." ahh, nyamannya,aku sangat lelah, ternyata sangat nyaman tidur seperti ini." Ririn memejamkan matanya tidak perduli dengan Bastian. "kamu lelah ya." Bastian duduk,dia mengambil minyak telon di samping nya, membaluri semua punggung Ririn,dan memijitnya dengan sangat lembut, membuat mata Ririn mengantuk, perlahan-lahan matanya mulai terpejam dan tertidur dengan pulas Masih dengan kesibukkan yang luar biasa,Ririn sampai harus begadang sendirian,menyelesaikan semua pekerjaannya, bastian setiap hari datang mengantarkan makanan untuk Ririn, meskipun sudah ada yang khusus untuk memasak di butik Ririn. “sayang, kamu jangan sampai begini kerjanya, ingat ada suami yang nungguin di rumah.” Bastian membukakan makanan yang dibawanya, dia menyuapi Ririn,saat istrinya sedang menggambar model baju terbarunya. “Maaf ya, pekerjaan aku numpuk sekali, maaf sayang.” Ririn mengunyah makanan nya, dia tidak melihat Bastian. “aku tidak suka serumah apalagi satu tempat tidur dengan kamu Bastian, lebih nyaman begini, menghabiskan waktu untuk bekerja dan menjauh dari kamu.” Ririn bergumam dalam hatinya. “nanti malam kamu harus pulang, aku tidak mau tidur sendirian terus!” Bastian mengangkat dagu ririn, terlihat wajah cantik yang sangat lelah itu. Dia menyimpan semua kesalnya dalam hati. “aku masih banyak pekerjaan, maaf sayang.” Ririn menjauhkan bibirnya saat bastian ingin menciumnya. “kenapa kamu menghindari aku?” bastian menutup buku yang sedang di gambar oleh Ririn,dia membawa ririn berdiri dan mendudukkannya di pangkuan nya. “aku banyak pekerjaan ,kamu lihat kan?” Ririn menunjuk banyaknya tumpukan bahan pakaian yang akan di selesaikan nya dengan cepat. “tapi aku sangat butuh perhatian kamu, bangun tidur di sambut dengan senyum kamu, rindu kamu rapikan dan aku rindu semua kasih sayang kamu.” Bastian memeluk erat Ririn. “maaf aku sibuk.” Ririn menjadi kasihan pada Bastian,dia melihat suami nya tidak setampan dulu lagi, tampak tidak terawat sama sekali. “aku butuh kamu.” Bastian melihat mata indah ririn “tahu rasa kamu kan? Ini baru aku mengacuhkan kamu, aku belum meninggalkan kamu.” Ririn tersenyum menang dalam hatinya,dia melihat kelemahan Bastian. “3 hari lagi,semuanya akan selesai, ada anak baru juga 7 orang, jadi semuanya cepat selesai kan.” Ririn turun dari pangkuan Bastian, dia mengambil 1 botol air mineral dari kulkasnya. “jangan minum air dingin terus sayang,kamu bisa batuk!” bastian tidak bisa mengontrol makanan Ririn jika tidak ada di rumah, ririn memliki penyakit lambung kronis,sehingga makanannya sangat di awasi oleh bastian “nggak ada kamu juga sayang.” Ririn mencium pipi Bastian. “aku kerja lagi ya.” Ririn melanjutkan menggambar rancangannya, Bastian melihat istrinya yang sangat sibuk, dia memahami rasa sakit itu, tidak akan mungkin hilang begitu saja. “hati-hati sayang,kalau kamu sibuk tidak usah mampir kesini lagi.” Ririn melambaikan tangannya pada bastian yang akan menutup pintu ruangannya. “halus sekali caramu membenci ku.” Bastian menutup pintu ruangan Ririn. Nisa dan Keke sibuk dengan urusan menjahit, hingga saat ini Nisa belum pernah bertemu dengan ririn secara langsung, jika bertemu pun pasti nanti dia tidak akan tahu jika Ririn adalah istri dari bastian. “Nisa, kamu bisa lembur hari ini, pesanan kita ini harus selesai 4 hari lagi, di sini ada kamar kosong khusus karyawan, jadi tidak usah takut, kamu bisa istirahat.” Keke mengakui jika jahitan dari Nisa sangat rapi sekali, hingga pekerjaan nya cepat selesai. “Hemm, bisa kak, di rumah juga aku nggak ada kegiatan kalau malam.” Nisa sudah sangat terbuai dengan pekerjaannya ini, dia memang suka dunia fashion. “ok sip, uang lembur kamu akan digabungkan saat gajian nanti ya.” Keke pun meninggalkan Nisa yang asyik dengan jahitannya. Ririn sangat sibuk sekalian dengan pekerjaan nya, hingga dia lupa dengan vitamin yang diberikan oleh Linda, hingga saat datang bulan, perutnya keram sekali. “aaawww sakit.” Ririn meremaas perutnya dengan kedua tangan nya, dia melihat kalender di mejanya, dan ini adalah jadwalnya datang bulan setelah 2 bulan tidak datang bulan sama sekali. “kenapa harus sekarang.” Ririn membuka lacinya, dia mau obat penghilang nyeri. Ririn meminumnya, setelah itu dia berbaring di sofa nya, dengan keadaan sakit begini dia tidak akan bisa bekerja. Keke masuk ke dalam ruangan ririn untuk membawakan rancangan baju yang sudah selesai di jahit.”buk, kenapa.” Keke melihat Ririn yang menangis kesakitan sambil memegang perutnya. “perut ku sakit.” Ririn bergerak kesana-kesini menahan rasa sakitnya. Keke sering melihat Ririn kesakitan jika dia datang bulan, menghubungi Linda adalah jalan terbaik, setelah menghubungi Linda, Keke akan memijat betis ririn sampai Linda datang. “buk, sudah minum obat kan?” keke melihat keringat Ririn membasahi dahinya, dia mengambil tissue dan membersihkan keringat Ririn, wajah pucat ririn ditambah lagi dia yang begadang, membuat badannya drop total. “sakit.” Ririn terus mengerang kesakitan, dia juga sampai muntah di ruangannya. Terdengar suara mobil yang baru datang,linda segera menuju ruangan Ririn, dia juga tidak bisa menghubungi ririn beberapa hari ini, karena ririn yang sangat sibuk dan juga dia harus dinas keluar kota. “Ririn, perut kamu sakit lagi ya?” Linda duduk di samping Ririn “aku datang bulan Lin, sakit sekali, aku nggak kuat.” Ririn menggenggam erat tangan Linda. “kamu ngga minum obat?” teriak Linda, dia sudah memberikan obat kepada Ririn, agar tidak kesakitan jika datang bulan. “aku lupa, banyak kerjaan Lin, tolong aku.” Ririn menangis menahan sakitnya. “dasar pria brengseek, kasih obat istri aja nggak bisa.” Linda menyuntikkan obat penghilang nyeri kepada Ririn, belum bereaksi dengan obatnya, Ririn masih meringis kesakita. “Hallo, kamu sebagai suami, bisanya apa sih? Hanya melukai istri saja,begitu! Apa susahnya kamu ingatkan istri kamu minum obat?” Linda membabi buta kepada Bastian, memarahi tanpa mendengarkan apa-apa. “obat apa? Ririn sakit apa?” Bastian yang akan sampai ke kantornya, kembali memutar laju mobil ke Butik Ririn, dia mengendarinya dengan kecepatan penuh. Linda memutuskan sambungan telfon nya, dia semakin kesal saat Bastian tidak tahu atau pura –pura tidak tahu sama sekali dengan keadaan Ririn saat ini. Keke sudah kenal linda,dia sudah sangat dipercayai oleh Ririn dan Linda, jadi apa yang dikatakan linda tidak akan sampai kemana-mana. “masih sakit?” Linda melihat wajah Ririn sudah sedikit tenang, dia lega Ririn tidak sesakit tadi. “sudah kurang Lin, maaf merepotkan kamu!” Ririn masih berbaring di sofa. “kamu menyiksa diri kamu dengan bekerja seperti ini? kamu ngapain? Dia itu tidak pantas untuk kesedihan kamu ini.” Linda entah mengapa sudah benci pada bastian. “paling tidak kan, aku tidak melihat wajahnya.” Ririn tidak mau mengingat lagi masalah yang telah di lakukan Bastian, dia mengacuhkan nya, merasa tidka penting dengan masalah Bastian yang sudah tidur dengan wanita lain. “buk, jangan gini lagi, aku takut ibu sampai sakit lagi, kalau lembur bangunkan saya saja buk.” Keke sangat sayang kepada Ririn, karena sifat nya sangat keibuan dan sangat perhatian kepadanya. “kamu lembur sendirian?” Linda menghembuskan nafasnya, begitulah jika ririn ada dalam masalah, dia akan melampiaskan nya dengan bekerja dan bekerja,hingga sakit. “aku tidak bisa tidur, jadi aku bekerja.” Ririn tersenyum dengan jawabannya. Bastian masuk ke dalam ruangan ririn, dia melihat istrinya terkulai lemah, Bastian merasa semakin bersalah dengan keadaan ririn. “kamu sakit ya, kenapa tidak bilang sayang?” Bastian dengan lembutnya mengusap kepala Ririn, dia harus melihat kesakitan Ririn ini setiap bulan nya. “kan udah biasa.” Ririn tersenyum, Keke dan Linda keluar dari ruang kerja Ririn, mereka membiarkan Ririn dan Bastian saling bicara. “sayang, maaf ya pasti sakit sekali? Aku harus berbuat apa agar kamu tidak sakit lagi sayang? Kita berobat ke luar negeri saja ya, di sana kan pengobatannya sudah sangat canggih. “tidak mas, aku banyak pekerjaan, aku nggak sempat.” Ririn mencoba duduk, setelah perutnya sudah enakkan. “kamu bekerja saja mas, kenapa kembali lagi kesini?” Ririn menyandarkan kepalanya ke sofa. “sampai kapan kamu akan seperti ini? apa kamu akan terus mengacuhkan ku? Tidak adakah kesempatan lagi?” Bastian bicara dengan sangat lembut sekali, dia sangat menyesal dengan perbuatannya pada Ririn. “aku sudah melupakan semuanya sayang.” Ririn malas membahas hal yang sama lagi, dia akan sangat sakit hati nantinya. “tapi kamu selalu menghindari aku.” Bastian menggenggam tangan Ririn, megusapnya pelan dan menyandarkan kepala Ririn di dadaa nya. “aku sibuk sayang, kamu sudah lihatkan. Pekerjaan ku sangat menumpuk sekali.” Ririn melihat mata Bastian dia merasa sudah keterlaluan mengabaikan suaminya itu. “nanti kita pulang ya, aku akan menunggu kamu bekerja di sini.” Bastian tidak akan membiarkan Ririn tidur di Butik lagi meskipun dia juga tidur di situ, tapi Ririn hanya tidur 2 jam saja, dan bekerja lagi. “iya sayang, kamu pasti bosan ya temanin aku di sini?” Ririn memeluk erat bastian, dia sangat merindukan suaminya ini, setelah 1 bulan dia mengabaikannya. “aku hanya ingin kamu selalu di sampingku saat aku terbangun sayang, pulang ya.” Bastian mencium kening Ririn, sangat merindukannya. “Tapi aku tidak mau berhubungan badan sayang, kamu paham kan.” Ririn memang sudah memaafkan suaminya, tapi jika untuk tidur bersama,dia masih belum bisa. “sampai kapan.” Bastian entah harus senang atau sedih, hanya dia lah yang tahu. “entah, tapi aku tidak mau kamu sentuh, apa kita pisah kamar saja.” Ririn melihat bastian. “aku tidak akan menyentuhmu, janji.” Bastian menahan sakit hatinya. “itu yang kamu mau kan.” Ririn bergumam dalam hatinya. Bastian menunggui Ririn bekerja, dia meminjam laptop Ririn untuk melanjutkan pekerjaan nya, mereka berdua benar-benar sibuk dengan pekerjaan mereka berdua, tidak ada percakapan di antara mereka. “aku buat kopi dulu sayang, kamu mau aku buatkan teh?” Bastian merasa mengantuk, mungkin secangkir kopi, bisa menghilangkan kantuknya. “ya boleh, jangan terlalu manis.” Ririn masih sibuk dengan manik-manik kebaya di tangannya. Bastian keluar dari ruangan Ririn, dia menuju dapur untuk membuat kopi. Saat yang sama, Nisa sedang membuat teh es untuknya, dia merasa es bisa menyiram kepalanya yang terasa penat. Bastian tidak mengacuhkan Nisa, dia sibuk dengan hp nya,Nisa sangat tidak enak dengan suami bos nya yang tak lain adalah Bastian,meskipun dia belum melihat Bastian. “maaf pak, mau saya bantu.” Nisa tidak enak pergi begitu saja, dia belum membalikkan badannya. “tidak, terimakasih.” Bastian masih sibuk berkirim pesan dengan klien nya, Nisa pun ingin segera meninggalkan bastian,dia membalikkan badannya,Bastian jutru membalikkan badannya, nisa yang terkejut menjatuhkan tumbler minumannya. “kamu punya mata.” Bastian dan Nisa saling berpandangan mata. Nisa merasa sangat deg-degan, dia merindukan bastian dan sekarang di hadapannya ada Bastian “mas,aku rindu kamu.” Nisa refleks memeluk Bastian, dengan cepat bastian mendorong Nisa. Dia sangat terkejut melihat Nisa ada di butik ririn. “kenapa kamu di sini.” Bastian mencengkram kuat kerah baju Nisa, dia menunjukkan kemarahannya pada Nisa. “mas, kamu yang menodai aku, kenapa kamu yang marah, aku bahkan hamil mas.” Nisa menangis dengan sandiwaranya. “apa?” Bastian semakin syok, Nisa hamil. “ini anak kita mas.”Nisa meneteskan air matanya, hati bastian sangat terasa sakit, ada anak di dalam perut Nisa, dan itu adalah anaknya,jika hanya dia yang menyantuh Nisa. “jangan bercanda Nisa, simpan omong kosong mu itu, sedang apa kamu di sini? Mau mengancam ku?” bastian penasaran mengapa Nisa ada di Butik Ririn. “aku kerja di sini mas,kamu sedang apa di sini?” balik bertanya pada Bastian “bukan urusan kamu, bekerjalah di tempat lain,jangan di sini, kamu bisa dalam bahaya.” Bastian mengancam Nisa, agar menjauh dari hidupnya. “kamu mengancam aku? Ada anak kamu di dalam rahimku?” Nisa beteriak kepada Bastian, beruntungnya dapur ini jauh dari ruangan Ririn dan karyawan. “aku tidak akan percaya kepada kamu?” Bastian meninggalkan Nisa,dia akan gila jika Ririn tahu siapa Nisa. “aku akan mengatakan pada karyawan sini,bahwa aku hamil anak kamu.” Nisa tersenyum jahat, langkah Bastian terhenti “coabalah, besok kamu akan menyesalinya.” Bastian mengancam Nisa lagi. Nisa semakin tertantang dengan Bastian, dia semakin bahagia saat dia tahu Butik ini milik Ririn, target utama nya. “wah,semakin seru saja.” Nisa tersenyum puas kali ini. “tadi mas Bastian mau buat kopi kan, akan aku antarkan sayang.” Nisa menghidupak kompor gas nya, dia memegang kartu kendali sekarang. Bastian tampak sangat pucat sekali, dia tidak menyangka akan ada Nisa, dan ini ada di Butik Ririn, apa yang akan terjadi nantinya, jika Nisa menunjukkan video nya. “kenapa bisa begini?” Bastian kembali ke ruangan Ririn, dia duduk lagi di hadapan laptonya,Ririn melihat sekilas tapi tidak mau bertanya. Nisa sudah membawakan kopi untuk bastian,keke tampak heran kenapa Nisa membawa kopi. “buat siapa itu?” Keke bertanya pada Nisa “tadi pak Bastian mau membuat kopi kak, nah kebetulan aku sedang membuat teh es, jadi sekalian saja aku buatkan.” Nisa menjawabnya dengan tenang. “Bastian, tahu darimana kamu nama nya?” keke yakin dia tidak ada mebmberitahukan nama Bastian kepada karyawan butik. “tadi pak satpam lagi di sini buk saat pak bastian datang, nah pak satpam menegur pak bastian, makanya saya tahu nama nya.” Nisa beruntung saja dia mendengar satpam bicara dengan bastian, tapi dia sibuk menjahit tidak tahu bastian yang datang adalah mantan nya,suami ririn “oh gitu, kamu antar saja ke dalam ya, saya harus memeriksa stok bahan kebaya ini.” keke meninggalkan Nisa, tampak senyum lebar di bibir Nisa. “gotchaa, ini peluang emas.”Nisa pun mengetuk pintu ruangan Ririn. “masuk.” Terdengar suara Ririn, mempersilahkan Nisa masuk. “maaf buk.” Nisa masuk kedalam dengan segelas kopi di atas nampan “silahkan pak kopinya.” Nisa tersenyum genit pada bastian,saat meletakkan kopi di atas meja disamping sofa bastian, dengan beraninya Ririn duduk di pangkuan bastian, bastian ingin menjatuhkan nya tapi karena hamil,dia menolak sambil melihat ririn. “kamu karyawan baru yang di rekrut Keke ya.” Ririn membelakangi mereka berdua, dia sedang memberikan manik-manik di kebaya yang ada di patung. “iya buk, saya Nisa yang dibagian menjahitnya.”Nisa menjawab dengan sangat sopan, tapi dia masih duduk di pangkuan Bastian, bibirnya menyentuh bibir Bastian, sontak kaget bastian membuka mulutnya,Nisa dengan cepat melumaat lidah bastian. “kerja kamu sangat rapi Nisa, kamu sangat berbakat.” Ririn memuji tapi tidak melihat Nisa. “terimkasih buk,atas kesempatan ini.” Nisa berdiri setelah puas mengerjai bastian. “sama sama nisa, maaf sudah merepotkan kamu membuatkan kopi ya.”ririn tersenyum pada Nisa. “nggak buk, saya keluar dulu buk, permisi pak.”nisa puas. Bastian sangat marah pada Nisa, dia akan memberikan perhitungan pada Nisa,beraninya dia menciumi nya di belakang Ririn Nisa keluar dari ruangan ririn dengan senang bukan main, dia telah berhasil membuat Bastian ketakutan, ternyata menggoda suami orang tepat di dekat istrinya,ada tantangan tersendiri baginya. "Bisa bisanya aku bekerja di sini, target utamaku, waaaauuuw semakin besar kesempatan ku untuk menghancurkan rumah tangga kalian, siapa tahu nanti butik ini akan jatuh ke tangan ku." Nisa kembali ke tempatnya,dia melanjutkan pekerjaannya. Ririn dan Bastian sama sama larut dengan pekerjaan mereka, Bastian tidak mau melayani pancingan Nisa, dia tidak mau sampai Ririn tahu,siapa Nisa. Ririn melihat Bastian sibuk bekerja, dia merasa bersalah juga melihat' suaminya yang terus-menerus berusaha mendekatinya. "Sayang, kamu masih sibuk?" Ririn duduk di samping Bastian,dia menggerakkan lehernya yang terasa kaku. "Nggak sayang,ini hanya membaca email masuk saja, kenapa? Kamu sudah selesai?" Bastian mematikan laptopnya, dia membaringkan badannya dia pahaa Ririn, tangan istrinya itu mengusap perlahan kepala Bastian. "Selesai juga 1 kebaya mas, kita pulang ya, perut ku masih sakit." Ririn tersenyum pada Bastian "Kamu jangan terlalu lelah sayang, jaga kesehatan kamu, kitae pulang saja ya, aku rindu sama kamu." Bastian bangun dari pahaa Roron,dia tidak mau bertemu dengan Nisa lagi, panjang urusan nya nanti. "Iya, aku rapikan dulu kebaya itu ya." Ririn pun melakukan tahap finishing pada kebaya modern terbaru yang ada di dalam butiknya. Keke yang bertanggungjawab yang juga kaki tangan Ririn, bekerja dengan dedikasi yang tinggi, dia dia pernah main main dengan pekerjaannya, dia juga tidak pandang bulu jika ada kesalahan sedikitpun. Itulah hal yang membuat Keke bisa menjadi orang kepercayaan Ririn. "Keke." Ririn keluar dari ruangannya bersama Bastian, dia ingin Keke yang melanjutkan proses memberikan manik manik pada kebaya berikutnya, hanya percaya kepada Keke, untuk menyentuh kebaya saat finishing "Iya buk." Keke menghampiri Ririn. "Saya mau pulang dulu, kamu bisa lembur kan dengan karyawan yang lain,mau istirahat di rumah dulu, capek lembur kemarin, perut saya juga masih sakit." Ririn melihat karyawannya yang sibuk dengan mesin jahit "Bisa buk,tadi aku sudah bilang juga kepada karyawan yang lainnya, ibu istirahat saja di rumah, jangan sampai sakit buk." Keke menganggukkan kepalanya, dia juga takut Ririn sampai jatuh sakit. Nisa melihat jelas tangan Bastian menggandeng tangan Ririn, sakit terasa di hatinya. "Mas, kamu benar-benar lupa ya kejadian malam itu, aku ingatkah sedikit ya." Nisa mengirimkan 6 photo yang diambilnya saat mereka melakukannya ke wa Bastian Ririn yang sedang bicara dengan Keke, tidak perduli dengan bunyi pesan yang masuk ke hp Bastian, yang punya hp tampak sangat marah, dia melihat Nisa yang sedang tersenyum manis sambil mengusap perutnya. "Anak kita mas." Nisa berbicara tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak, membuatnya sangat menikmati wajah panik Bastian. "Gila sekali wanita ini, Dia tidak takut sama sekali, aku harus bisa mengeluarkan dia dari sini, dan mengancamnya untuk pergi dari kota ini,rumah tanggaku lebih berarti bagiku." Bastian bergumam dalam hatinya,dia menghapus pesan yang dikirim oleh Nisa, tidak mau sampai Ririn membacanya