1 minggu berlalu, keadaan butik masih berjalan dengan norman seperti biasanya Keke bisa memegang semua pekerjaan Ririn. Nisa tampak sangat senang hari ini , dia akan bertemu dengan Bastian, sesuai perjanjian mereka saat nanti Bastian sampai, maka mereka akan menghabiskan waktu berdua saja.
“hari ini buk Ririn tidak ke butik lagi ya mbak.” Nisa sudah 1 minggu tidak melihat kedatangan Ririn di butik, dan tidak ada yang membahas nya,bersama Bastian juga tidak karena bastian tidak mungkin menghubungi nya sampai jam 2 pagi.
“sepertinya tidak,buk Ririn ada keperluan lain seperti nya, eh iya kamu sudah selesai menjahit semua kain yang saya potong kan?” Keke harus mengerjkan 100 baju untuk acara amal, dia sudah biasa mengurus nya.
“sudah mbak,tinggal di sablon aja sih.” Nisa menunjukkan hasil jahitannya, masuk dalam kategori sangat rapi.
“kamu kerjanya rapi ya Nis, nanti saya ajukan ke ibuk ya, kenaikan gaji kamu.” Keke tampak puas sekali, Nisa bisa di handal kan.
“terimakasih ya mbak.” Nisa tersenyum senang.
“ya udah, saya mau antar ini ke bagian sablon dulu.” Keke menuju ruang penyablonan, meninggalkan Nisa yang sibuk dengan hp nya.
Sementara di tempat lain
Vika dan Ririn sedang berbicara dengan seseorang, dimana ini adalah keputusan dari Ririn untuk menyelidiki Bastian dan Nisa, Linda mendukung hal ini, karena dia juga penasaran dengan Nisa yang sudah di kirimi uang oleh Bastian.
“begini anto, kamu sudah lama kenal dengan saya, kali ini bekerjalah dengan baik , seperti kamu bekerja kepada ku.” Vika yang menyarankan agar memakai jasa Anto saja, karena anto sudah sering bekerja untuk keluarga Vika.
“saya akan selalu bekerja dengan baik buk, kalau boleh tahu, masalah apa yang harus saya tangani.” Anto tidak membahas uang pembayaran nya, karena dia lebih menonjolkan hasil kerja nya dulu, baru uang bayaran nya.
“begini pak, suami saya sedang dekat dengan wanita lain, dimana wanita ini bekerja di butik saya, baru 2 minggu lebih.1 minggu yang lalu, suami saya mengirimkan uang ke nomor rekening wanita ini.” Ririn menunjukkan pesan yang ada di hp nya, dan memberikan kertas data diri nisa.
“apa ada yang mencurigakan lagi buk, selain ini.” anto membaca data lengkap Nisa, dia mengambil photo data diri Nisa.
‘kalau suami saya melihat wanita ini, dia selalu kesal dan menunjukkan rasa tidak suka nya, padahal dia selalu baik kepada karyawan saya,” Ririn menceritakan semuanya, tidak ada yang dia tutupi.
“suami ibuk sekarang ada dimana?” tanya anto
“dia sedang di kota xx, ada pekerjaan, tapi nanti sore dia akan kembali.” Ririn sama sekali tidak pernah menghubungi Bastian, dia hanya membaca pesan yang di kirim oleh Bastian.
“saya akan segera menyelidiki nya buk, saya permisi dulu.” Anto pamit kepada Ririn dan Vika.
“semoga tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan sayang, kamu berpikiran positif sayang, kamu paham?” Vika sangat menguatkan Ririn.
“aku sangat mencintai bastian ma, dia pria yang sangat mencintai dan menghargai aku. Ma,kalau dia mencintai wanita lain, aku harus bagaimana ma.” Ririn menggenggam erat tangan Vika, dia sangat cemas dengan segala kenyataan nya nanti.
“nak,kamu anak kuat sayang, mama dan linda akan selalu di samping kamu, jangan takut apapun, suami yang baik, tidak akan mendustai istri nya.” Vika sudah paham dengan tabiat pria, dan itu wajar karena dia memiliki hasrat yang harus dia salurkan pada istri nya, sedangkan bersama Ririn, tidak ada kepuasan yang Bastian dapat.
“apa Ririn kuat ma, kalau harus bercerai dengan Bastian.” Ririn masih meragukan hal ini, apa dia bisa melihat suaminya mencintai wanita lain nantinya.
“kamu sangat mencintai nya nak.” Vika mengusap punggung Ririn, dia kesal pada bastian, bagaimana bisa pria itu sekejam ini pada nya.
Ririn tidak bisa menjawab nya, hanya air mata yang terus membasahi pipi nya, rasa sakit yang hanya bisa di katakan dengan air mata. Entahlah semakin dia mencoba membenci bastian, hatinya semakin sakit, dan dia sangat merindukan bastian.
“sayang, jangan sampai ada perpisahan di antara kita, aku mohon jangan patahkan harapan ku.” Ririn bergumam dalam hatinya, dia mengingat setiap kenangan nya dengan Bastian,
Di kota xx
Hary dan bastian sedang melakukan peninjauan ulang atas pembangunan sebuah apartemen, yang memakai jasa perusahaan mereka. Tampak para buruh sedang bekerja mengangkat bahan bangunan yang mereka butuhkan.
“semoga akan tetap berjalan seperti ini, selesai tepat waktu, agar banyak perusahaan lain yang memakai jasa kita.” Hary mengambil beberapa photo untuk dia kirimkan pada papa nya, selaku pimpinan mereka di perusahaan
“amin mas, lega rasa nya bisa memenangkan tender besar ini.” bastian yang paling berjasa untuk memenangkan tender ini.
“karena kamu yang sangat pintar.” Hary menepuk punggung bastian.
“apa guna nya kepintaran ku mas, kalau aku tidak bisa seperti kamu dan mbak Karin, sudah memiliki 2 anak masing-masing.” Bastian menendang kerikil kecil di hadapannya, dia masih terpikir dengan perkataan nisa.
“kamu kan bisa buat bayi tabung bas, jangan putus asa begini.” Hary sangat tidak suka jika sudah menyinggung perihal anak, pasti dia akan teringat dengan ririn, yang belum bisa hamil.
“bayi tabung? Melihat dia kesakitan saja, aku sudah hilang akal mas, apalagi memakai cara bayi tabung, pasti dia akan kesakitan.” Bastian tidak rela melihat Ririn kesakitan secara fisik, dia seperti tidak berguna, jika ririn kesakitan dia hanya diam saja.
“kalau begitu kalian bisa adopsi anak, sama saja bas, kalau kamu sayangi anak itu dengan sangat tulus.” Hary menyarankan hal itu sudah jauh hari, tapi ririn masih berusaha untuk hamil anaknya sendiri.
“semoga akan ada keajaiban mas.” Bastian menghembuskan nafasnya panjang, dia masih berharap anak dari rahim ririn, anak dari wanita yang sangat dia cintai, karena cinta yang besarlah, dia rela melakukan zinah di belakang Ririn.
“kita balik, nanti kemalaman sampai di rumah.” Hary menyudahi pembicaraan mereka, akan sangat terluka perasaan bastian, jika di ungkit secara terus menerus.
Bastian dan hary masuk ke dalam mobil ,mereka akan singgah di toko oleh-oleh dan cenderamata yang sangat terkenal di kota xx, banyak yang bastian beli, dia membeli semua barang kesukaan Ririn, tapi dia tidak mengingat nisa.
Puas dengan belanjaan di tangan nya, dimana semuanya hanya untuk Ririn saja. Bastian mengendarai mobilnya lagi, sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja.
“astaga, aku lupa membeli untuk Nisa, apa aku putar balik mobil ya, nanti mas hary pasti bertanya panjang. Sudahlah biar nanti aku kasih saja dia uang.” Bastian melanjutkan perjalanan menuju kota mereka, Nisa sangat menunggang kedatangan Bastian, sedangkan ririn sibuk belanja bersama dengan teman-teman nya,sambil makan bersama
Terdengar canda tawa di meja makan, dimana ada Ririn, Mika, Gina dan juga Ivi, ini adalah teman dari Ririn saat mereke belajar tentang designer pakaian dari singapura.
“kita harus liburan bareng, aku rindu makan di resto xx, tempat dimana kita makan 4 bayarnya 3 karena sangat ramai.” Ivi tertawa dengan sangat keras, karena dia yang mengompori teman-teman nya untuk melakukan hal itu.
“untung saja kita tidak di sumpahi oleh pemilik resto itu ya.” Gina malu jika mengingatnya, dia ingin kembali kesana dan membayar semuanya.
“kita kemana ya?” Mika juga sangat rindu dengan hal itu.
“seandainya aku tidak menikah muda ya.” Ririn mengaduk minuman di gelasnya menggunakan sendok.
“kamu kenapa? kami iri loh sama kamu sayang, suami sangat baik dan sayang sama kamu, yang menjadi poin penting nya, dia tidak menghalangi kamu untuk berkarya dan bekerja.” Mika heran dengan perkataan Ririn.
“oh iya, hari ini tumben kamu tidak membanggakan Bastian, kenapa? Ngambek lagi kamu?” Gina menyenggol Ririn yang sama sekali tidak mau tersenyum.
“dia lagi di luar kota, maka nya aku galau, seminggu tidak ketemu. Aku kan jadi uring-uringan ” Ririn tertawa dengan kencang, menutupi air mata dan luka hatinya, teman-teman nya malah saling mencibir.
“udah bahagia banget sahabat kita ini, dia membuat aku ingin cepat-cepat menikah.” Ivi memejamkan matanya, membayangkan indahnya rumah tangga seperti bastian dan ririn.
“cari pasangan yang jujur sayang, pasangan yang bisa terima kekurangan kamu.” Riri tidak ingin para teman nya seperti dia.
‘aku mau yang seperti Bastian.” Tutur Gina dengan semangatnya
“aku juga.” sambung ivy tak kalah semangat
“aku juga.” terakhir Mika, dia yang paling semangat,dengan mengangkat tangannya ke atas.
Terdengar 3 wanita saling memperebutkan tipe suami idaman mereka.
‘kalian akan menyesal, kalau mau pria seperti Bastian.” Gumam kecil dari mulut ririn, yang tidak di dengar 3 wanita sahabatnya ini.