Lima belas detik bersitatap, Mami akhirnya memalingkan pandangannya dari Nigi. Menghindari tatapan penuh selidik putrinya sendiri. Wanita itu sadar, bahwa ucapan baru saja mengungkap kegiatannya sebelum mengetuk pintu dan memasuki kamar yang Saba tempati ini. Mami terus-terusan mencari arah yang lain, meski Nigi mencoba untuk mengembalikan fokus Mami padanya. Wanita itu justru malah mengusap tekuknya salah tingkah dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Sikap Ibu dan anak yang persis sama jika tidak ingin didesak sesuatu. “Ehm, pokoknya kamu harus rawat Saba dengan baik sampe sembuh! Awas kalo nggak, Mami bilangin Papi!” ancam Mami mendelik pada Nigi. Setelah mengatakan hal itu Mami memilih beranjak dari sana, tepat sebelum menutup rapat pintu kamar itu Mami kembali mengarahk

