....
Pagi ini Kris melihat istrinya masih marah atas kejadian tadi malam, suasana sarapan pagi ini pun terasa dingin.
“Sayang? Kamu marah soal semalam?” tanya kris hati-hati
Irene hanya diam, ia masih belum mood untuk berbicara dengan suaminya.
“...baiklah... aku akan menunggu sampai kamu mau bicara denganku, dan aku akan menjelaskan semuanya. Tapi satu hal yang kamu perlu tahu, hubungan ku dengan Aura hanya sebatas sales apartment dan konsumen, tidak lebih”. Kris berharap istrinya bisa mengerti dan memahami itu, sehingga tidak perlu lagi mendiamkan dirinya.
“Aku berangkat ya sayang..” kris beranjak dari meja makan, tak lupa ia mencium kening sang istri dan mengelus kepalanya dengan lembut.
Irene tetap tak bergeming, sikap dinginnya terhadap kris masih berlanjut, bahkan ia tak mengantarkan kepergian kris.
...
“Pagi nona, aku sudah mendapatkan Info mengenai tempat tinggal Kris dan asal usul Istrinya yang bernama Irene”. Ucap seorang lelaki yang berpenampilan formal mengenakan jas dan celana bahan serba hitam.
“Bagus!! Silahkan duduk Erik!”.
“Sekarang jelaskan kepada ku secara detail informasi apa yang kamu dapat” perintah Aura.
“Baik nona, Irene adalah istri dari Kris dan mereka menikah sekitar 3 bulan yang lalu, pernikahan mereka berlangsung sangat sederhana tanpa resepsi dan hanya dihadiri keluarga dan keraabat dekat. Pakad nikah diadakan di rumah Orang Tua Irene di Sleman,Jogjakarta. Irene adalah anak tunggal, dia seorang yatim piatu, orang tuanya meninggal pada saat ia berusia 5 tahun karna kecelakaan. Ia dirawat dan dibesarkan oleh seorang wanita yang mana wanita itu adalah adik dari Ibu Kandung Irene.”.
Aura yang mendengar penjelasan rinci erik, menganggukkan kepala dan sesekali ia memainkan bolpoin yang saat ini sedang ia pegang.
“Pertemuan Irene dan Kris terjadi sekitar 1 tahun lalu, saat menghadiri acara opening townhouse baru milik perusahaan kris di funtion hall sebuah hotel di daerah kuningan. Irene bekerja di salah satu bank swasta yang pada saat itu menerima undangan dari developer perusahaan kris.”
“ Saya juga sudah mendapatkan Info mengenai rumah tinggal mereka, Kris dan Irene tinggal.dirumah milik kris yang beralamat di Komplek Setia Abadi, Jakarta Timur”.
Aura nampak puas dengan informasi yang Erik dapatkan.
“Kerjamu bagus Eric! Terima kasih, siapkan mobil. Aku akan mengunjungi kediaman Kris”.
“Baik nona.” Eric mengangguk seraya keluar dari ruangan kerja Aura.
“Sungguh menarik kisahmu Irene, aku akan memberikan kejutan kecil untukmu” gumam aura, ia menunjukkan senyum sinis dan liciknya kali ini.
...
Hari ini adalah hari pertama Alka datang ke kantor ayahnya.
Mobil Alka sudah sampai di parkiran kantor, ia memastikan posisi mobil sudaah terparkir dengan sempurna lalu ia mematikan mesin mobil, sebelum turun dari mobil ia menatap dirinya lewat spion yang ada di dalaam mobil, memastika bahwa penampilannya tidak akan memalukan di hadapan karyawan Ayahnya.
Alka berpakaian cukup formal kali ini, jelas beda dengan kesehariannya yang selalu bergaya kasual. Kemeja katun, celana bahan satin silk, dan jas yang juga berbahan satin silk dengan warna senada dengan celana yang ia kenakan.
Ia nampak melangkah masuk ke dalam kantor dengan langkah kaki yang mantap. Saat ingin membuka pintu kantor ia disambut oleh satpam kantor yang membukakan pintu terlebih dahulu.
“Selamat Pagi Pak Alka” sapa satpam itu dengan senyum ramah dan badan yang sedikit membungkuk saat Alka ada di hadapannya.
Alka hanya mengangguk dan tersenyum. Ia jalan menuju Lift dan ingin langsung ke lantai 2, karna mamanya berpesan sesampainya disana ia harus menemui Pak Andre yang tidak lain adalah Direktur Operasional di kantor ini.
Ting...
Pintu lift terbuka, pandangan alka mengedar ke segala sisi, terdapat satu meja receptionist dan ada sofa juga meja di sudut ruangan, mungkin di khususkan untuk menerima tamu karyawan atau bos yang ada di lantai ini.
Ada beberapa karyawan yang terlihat lalu lalang, dan sudah pasti pandangan mereka tak luput dari Alka yang baru saja keluar dari lift, seorang wanita dibalik meja resepsionis pun tak berkedip saat memandang alka.
Alka yang menyadari itu bersikap acuh! “kenapa mereka memandangiku seperti itu? Aku tidak suka menjadi pusat perhatian!” ucapnya kesal dalam hati.
Ia menuju meja resepsionis.
“Apa yang kamu pandangi sedari tadi? Kamu tidak dengar aku sedang bertanya padamu?!” nada bicara alka sedikit keras. Alka menyadari bahwa gadis itu sejak tadi termenung menatap kepada dirinya sejak ia keluar dari lift.
Seorang gadis yang tak lain adalah resepsionis itu pun kaget saat sadar bahwa Alka kini ada dihadapannya dan baru saja ia berbicara dengan nada agak melengking yang cukup membuat telinga gadis di depannya itu kesakitan.
“Maa-maaf pak, saya sedang tidak fokus, apa ada yang bisa saya bantu pak?” ucap gadis itu dengan suara bergetar dan sedikit ketakutan.
“Antar aku ke ruangan Pak Andre! Sekarang!” perintah alka, nada bicaranya semakin tinggi.
“Baa...ik pak. Mari pak silahkan..” gadis itu berjalan di depan Alka.
Hanya melewati beberapa koridor dan Alka sampai di depan ruangan yang terdapat tulisan “Direktur Operasional” di pintunya.
“Ini ruangan pak Andre pak” ucap resepsionisnya.
“Ok, terima kasih!”. Alka pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Pagi Pak Andre!” sapa alka dengan wajah datar.
Andre yang sedang fokus menatap layar laptop dihadapannya pun menoleh ke arah suara itu, dan langsung bangun dari duduknya sambil menyunggingkan senyuman untuk Alka.
“Selamat Pagi Mas Alka, senang sekali akhirnya kita bisa bertemu lagi.”
“Silahkan duduk Mas.. sebentar, aku akan minta OB untuk buatkan minuman. Mas Alka suka Kopi atau Teh?” tanya andre.
“Teh saja, terima kasih.” Jawab alka santai. Ia sudah duduk di sofa empuk di ruangan andre, matanya sedikit mengitari ruangan itu. Ada beberapa lukisan pemandangan yang tertempel di dinding ruaangan ini.
“Apa kabar Mas Alka? Akhirnya Mas Alka mau menginjakkan kaki di kantor ini, kami sudah lama menunggu kehadiran mas Alka di kantor ini” andre mencoba basa-basi.
“Saya baik pak, dan sepertinya agak berlebihan dengan kata bahwa semua yang ada disini menunggu saya, sebab sejatinya mereka belum mengenal saya” jawab alka santai.
Jawaban itu sedikit membuat Andre mengerutkan dahinya. Ia merasa kalimat basa-basi tidak diterima baik oleh anak muda itu.
“Hahaha yaa memang betul sebagian besar karyawan disini belum mengenal secara langsung Mas Alka, namun sebagian dari merek sudah mendengar nama Mas dan beberapa ceritanya”. Andre sedikit tertawa untuk mencairkan suasana, ia sadar bahwa Alka betul-betul memiliki sikap dingin.
“Saya akan lebih sering datang kesini dimulai dari minggu depan, tolong siapkan ruangan untuk saya, dan siapkan juga segala berkas-berkas perusahaan yang harus saya pelajari. Karna saya buta besar soal perusahaan milik Ayah saya ini, saya hanya tau perusahaan ini adalah perusahaan ekspedisi terbesar di Indonesia.”.
“Baik Mas Alka, masih ada waktu 2 hari sebelum hari senin, saya akan mempersiapkan semua yang Mas Alka minta.”
“Oke kalau begitu saya pamit pak Andre” alka berdiri dan merapika kancing jasnya.
“Kenapa buru-buru sekali Mas? Minumannya saja belum sampai..” andre mencoba menahan Alka.
“Aku tidak terlalu haus, terima kasih”. Alka keluar dari ruangan Andre dan di koridor sempat berpapasan dengan seorang pemuda yang bisa ditebak jika ia adalah OB dikantor ini. Pemuda itu mendunduk dan senyum ramah saat berpapasan dengan Alka. Namun Alka tidak membalasnya, ia terus berjalan menuju lift dan dan segara pergi meninggalkan kantor.
Banyak pasang mata yang memperhatikannya, namun ia tetap tidak peduli dan bersikap dingin.
Sesampainya di mobil Alka membuang nafas kasar. “aarghhhh! Aku tidak suka sekali suasana dikantor Ayah!!” gerutunya.
...
Haiii guys! Besok adalah episode 11, aku akan mulai hadirkan cerita-cerita yang cukup menarrik dan penuh konflik! Terutama diantara Irene & Kris..!
Dukung aku dengan comment di setiap episode yaa.. terima kasih.
..
..
Besok akan double up di jam 11.00 & 19.00