Perisia Vale

1049 Words

Bau roti panggang dan teh hitam memenuhi udara ruang makan pagi itu, namun yang lebih tajam dari aroma mentega adalah tatapan-tatapan ingin tahu yang berputar di sekitar meja panjang. Vale duduk tegak, nyaris kaku. Tangan halusnya gemetar halus saat menuang teh ke cangkir, membuat bunyi cling… cling… cling… Di seberangnya, Alaric tampak berusaha tenang, namun rahangnya menegang, menahan rasa marah dan malu. “Gula?” tanya Alaric datar, menawarkan wadah kecil dengan nada yang terlalu sopan untuk dianggap tulus. “Tidak, terima kasih. Aku tak berniat bertemu Tuhan dalam waktu dekat,” jawab Vale, tanpa menatapnya, namun dengan nada yang membuat dua penghuni di ujung meja menahan tawa dan satu lagi tersedak bubur gandum. Beberapa bisikan terdengar samar di udara, setipis kabut di pagi hari.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD