Matahari pagi menembus tirai tipis dengan lembut, membentuk garis-garis cahaya di dinding dingin. Udara di dalam ruangan lembap, berbau samar roti dan teh. Vale terbangun lebih dulu, matanya masih buram. Tidur dalam keadaan lapar sungguh mengganggu. Di sampingnya, Alaric menggeliat pelan, perutnya terasa perih. Mereka telah melewatkan makan malam karena mencurigakan dan pagi ini tidak antre sarapan pagi. Ruangan tidur mereka sederhana tapi bersih dan rapi: ranjang besi tua, seprai wol kelabu, dan meja kecil dengan kendi air dingin. Dari luar terdengar langkah kaki dan suara sendok serta mangkuk; para penghuni penampungan telah memulai rutinitasnya. Pintu berderit lembut. Sosok nenek-nenek semalam, yang sempat mereka lihat membagikan roti di dapur, muncul membawa senyum kecil. Rambutnya

