Bunyi alarm yang melengking memaksaku membuka mata. Pukul 07.30 pagi. Kepalaku berdenyut nyeri, sisa alkohol semalam yang sepertinya belum sepenuhnya hilang. Rasanya seperti ada orkestra sumbang yang bermain di dalam tempurung kepalaku. Tenggorokanku kering kerontang. Aku meraba sisi tempat tidur di sebelahku. Kosong. Seprai berantakan, selimut jatuh ke lantai setengah menjuntai. Aroma kamar ini apek—campuran bau rokok menthol, sisa parfum murahan, dan kotak pizza basi. Jauh beda dengan aroma kamar Karina dulu. Aroma linen bersih dan pewangi pakaian lavender yang menenangkan. "Rara?" panggilku serak. Hening. Tidak ada jawaban. Biasanya, kalau dulu aku bangun jam segini di akhir pekan saat menginap di rumah orang tuaku dan Karina datang berkunjung, aroma kopi dan nasi goreng buatan di

