Rumah di Semarang ini terasa sepi sore ini. Tidak ada suara TV yang menyala, tidak ada denting sendok beradu dengan piring dari dapur, dan tidak ada suara langkah kaki Karina yang terburu-buru menuruni tangga. Hanya ada aku, secangkir teh melati yang asapnya mulai menipis, dan album foto tua di pangkuanku. Dulu, sepi seperti ini adalah musuh terbesarku. Sepi yang membawa ketakutan. Ketakutan bahwa aku akan mati sendirian di rumah besar ini, sementara putri tunggalku, Karina, sedang berjuang sendirian di kerasnya Jakarta tanpa ada yang mendampingi. Tapi sore ini, sepinya terasa beda. Ini adalah sepi yang damai. Sepi yang melegakan. Karena aku tahu, nun jauh di sana, di sebuah villa di Bali, putri kecilku tidak lagi sendirian. Dia sudah ada di tangan yang tepat. Tanganku yang mulai keri

