Senin pagi, Karina bangun dengan perasaan aneh. Bukan cemas kayak biasanya, tapi ada sesuatu yang berbeda. Dia liat kalender di ponsel—tanggal 23. Tinggal seminggu lagi ulang tahun ke-30. Tapi kali ini, angka itu nggak bikin dia panik. Malah bikin dia... penasaran. Penasaran sama apa yang bakal terjadi. Penasaran sama perasaannya sendiri yang masih dia coba pahami. Di dapur rumah masa kecilnya di Semarang, dia bikin kopi sambil mikirin surat Mama kemarin. Udah seminggu dia ambil cuti untuk jagain Papa, dan Pak Dion udah bilang dia bisa work from home sampai kondisi Papa stabil. Kata-kata Mama tentang cinta yang memberi ketenangan masih bergema di kepalanya. Dan setiap kali dia mikir tentang itu, wajah Cakra yang muncul. Ponselnya berdering. Chat dari Cakra. "Pagi sayang. Udah sarapan?

