"Nyonya, Anda mau ke mana?" Nana menahan napas. Detak jantungnya seakan berhenti mendengar pertanyaan itu. Tubuhnya seketika kaku seperti patung. Tangan yang memegang handel pintu perlahan mengendur, lalu kembali ke sisi tubuh dengan gerakan pelan. Satu-satunya bagian tubuh Nana yang masih dapat dia gerakkan. Hanya itu, setelah itu diam tak dapat bergerak lagi. Bahkan, dia lupa bagaimana caranya bernapas. Dia kembali ketahuan. Celakanya, saat keberhasilan sudah berada di depan mata. "Nyonya, sebaiknya Anda kembali ke kamar," kata pria itu sopan dan ramah. "Saya tidak mau bersikap kasar pada Anda." Nada suaranya berubah menjadi dingin. Nana mendesah jengkel. Dia tahu, tidak mungkin pria itu berani berkata seperti itu bila tidak mendapatkan izin dari Ares. Dengan cepat Nana memut

