11. KERIBUTAN DI PERBATASAN

652 Words
Pagi - pagi sekali Faiza sudah menyirami semua tanaman yang dia tata sedemikian cantik dan rapi didepan rumah. Pagi ini dia mau menemui ustadzah Husna untuk memantapkan program tanam sayur - sayuran di pondok putri Kiai Haidar yang baru saja pulang dari masjid sampai kaget melihat putri satu - satunya itu sudah menyirami tanaman sepagi ini. "Assalamualaikum ning". Kiai Haidar uluk salam setelah masuk halaman rumah dan menghampiri Faiza. "Waalaikum salam bah". Jawab Faiza menyambut kiai Haidar dan bersalaman serta mencium tangan abahnya. Kiai Haidar melihat jam yang ada ditangan kirinya. Kemudian menengok kanan dan kiri setelah itu mendongak kelangit. Faiza yang mengamati tingkah laku abahnya yang tidak biasa merasa bingung. "Ada apa bah". Tanyanya "Tidak ada apa - apa, abah cuma kaget saja, tidak biasanya kamu menyirami tanaman sepagi ini. Biasanya setelah subuh kamu kan sibuk membantu umi beres - beres rumah dan memasak?". Jawab kiai Haidar. "Oh iya bah, soalnya pagi ini Iza mau mulai meninjau lokasi dan spot -spot yang mau ditanami sayur - sayuran di asrama pondok putri. Banyak lahan kosong dan bisa dimanfaatkan lho bah, sayang sekali kan kalau dibiarkan nganggur". "Bener juga pemikiranmu itu nduk. Tetapi dengan satu syarat kamu harus melibatkan santri - santri putri juga. Jadi kamu tidak harus mengerjakannya sendiri. Nanti kamu malah capek kebanyakan kegiatan". Kiai Haidar manggut - manggut menyetujui rencana Faiza. "Iya bah, tentu saja ning cuma membantu dan mengarahkan diawal saja. Untuk selanjutnya, setelah semua terealisasi, kita bentuk tim untuk merawat tanaman - tanaman itu setiap harinya. Lumayan bah nanti hasilnya bisa kita manfaatkan untuk keperluan pesantren kita sendiri. Kalau sudah melimpah ruah bahkan bisa kita jual keluar pesantren. Hasilnya bisa kita manfaatkan untuk santri dan meningkatkan pelayanan fasilitas pesantren yang lebih baik". Terang Faiza dengan mata berbinar - binar penuh semangat. "Aamiin... abah dukung program kamu itu ning". Kiai Haidar tersenyum kemudian mengusap pucuk kepala putrinya dan berlalu masuk rumah. Matahari sudah bersinar agak tinggi, saat Faiza dan ustadzah Husna selesai berkeliling area pondok pesantren putri. dibelakang mereka juga ada beberapa santri putri yang bertugas mencatat lokasi - lokasi mana saja yang akan ditanami sayur - sayuran. "Yuk kita duduk dulu dan istirahat disana". Faiza menunjuk kearah bawah pohon mangga besar yang tidak jauh dari perbatasan area pesantren putra. "Iya ning". Jawab ustadzah Husna dan santri - santri putri itu hampir bersamaan. "Jadi rencananya tanaman apa saja ning yang akan kita tanam nanti?". Tanya seorang santri putri setelah mereka duduk dibawah pohon mangga. "Macam - macam sayuran yang nanti kita tanam. Kita fokus ke sayuran yang sering kita perlukan dan kita konsumsi di pesantren". "Tomat, cabe, sawi, terong Seperti itu kah maksud ning Faiza?" Tanya ustadzah Husna. "Yup, benar sekali ustadzah". jawab Faiza mengacungkan jempol. "Tomat, terong, sawi, cabe, labu, bayam, kacang panjang dan...". Faiza menghentikan kalimatnya saat tiba - tiba terdengan suara gaduh sekelompok orang. Faiza, ustadzah Husna dan santri - santri putri itu saling pandang. "Ada ribut - ribut apa ya?". Tanya Faiza penasaran "Sepertinya dari sana ning iza". Tunjuk ustadzah Husna kearah pintu masuk perbatasan santri putra. "Iya benar, sepertinya dari sana". Faiza mengangguk setuju. "Ada apa ya". Semua menjadi penasaran, karena terakhir terdengar suara teriakan. "Kita lihat kesana dulu yuk". Ajak Faiza "Eh jangan ning, itu wilayah terlarang untuk kita masuki". Ustadzah Husna menggeleng tidak setuju. "Iya ning iza benar". beberapa santri putri itupun mengangguk membenarkan. " Ya kita jangan sampai melewati pintu dan masuk ke area putra". Faiza berdiri dan menarik tangan ustadzah Husna supaya berdiri. "Jangan ning". Ustadzah Husna mengingatkan Faiza. " Nanti kalau sampai ketahuan kita bisa dihukum". Beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara orang sedang marah - marah. Dan mereka yakin mengenal si empunya suara itu. "Waduh itu ustad Zaki". Seru seorang santri putri sambil menutup mulut. "Yasudah kalau begitu, kalian tunggu disini ya aku akan kesana melihat apa yang terjadi". Seru Faiza kemudian berjalan kearah pintu perbatasan yang memisahkan antara area pondok pesantren putra dan area pondok pesantren putri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD