12. KETAHUAN MENGINTIP

767 Words
"Kami hanya penasaran saja". Sebuah kalimat yang samar - samar terdengar oleh telinga Faiza. Tetapi setelah itu tidak lagi terdengar suara apa - apa. Beberapa kali putri bungsu kiai Haidar itu mengetuk pintu. Namun tidak ada tanda - tanda pintu akan terbuka. "Apa mungkin mereka sudah pergi?".Batin Faiza, kemudian dengan rasa penasaran mencoba mengintip dari celah lubang pintu. Gadis itu tidak melihat apa - apa,kecuali sosok berpakaian putih yang sedang memunggungi pintu. Tetapi suasana hening. Tidak ada suara apapun. Faiza menjadi cemas. Ia harus mengetahui apa yang sedang terjadi disana. "Jangan - jangan ada yang berkelahi atau ada salah seorang santri yang dibuly. Ini tidak bisa dibiarkan. Jelas - jelas tadi terdengar suara keributan dan beberapa kali teriakan". "Buka pintunya!". Teriak Faiza sekali lagi sambil mrngetuk pintu lebih keras. Tiba - tiba pintu terbuka sedikit. Seseorang melongok keluar, dan tangan dengan gerakan mengetuk pintu Faiza reflek mengenai muka orang itu. "Eh... emm... mm... maaf ustad". Faiza segera mundur. Mukanya merah padam menahan malu. "Maaf saya tidak sengaja". "Tidak apa - apa". Jawab orang itu yang ternyata adalah ustad Zaki. " Mm... sakit ya ustad?". Faiza mengamati muka ustad Zaki. Sekalipun tidak tampak merah atau lebam tetapi Faiza yakin pasti lumayan sakit. Karena tadi gerakan mengetuk pintunya memang lumayan keras. Ustad Zaki melangkah maju dan berdiri tepat ditengah pintu. "Ada apa ning Iza kemari?" "Saya dengar ada suara ribut - ribut tadi dari sini. apa yang sedang terjadi?". Tanya balik Faiza sedikit kesal karena pertanyaannya tentang kondisi ustad jaim yang tanpa sengaja kena getok tangannya tadi tidak mendapat respon. "Tidak terjadi apa - apa ning. Hanya kesalah fahaman sedikit dan itu sudah selesai". Jawab ustad Zaki dengan suara tegas "Maaf pak ustad, tolong izinkan saya mengecek sebentar saja". Faiza bermaksud maju dan ingin masuk. Tetapi ustad Zaki buru - buru merentangkan kedua tangannya kepintu. "Tidak ada apa - apa ning. Tolong segera kembali dan tinggalkan tempat ini". pinta ustad Zaki. "Tidak!". Tolak Faiza. " Akhir - akhir ini, nama pondok pesantren sedang menjadi sorotan dimasyarakat luas ustad. Saya berharap tidak terjadi insiden tawuran, pembullyan atau tindak kekerasan lain yang akan mencoreng nama pesantren kita ini". "Saya yang bertanggung jawab atas santri - santri putra ning. Jadi saya tegaskan kepada ning Faiza bahwa tidak terjadi apa - apa. Tadi hanya ada insiden kecil,dan saya pastikan saya sudah mengatasi semuanya dengan baik". "Saya tidak meragukan kredibilitas anda ustad Zaki. Saya hanya ingin memastikan kalau semua memang baik - baik saja. Jadi tolong izinkan saya melihat kedalam sebentar, setelah itu saya pasti akan meninggalkan tempat ini". Faiza masih ngotot "Baiklah kalau begitu". Kata ustad Zaki ahirnya menyerah. Ustad cool itu ahirnya mundur dan membuka pintu lebar. Faiza dengan hati - hati dan langkah kecil masuk. Matanya terbelalak saat melihat beberapa santri putra berdiri berbaris menghadap tembok. Kedua tangan menjewer telinga dan berdiri dengan satu kaki. "Apa - apaan ini ustad Zaki?". Faiza kembali berhadapan dengan ustad Zaki meminta penjelasan. "Apa anda benar - benar mau tahu kesalahan apa yang sudah mereka lakukan sehingga saya hukum seperti itu?". Tanya ustad Zaki "tentu saja". Jawab Faiza singkat. "Yakin?". Ustad zaki meyakinkan "Yaa ". "Santri - santri ini tadi saya pergoki sedang mengintip anda dan santri - santri putri yang anda bawa". "Apa??". Faiza melongo tidak percaya. "Maaf ning, mungkin apa yang anda lakukan secara tidak sengaja bisa menjadi sumber dosa bagi orang lain". "Maksud ustad Zaki apa?". "Tadi ning Iza sudah memasuki area yang berdekatan dengan perbatasan area pondok santri putra dan putri. Rupanya tadi kebetulan ada santri yang iseng mengintip ke area pondok putri dan ia melihat anda, ustadzah Husna dan beberapa santri putri sedang duduk dibawah pohon. Kemudia datang pula santri - santri yang lain dan bergantian mengintip juga". Jawab ustad Zaki berapi - api. "Benar seperti itu?". Faiza bertanya pada salah seorang santri yang sedang dihukum. "Benar ning". Jawab santri itu ketakutan. "Sekarang kalian semua minta maaf kepada ning Faiza". Perintah ustad Zaki lantang. " Dan berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi". "Maafkan kami ning Faiza, kami berjanji tidak akan mengulangi lagi". Ucap santri - santri itu serempak. "Baiklah, pergilah dari sini. ingat jangan menceritakan hal ini kepada santri lain. Dan jangan pernah mengulangi hal yang sama. kalau sampai kalian mengulangi hal ini lagi, saya pastikan kalian akan dikeluarkan dari pesantren ini". Kata ustad zaki tegas memberi peringatan. Ahirnya santri - santri yang tadi mendapat hukuman segera berlari meninggalkan tempat itu. Sementara itu Faiza masih berdiri ditempat. "Janganlah kecantikanmu, menjadi mudharat bagi dirimu dan orang lain". Ustad Zaki meraba hidungnya yang tadi kena getok tangan Faiza. "Assalamualaikum". ucapnya kemudian pergi meninggalkan tempat itu Faiza masih bengong. "Waalaikumsala". jawabnya lirih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD