Sore itu dirumah kiai Haidar telah hadir beberapa ustad, ustadzah dan pengurus pondok.
Kiai Haidar sengaja mengumpulkan mereka untuk membahas rencana pelaksanaan haul Almarhum romo KH Ahmad kakek dari umi Maryam yang merupakan pendiri pondok pesantren yang sekarang dipimpin oleh kiai Haidar.
Dulunya pondok pesantren ini merupakan pondok salafi murni. Tetapi seiring perkembangan zaman, pondok pesantren ini berubah menjadi pondok pesantren modern. jenjang pendidikannya pun sudah lengkap. Dari RA, MI / SD. MTS / SMP. Aliyah / MA. Perguruan tinggi islam dengan berbagai jurusan. Dengan fasilitas dan SDM sedemikian rupa sehingga mampu bersaing dengan pondok - pondok pesantren modern terkenal lainnya di negeri ini.
Kiai Haidar meminta masukan dari semua ustad, guru - guru serta pengurus pondok untuk acara haul yang rencananya akan dilaksanakan awal bulan depan.
Setelah hampir dua jam ahirnya rapat selesai.
Satu persatu dari mereka meninggalkan rumah kediaman kiai Haidar.
Rupanya masih ada dua orang yang belum meninggalkan ruang tengah rumah kiai Haidar tempat tadi berlangsungnya musyawarah.
Dua orang itu adalah ustad Zaki dan ustadzah Husna.
"Silahkan dinikmati hidangannya ustad Zaki, ustadzah Husna. Insya Allah sebentar lagi ning Faiza akan segera datang". Kiai Haidar mempersilhkan kedua pengurus pondok itu untuk mencicipi berbagai macam kue yang tersaji.
"Terima kasih pak kiai". Sahut ustad Zaki dan ustadzah Husna.
"Mohon maaf pak Kiai, apakah masih ada yang ingin dibicarakan dengan saya?". Tanya ustad Zaki hati - hati.
"Benar ustad. Apa ustad Zaki ada keperluan lain?".
"Mohon maaf pak kiai, setengah jam lagi ada santri tahfidz baru yang mau setor hafalan". jawab ustad Zaki sungkan.
"Alhamdulillah itu ning Iza sudah datang, insya Allah pembicaraan kita tidak akan lama ustad". Kiai Haidar tersenyum lebar begitu melihat kedatangan putrinya.
"Duduklah ning, dan sampaikan apa yang menjadi rencanamu kepada ustad zaki dan ustadzah Husna".
"Terima kasih abah". Sahut Faiza.
"jadi begini ustad, ustadzah, saya ingin mengajak semua, baik santri ataupun santriwati untuk mengalakkan program menanam sayur - sayuran sendiri dipondok kita ini".
"Maksudnya?". Tanya ustad Zaki
"Kita menanam sayur - sayuran di lingkungan pondok pesantren baik putra ataupun putri. Seperti cabe, tomat,sawi,kacang panjang, terung dan berbagai macam sayuran yang biasa kita konsumsi dipondok setiap hari. Jadi kita tidak perlu membeli lagi di pasar untuk memenuhi kebutuhan sayur - sayuran kita. Selain lebih murah tentu lebih sehat, karena kita menanam sendiri secara organik". Terang Faiza menyampaikan maksudnya secara panjang lebar.
"Apakah itu tidak terlalu ribet ning?".
Ustad Zaki memberikan tanggapan setelah menyimak semua penjelasan Faiza. "Menanam sayuran itu tidak semudah yang kita bayangkan. Terlebih lagi sayuran organik".
"Insya Allah kalau kita semua ada niat, ada kemauan dan bekerja bersama -sama tidak ada yang tidak mungkin ustad".
"Bukankah menanam sayuran itu harus di tanah yang gembur dan subur?".
"Apa ustad Zaki lupa kalau ning Faiza sarjana pertanian?". Tanya kiai Haidar menyela
"Mmm... maaf pak kiai". Ustad Zaki seperti tertampar mendengar pertanyaan ini.
"Maaf ustad, alhamdulillah kebun hortikultura yang saya bangun bersama rekan - rekan alumni sarjana pertanian semua berkembang dengan baik, bahkan sudah menjadi kebun percontohan. Hampir setiap hari ada yang berkunjung untuk membeli bibit, membeli obat - obatan atau media tanam di sana". Faiza kembali menjelaskan cara menanam dan bagaimana cara memelihara sayur - sayuran yang ingin diwujudkannya di lingkungan pesantren pimpinan abahnya ini.
"Saya mengerti". Kata ustad Zaki menganguk - angguk akhirnya.
"Maaf ning, apa tanah dilingkungan kita ini bisa ditanami?". Tanya ustadzah Husna yang sejak tadi hanya penjadi pendengar.
"Benar, tanah di sekitar pondok putra juga keras, mungkin kalau cuma ditanami pohon - pohonan besar, pohon perdu, mangga, dan pepaya seperti yang sudah ada sekarang ini tidak masalah. Tetapi kalau untuk sayur- sayuran mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kiai Haidar dan ning Iza sepertinya kok kurang pas". Ustad Zaki kembali mengutarakan keraguannya.
"Pertanyaan ustadzah Husna sangat bagus sekali. Dan analisa ustad Zaki juga ada benarnya. Memang bercocok tanam itu bisa dikatakan mudah bagi orang yang hoby dan sudah berpengalaman. Tetapi akan terasa sulit bagi orang yang belum apa - apa sudah pesimis dan tidak mau mencoba". Suara Faiza bergetar dan naik beberapa oktaf.
Perkataan Faiza yang terahir terasa seperti bola api yang melesat tepat menghantam jantung ustad Zaki.
"Saya akan mendukung apapun program dan keputusan dari kiai Haidar juga ning Faiza". Ustad Zaki menganguk dengan takdim
"Bagai mana dengan ustadzah Husna?". Tanya kiai Haidar.
"Saya setuju dan mendukung dengan sepenuh hati pak kiai. Dengan adanya tanaman hijau di setiap sudut dan sepanjang jalan, akan menjadi hiburan tersendiri. Udara juga akan lebih segar pastinya". Jawab ustadzah Husna diplomatis.
"Baiklah, selanjutnya apa rencanamu ning Iza?. Kapan program ini akan dimulai?". Tanya kiai Haidar kepada putrinya.
"Setelah mendapat persetujuan dari kepala pengurus pondok putra dan putri tentu saja ning ingin segera merealisasikan program ini abah". Jawab Faiza sangat bersemangat.
"Tentunya langkah pertama yang kita siapkan adalah tanah dan lokasi yang akan kita tanami bah. Seperti yang ustad Zaki kemukakan tadi, memang tanah di area pondok keras, terlebih lagi sekarang adalah musim kemarau. Jadi kita harus mengolah tanah tersebut lebih dahulu agar menjadi subur dan kaya unsur hara". Sambung Faiza. "Untuk itu nanti ning akan minta bantuan kepada Hafiz teman ning Iza dari kebun Oemah Hijau untuk mempersiapkan lahan".
"Hafiz?". Tanya kiai Haidar kaget.
"Iya bah, Hafiz itu rekan kerja ning di kebun Oemah Hijau. Anaknya cerdas, cekatan dan sudah berpengalaman dalam mengembangkan tanaman sayur bah".
Kening ustad Zaki mengkerut mendengar gadis yang ada didepannya menyebut - nyebut nama dan memuji lelaki lain.
Sekalipun merasa sedikit tidak senang, tetapi ustad yang seumuran dengan kakak sulung Faiza itu hanya bisa menganguk - anguk menyetujui semuanya.