15. KEGELISAHAN USTAD ZAKI

519 Words
Malam sudah semakin larut. Akan tetapi tak juga ustad Zaki bisa memejamkan mata. pikirannya kacau, hatinya tiba - tiba kalut. Tidak pernah ia tiba - tiba merasa segelisah ini. Setelah pertemuan dan obrolan singkat dengan ustad malik tadi ustad Zaki segera pulang. Sholat sunah dua rokaat kemudian segera berbaring di tempat tidur. Beberapa jam sudah berlalu. Pemuda itu masih berusaha menenangkan fikiran dan tidur. Akan tetapi usahanya hanya sia - sia. Semakin ia berusaha memejamkan mata, bayangan dan ingatannya tentang Faiza semakin jelas mengganggunya. Mendengar cerita bahwa ustad Haikal datang menemui Faiza membuat hati pemuda itu gelisah. "Untuk apa Haikal menemui Faiza?. Bukankah ia sudah berjanji tidak akan menemui Faiza lagi?." berbagai macam pertanyaan tumpang tindih dikepala ustad Zaki. "Haikal sudah pernah membuat Faiza kecil patah hati dan kecewa. Dengan susah payah dulu aku menghibur dan mengobati kekecewaannya, rasa bergantungnya pada Haikal. Kenapa tiba - tiba dia datang lagi mencari Faiza?. Apakah dia sudah melupakan janjinya padaku". Ustad Zaki mengeram. Kemudia bangkit dari tempat duduk menuju wastafel untuk mencuci muka. "Astaghfirullah...." Berulang - ulang ustad muda itu mengucap istighfar. Kemudian duduk di kursi kerja samping tempat tidurnya. Menuangkan segelas air putih dan menengak sekaligus segelas penuh air itu dalam sekali tarikan nafas sampai tandas. "Astaghfirullah hal adzim....". Ucapnya lagi berulang - ulang. Beberapa saat kemudia setelah sedikit lebih tenang ustad Zaki segera beranjak mengambil wudhu. Mengelar sajadah dan sholat lagi beberapa rokaat. Tok...Tokk... lee... cah bagus... apa kamu belum bangun?. Suara panggilan dan ketukan pintu berkali - kali dari umi Tuti tak juga mendapatkan sahutan dari ustad Zaki. Setelah beberapa kali lagi mengetok pintu dan memanggil - mangil putranya dan tidak ada jawaban umi Tuti dengan ragu - ragu menekan gagang pintu. Wanita paruh baya itu melangkah masuk kamar putra kesayangannya. Disana dilihatnya sang putra sedang terlelap di atas sajadah dengan posisi miring memeluk Al Quran. "Assalamualaikum nak". Umi Tuti menguncang - nguncang tubuh anaknya berusaha membangunkan. Tidak lama kemudian ustad Zaki membuka matanya. "Umi". Ustad zaki mengerjap - kerjapkan matanya. Kaget karena melihat umi yang tiba - tiba ada di kamarnya. "Ada apa mi?". Tanya ustad Zaki lembut "Umi cuma mau mengecek saja le, biasanya sebelum subuh dan pergi kemasjid kamu sudah bangun. Pergi kedapur membuat teh untuk abi dan umi. Umi pikir apa kamu sakit atau langsung ke masjid sehingga pagi ini tidak membuatkan teh untuk kami". "Maaf mi sudah masuk subuh kah sekarang?". Ustad Zaki berdiri dan mengembalikan Al Quran di rak buku di atas meja. "Ini sudah lewat subuh nak. lihat sudah jam berapa?". jawab umi Tuti sambil jarinya menunjuk ke arah jam dinding yang terpasang di tembok. "Ya Allah". Pekik ustad Zaki kaget, jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit. "Sebentar cah bagus, kok kamu jadi panik seperti itu?. Sebenarnya kamu tadi ketiduran setelah sholat subuh atau ketiduran dan belum sholat subuh?". Tanya umi Tuti panik. "Zaki belum sholat subuh mi ". Jawab ustad Zaki. "Kalau begitu maaf ya mi Zaki sholat subuh dulu". Ustad Zaki segera buru - buru kekamar mandi. Sementara umi tuti hanya geleng - geleng kepala. Tidak biasanya putranya itu sampai telat bangun seperti sekarang ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD