"Yaa coba nilai saja sendiri gus. Aq sudah nunggu 2 jam lebih setelah datang dan mengobrol sebentar belum juga selesai aku utarakan maksudku untuk berniat mengkhitbah dia menjadi istriku, pacarnya menelpon, jadilah aku seperti orang bodoh yang disuruh melihatnya mengobrol sama pacarnya. Bahkan....".
"Bentar - bentar..." potong gus Kaif cepat. "Pacar? pacarnya Faiza? jangan ngarang ji".
"Tuh kan gak percaya". Ustad Haikal ngotot. Kemudian ia menceritakan kejadian yang tadi dia alami dirumah kiai Haidar sama persis dengan yang sudah dia ceritakan ke Reyhan.
Reyhan hanya mendengarkan sambil terus fokus mengemudikan mobil ustad Haikal.
Sementara itu gus Kaif hanya geleng - geleng kepala.
"Ok deh, atas nama adikku, ning Faiza aku minta maaf, mungkin sebenarnya ini semua hanya kesalah fahaman". Setelah ustad Haikal selesai bercerita dan mengungkapkan semua kekecewaannya ahirnya gus Kaif menanggapi dengan bijak. "Aku akan cari tahu mengenai siapa itu Hafiz,karena aku sama sekali tidak tahu. Nanti setelah mengklarifikasi semua aku akan hubungi kamu ji".
"Ok gus, maaf ya kalau aku terbawa emosi". suara ustad Haikal merendah.
"Aku bisa mengerti. Itu menunjukkan kalau memang sampeyan ada niat serius untuk menjadi adik iparku". Goda gus Kaif
Yang digoda hanya tersenyum kecut. "Ok gus, terima kasih ya, ni aku sudah mau nyampek rumah. Sampai ketemu lusa di hajatannya pak Bagus di jakarta".
"InsyaAllah ji... Assalamualaikum". Tutup gus Kaif
"Waalaikumsalam gus". Balas ustad Haikal.
Sementara itu, di kediaman kiai Haidar tampak beberapa rombongan tamu berpamitan. Akan tetapi datang lagi serombongan tamu yang lain.
Faiza yang siang tadi selamat dari kutbah abahnya karena ada tamu masih merasa gusar.
Perasaannya gelisah dan merasa bersalah. Sebenarnya malam ini dia ada jadwal ke asrama putri menemui ustadzah Husna. Mereka berencana menanam sayur - sayuran di dekat kolam ikan asrama pondok putri.
Tetapi karena abahnya berpesan bahwa dia tidak boleh kemana - mana sebelum menyelesaikan masalah tadi siang saat ustad Haikal bertamu membuat gadis itu tidak kemana - mana. Ia meminta tolong kepada abdi dalem untuk menyampaikan pesan kepada ustadzah Husna bahwa malam ini tidak bisa datang untuk bermusyawarah dengannya.
Adzan magrib menggema. Suara merdu sang muadzin begitu menyejukkan hati.
Faiza tahu, itu adalah suara ustad Zaki. Idola santri - santri putri. Meskipun ustad Zaki terkesan arogan dan galak, tetapi santri - santri putri tetap mengidolakannya.
"Kalau ustad Zaki yang galak tapi bersuara merdu saja membuat cewek - cewek histeris dan tergila - gila. Bagaimana ya kalau ustad Haikal yang disini? apa santri - santri putri juga akan mengidolakan ustad Haikal seperti cewek - cewek diluar sana?" Tanya Faiza dalam hati.
"Hmm... ustad Zaki sama ustad Haikal ganteng mana y?".
"Assalamualaikum". Umi maryam tiba - tiba mengagetkan lamunan Faiza.
"Eh... umi... ". Faiza terperanjat. Kemudian tersipu malu. "Waalaikumsalam umi".
"Magrib - magrib kok melamun ning tidak baik lho". Tegur umi Maryam.
"Cepat ambil wudhu ayo sholat".
"Maaf mi, kebetulan iza sedang tidak sholat. Tamunya baru saja datang setelah sholat asar tadi".
"Oh begitu. Yasudah. Umi ke pondok putri dulu. Jangan melamun". pesan umi maryam
"Iya umi. InsyaAllah". Faiza mencium tangan uminya.
"Oh iya umi hampir saja lupa ning. Tadi kakakmu Kaif telpon katanya nanti habis isya mau nelpon kamu. Ada hal yang mau dibicarakan sama kamu katanya".
"Iya umi, terima kasih". Faiza mengantar uminya sampai kedepan rumah.
"Kebetulan kalau begitu, aku juga ingin menanyakan perihal ustad Haikal kepada kak Kaif". Gumam Faiza dalam hati.