Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Karina tiba di sebuah restoran tempat dimana janji temu itu diadakan. Jujur saja Karina merasa sedikit gugup.
"Dihh tumben tuh wajah kayak orang nahan kebelet pipis," ledek Meliana ketika melihat Karina melihat penampilan dirinya dari balik kaca spion mobil.
"Ini urusan antara hidup dan mati," sahut Karina setelah memastikan jika dirinya berada dalam kondisi prima.
Semua terlihat sempurna tapi Karina sendiri masih tak begitu yakin dengan ide papanya itu. Setelah sekian banyak pria yang mengejar-ngejar dirinya sejak dulu bahkan menolak satu persatu pria yang datang menjemputnya sekedar untuk makan malam. Dan kini, Karina harus menyerahkan hidupnya kepada pertemuan kali ini. Pertemuan yang akan membawa nasib baik atau nasib buruk bagi perusahaan mereka kelak.
Seperti membeli kucing dalam karung, Karina sendiri tak tahu rupa dan wajah dari pria yang katanya akan menjadi calon suaminya nanti.
"Kamu pasti bisa Karina. Buktikan jika kamu adalah seorang Daru." Karina menyemangati dirinya saat ini sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau ragu mending gak usah masuk aja." Suara Meliana menginterupsi pikiran Karina yang melayang entah kemana untuk beberapa detik. "Bukannya mau menghasut sih tapi kalau yang datang malah bapak-bapak gendut perut buncit gimana?"
Karina tertawa sumbang. "gak mungkin," bantahnya tapi Karina sendiri sempat kepikiran hal itu juga. "Kamu tahu sendiri kalau bukan aku siapa lagi yang akan melakukan hal ini," sambung Karina sambil menatap Meliana dengan penuh arti.
Meliana bahkan tak segan menghembuskan nafas kasar karena beginilah nasib para anak-anak orang kaya. Demi mempertahankan harta dan juga kedudukan, mereka tega menjual anak-anak mereka dengan dalih menyelamatkan perusahaan. Bukan kah itu sama saja mereka menjual anaknya sendiri?
"Masuk atau gimana ini?" Tanya Meliana karena dirasanya jika Karina telah pasrah dengan nasibnya.
Karina menoleh ke arah Meliana. "Masuk aja lagian kita udah terlanjur sampai."
Meliana pun mengangkat bahunya lalu dia pun segera keluar dari dalam mobil Karina. Posisinya di sini hanya seorang sahabat dan Meliana sendiri tak punya hak lebih atas Karina. Dia hanya bisa memberi nasehat jika Karina membutuhkannya.
"Aku pantau dari jauh. Kalau misalnya tuh cowok melakukan tindakan kekerasan sama kamu, aku akan langsung turun tangan." Meliana menepuk bahu kiri Karina pelan sebelum mereka masuk ke dalam restoran itu.
Karina dan juga Meliana sama-sama memasuki restoran lalu mereka berpisah karena Karina harus menuju ke tempat reservasi yang telah disebutkan papanya tadi. Setelah menanyakan kepada pelayan restoran, akhirnya Karina mencari tempat dimana pria yang akan dijodohkan kepada nya itu.
Karina mencari meja tempat reservasi itu dan akhirnya menemukannya. Nafas Karina seakan tercekat ketika dia melihat dengan amat sangat jelas siapa pria yang telah duduk di meja itu. Tangan kanannya memegang dadanya yang entah kenapa saat ini jantung seakan berdegup kencang. Ini adalah pengalaman pertama yang terasa sangat asing baginya. Bahkan saat dia mengetahui jika dia cumlaude pun, jantungnya berdetak biasa saja tak pernah merasakan debaran seperti saat ini.
"Dia kan pria yang di panti itu," teriak hati Karina kaget sekaligus bahagia.
Apakah Tuhan telah menjawab atas doa-doanya beberapa waktu lalu? Karina memang berdoa jika dia ingin memiliki pendamping hidup seperti pria yang dia lihat di panti asuhan. Siapa sangka jika kejadian tak terduga seperti ini bisa terjadi.
Karina melihat sekali lagi penampilan dirinya lalu dengan sangat percaya diri melangkah menuju ke arah pria tersebut. Bagi Karina, kesan pertama itu sangat penting terlebih untuk kencan buta yang telah di atur oleh orangtuanya. Dia bahkan tak peduli maksud dan tujuan utama dari pertemuannya saat ini.
"Maaf menunggu lama," ucap Karina sembari menarik kursi yang berada tepat di depan pria itu. Lalu dia pun duduk dengan sangat anggun. "Jam pulang kerja memang selalu macet," lanjut Karina dengan alasan yang tepat.
Pria tersebut hanya tersenyum dan membuat jantung Karina seakan mau pecah karena di tembak panah asmara. Apakah ini yang dinamakan cinta? Bisik hati Karina.
"Ya saya maklum," timpalnya dengan nada yang sangat ramah. "Saya datangnya yang kecepatan."
Karina menyelipkan anak rambutnya di balik telinganya. "Lain kali aku akan datang lebih cepat lagi," ucap Karina sambil tertawa kecil. Karina berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Adam, Adam Brynata." Pria itu memperkenalkan dirinya kepada Karina. Tak lupa dia mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Karina. "Dan mungkin ini kali kedua kita bertemu, bukan?"
Dalam hati, Karina menjerit kesenangan. Jika ini adalah pertemuan keduanya Adam tapi bagi Karina ini adalah pertemuan untuk kesekian kalinya.
"Karina Shan Daru. Panggil Karina aja," sahut Karina kalem sambil menyembunyikan suara teriakan bahagianya di dalam hati.
***
Di sepanjang perjalanan menuju ke kost nya Meliana, Karina tak henti-hentinya menceritakannya tentang pertemuannya dengan Adam. Pria yang telah lama Karina lihat di panti tapi tak pernah kunjung untuk memberanikan diri sekedar hanya menyapa. Dan kali ini semesta seakan memberikan berkah pada Karina sehingga dia dapat bertemu, mengetahui namanya bahkan mengobrol banyak hal pada pria itu.
Meliana yang duduk disebelahnya hanya bisa tersenyum mendengat segala celotehan dari sahabatnya itu. Maklum saja telah sejak lama Karina menjadi pengagum si pria dan tahu-tahu malah bertemu dan mengobrol seperti teman lama. Bukan kah hari ini Karina mendapatkan jackpot?
"Jadi kalian ngobrol apa aja? Terus dia bilang apa aja tentang kamu?" Tanya Meliana tak sabaran.
"Dia bilang kalau aku adalah salah satu bentuk kesempurnaan wanita," ujar Karina sambil tersenyum sumringah. "Terkesan gombal sih tapi mungkin dia mau mencairkan suasana."
Meliana memegang ujung dagunya dengan tangan kanannya. Wanita itu tampak berpikir sejenak tapi segera ia menggelengkan kepalanya karena rasanya spekulasi dan teorinya terlalu kejauhan.
"Bakalan ada pertemuan selanjutnya?" Lanjut Meliana penasaran. Karena sepanjang Karina dan Adam ngobrol, Meliana dapat melihat jika tak ada kecanggungan sama sekali.
Karina lagi-lagi mengangguk. "Iya dan mungkin dalam Minggu ini," jawabnya sambil tersenyum. "Kayaknya Tuhan benar-benar kabulin doa aku deh."
"Kan udah aku bilang waktu itu kalau kamu suka sama tuh cowok. Lah kamu nya nyangkal terus." Meliana mencoba kembali mengingatkan Karina tentang obrolan mereka beberapa hari lalu. "Jadi tentang konsep jika cinta itu buta bagaimana?" Goda Meliana sambil menarik turunkan alisnya.
"Masih harus belajar," aku Karina jujur. "Kamu kan tau kalau aku selalu perhatikan Adam dari jauh."
"Yah aku paham sih." Meliana masih merasa ada hal yang janggal tapi dia tak ingin menuruti kata hatinya saat ini. Meliana tak ingin merusak kebahagiaan Karina saat ini. "Tapi ada baiknya kita sama-sama pelajari sifat Adam."
Karina hanya menganggukkan kepalanya. "Sikap sempurna Adam yang di tunjukkan tadi pun terkesan terlalu sempurna," imbuh Karina.
Sementara itu di suatu tempat, Adam tengah duduk di sebuah taman yang tak jauh dari restoran tadi. Walaupun senja telah kembali ke peraduannya dan telah berganti dengan malam, Adam masih betah duduk di sana. Dia bahkan tak memperdulikan beberapa orang yang tengah lalu lalang sambil melihatnya duduk di atas papan ayunan.
Pikiran Adam saat ini tengah bercampur aduk bagai benang kusut yang sulit untuk diuraikan.
"Cih si tua bangka itu sengaja melakukan ini," decih Adam yang tengah diselimuti oleh kabut kemarahan. "Sampai dia sengaja mengatur pertemuan ini agar langkah ku berhenti."
Adam memegang tali ayunan itu dengan sangat erat sehingga jari-jarinya pun terasa sakit tapi Adam sama sekali tak memperdulikannya. Dia merasa di jebak oleh ayahnya sehingga mau tak mau, suka tak suka dia harus mengikuti semua perintah ayahnya bagai seekor anjing yang penurut pada sang majikan. Begitulah ibarat kehidupan Adam saat ini. Tak lepas dari campur tangan ayahnya dan dia hanyalah salah satu boneka kesayangan ayahnya.
Adam tertawa pelan sambil menatap langit. Iya, Adam akan mengikutinya segala rencana yang telah di atur oleh ayahnya. Dia tak akan peduli apa yang akan dia lakukan jika ayahnya benar-benar akan melaksanakan niat itu nantinya.
Adam menatap langit sore. Dia tak boleh kalah dengan keadaan saat ini karena masalah perjodohannya. Karena baginya wanita yang akan dijodohkan padanya hanyalah sekedar rumah singgah bukan rumah yang sebenarnya. Iya, Adam telah menemukan rumahnya jauh sebelum perjodohannya konyol itu terjadi dan hingga detik ini terpaksa harus dia rahasiakan dari siapapun termasuk orang terdekatnya.
"Akan ku pastikan jika tak ada seorangpun yang akan mengusik mu Alina sayang," gumam Adam sembari mengingat wajah kekasih hatinya.