Bab 4

1330 Words
Adam melirik jam di pergelangan tangannya dan masih ada cukup waktu untuk meeting dengan para pegawai di kafenya. Pria itu melihat ke sekeliling panti asuhan sembari menunggu Alina yang sedang ada urusan dengan ibu panti. Adam mempersilahkan Alina untuk mengambil waktu sebanyak mungkin karena kunjungan berikutnya di bulan depan. Ketika Adam hendak berbelok tiba-tiba saja langkahnya terhenti karena tak sengaja menabrak bahu seseorang. Adam membungkukkan sedikit badannya meminta maaf kepada wanita yang tak sengaja dia tabrak sembari mengucapkan permintaan maaf. Si wanita dan temannya itu tampak sedikit kaget tapi cepat-cepat berhasil menguasai situasi. "Maaf mas," ucap wanita berwajah cantik dengan rambut bergelombang sempurna. Setelah mengucapkan dua kata itu, wanita itu pun berlalu dan Adam pun tak memperhatikan lebih lanjut. Perhatiannya kini telah terkunci ke arah wanita yang dia cintai yang sedang berjalan ke arahnya. "Maaf sayang, udah nunggu lama ya?" Alina menghampiri Adam sambil tersenyum bersalah. Adam dengan sigap mengambil tas yang sedang di pegang oleh Alina. Tangan kanannya lalu mengacak dengan gemas rambut kekasih hatinya itu. "Gak kok," jawab Adam. "Udah selesai nih urusannya?" Alina mengangguk dengan mantap. "Aku udah izin dengan ibu kalau mau ngekost tapi ibu gak izinin," cerita Alina sembari berjalan ke arah mobil Adam yang terparkir tak jauh dari tempat mereka saat ini. "Terus gimana?" Adam sedikit penasaran. Beberapa bulan terakhir setelah Alina lulus kuliah, Alina membantu Adam membuka sebuah kafe. Ternyata kafe yang dikelola oleh Adam berkembang dengan pesat. Kini Adam telah membuka sebuah cabang yang berada di luar kota dan tentunya Alina lah yang di tunjuk sebagai pengelola di sana. "Aku rayu ibu dan berhasil," sahut Alina sembari menyegir lebar. Alina celingak-celinguk memperhatikan keadaan di sekitar panti asuhan dan syukur saja siang ini tampak lengang. "Makasih ya sayang udah bantu aku terus," ucap Alina penuh rasa syukur sambil menggandeng tangan Adam. "Aku lah yang harus bilang makasih sama kamu." Jika saat itu Adam tak bertemu dengan Alina mungkin saja dia sudah tak berada di dunia lagi saat ini. Alina adalah malaikatnya, separuh hidupnya dan juga penopang jiwanya yang rapuh. Alina adalah pusat gravitasi nya saat ini. Alina hanya mengulum senyum. Kejadian yang sudah cukup lama dan ternyata pertemuan tak terduga itu meninggalkan kesan manis di hidup Adam. "Kalau gitu kamu harus bayar jasa aku seumur hidup kamu," ucap Alina setengah becanda. Alina sangat mencintai Adam dan dia ingin berada di sisi Adam untuk selamanya. Adam tampak berpikir sejenak lalu tiba-tiba saja Adam merengkuh tubuh Alina yang mungil. "Pastikan kamu gak nyesal, sayang," bisik Adam tenang tapi mampu membuat jantung Alina berdetak sangat kencang. Alina melingkarkan kedua tangannya di tubuh Adam. Dia merasa sangat bahagia. Hidupnya yang sangat gelap perlahan kini berubah menjadi terang berkat kehadiran Adam. *** Sejak pertemuannya dengan pria di panti asuhan satu Minggu yang lalu. Karina kedapatan beberapa kali termenung sambil memandangi pemandangan dari balik kaca gedung tempat ia bekerja. "Andai saat itu aku lebih berani untuk sekedar berbasa-basi," bisik hari Karina mengingat kejadian di panti asuhan seminggu lalu. Setelah cukup lama, Karina akhirnya bisa melihat wajah pria itu dari jarak cukup dekat. Tapi sayangnya situasi saat itu tak mendukung sama sekali. Karina menghela nafas. "Andai saja ada keajaiban." Lagi-lagi Karina mencoba berharap. Sementara itu, Meliana memperhatikan tingkah Karina. Sudah hampir seminggu sejak pulang dari panti asuhan, Karina seperti kehilangan fokus. Dia berharap jika sang ratu es bisa merasakan kehangatan rasa cinta. Sebenarnya jika di minta oleh Karina, Melina pasti akan senang hati menyelidiki pria yang kerap mereka jumpai di panti asuhan. "Permisi," ucap Meliana setelah mengetuk pintu ruang kerja Karina dan mendapati bos nya itu tengah memandang jauh ke depan. Karina membalikkan tubuhnya dan mendapati asistennya telah berdiri sambil memegang map biru. "Ini dokumen yang ibu minta," kata Meliana dengan kalimat formal. Jika berada di tempat kerja, baik Meliana ataupun Karina a selalu bersikap layaknya seperti atasan dan bawahan pada umumnya. Tapi jika berada di luar ruangan atau mereka sedang meeting di luar. Meliana dan Karina pasti berbicara layaknya teman. Meliana pun meletakkan map itu di atas meja lalu bersiap untuk meninggalkan ruangan itu. Karena tak ada hal yang harus dia bicarakan lagi. "Mel, pulang kerja nanti saya mau bicara." Meliana hanya mengangguk lalu tersenyum. Dia hanya bisa menduga-duga hal apa yang akan dibicarakan oleh Karina. Setelah jam kerja usai, Meliana dengan sigap merapikan meja kerjanya lalu segera pergi menuju basement gedung karena Karina telah menunggunya. Meliana sangat penasaran karena sebelum menuju basement, Karina meletakkan secarik kertas di atas meja kerja Meliana. "Astaga bisa mati penasaran kalau kayak gini" ucap Meliana sambil menyampirkan tas nya ke bahu kanannya dan bergegas menuju lift ke arah basement. Ketika pintu lift berbuka, Meliana berlari kecil menuju mobil Karina. Dan dari jauh dia melihatku Karina tengah menunggu di samping mobilnya. Mau tak mau, Meliana harus bergegas sebelum kena semprot Karina. "Sorry lama," ucap Meliana setelah masuk ke dalam mobil Shania. "Kira-kira mau bahas apaan nih? Sumpah aku tuh penasaran banget tau," ucap Meliana gregetan sambil memasang seatbelt nya. Karina menyalakan mobilnya lalu dengan perlahan mengemudikan mobilnya keluar gedung perkantoran itu. Dia butuh udara segar agar pikirannya jernih. Pikirannya berkelana kemana-mana sejak papanya mengatakan akan menjodohkan dirinya dengan salah satu pria, anak kolega mitra kerja papanya. Karina tahu kemana arah pembicaraan papanya. Jelas tak jauh-jauh dari perjodohan yang mau tak mau harus dia lakukan. "Ada cowok yang harus aku temui," jawab Karina dengan wajah serius. Masalahnya papanya tak meninggalkan jejak apapun seperti foto misalnya. Hanya memberikan beberapa clue tentang pria yang akan ditemui Karina nantinya. Bagaimana tak frustasi coba. Setelah hampir separuh isi otaknya di penuhi oleh pria itu, kini Karina harus dihadapkan dengan hal yang tak disukainya. Meliana melotot tak percaya. Sejak kapan ratu es mau ketemu sama seorang laki-laki? "Buset, ini gak becanda kan?" Meliana terkejut bukan main. Biasanya para pria lah yang menemui Karina dan ini malah sebaliknya. Karina menganggukkan kepalanya. "Papa telp dan seperti biasa, perintah adalah perintah." Meliana sangat paham. Pak Daru adalah orang yang tegas. Ketika mengatakan A Dan harus dilaksanakan. Pak Daru tak suka dengan adanya bantahan. Karina mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas kemudi mobil sambil menunggu lampu lalu lintas berita warna menjadi hijau. "Dan aku gak punya pilihan lain." Karina menatap wajah Meliana dengan sedikit lesu. Meliana memegang dagunya. "Jadi alasan ajak aku biar ada obat nyamuk di antara kalian?" "Jaga-jaga aja mana tau tuh cowok bukan cowok gak benar dan aku punya bukti akurat ke papa" sanggahan Karina atas ucapan Meliana yang asal nyablak itu. "Kamu tau sendiri papa gimana orangnya," keluh Karina untuk kesekian kalinya pada sahabatnya itu. Meliana membenarkan ucapan Karina. Pak Daru adalah orang yang disiplin dan termasuk salah satu orang yang memiliki andil yang sangat besar kenapa Karina bisa seperti saat ini. Tak hanya mengatur dalam segala hal mengenai jodoh tapi ayahnya Karina pun turut serta secara tak langsung menyeleksi siapa saja yang berhak menjadi teman anaknya itu. Dan Meliana adalah satu dari sekian orang yang berhasil lolos dari segala macam ujian dari pak Daru. "Oke-oke aku paham maksudnya gimana," sahut Meliana. "Tapi aku mantau kalian dari jarak yang memungkinkan, gak jauh dan gak begitu dekat," usul Meliana berjaga-jaga. Lampu lalu lintas telah berubah warna, Karina pun melajukan lagi mobilnya menuju tempat yang papa nya sampaikan padanya tadi. Di dalam pikirannya saat ini, Karina benar-benar tak ingin pergi menuju ke tempat itu. Tapi ketika papanya berkata sambil memohon seperti itu membuat Karina tak berdaya untuk menolak permintaan tersebut. Entah kenapa hati kecilnya berkata jika pertemuannya dengan cowok misterius itu akan menghantarkan pada sebuah jalan yang penuh dengan kerikil tajam. "Oke, aku percaya sama kamu." Meliana tiba-tiba tersenyum usil. "Kalau misalnya nih cowok yang bakalan kamu temui itu si cowok panti gimana?" Tanya Meliana tiba-tiba dan membuat Karina mengerem mendadak mobilnya. Jidat Meliana hampir menghantam dasboard mobil karena aksi Karina yang mendadak itu. "Kalau malaikat lewat dan diamini gimana?" Ucap Karina sedikit panik. "Ya gak masalah kan, anggap aja itu bonus buat kamu," sahut Meliana enteng. "Ntar kalau buat FTV judulnya begini, cinta ku berawal dari panti asuhan." Karina langsung menggeplak bahu Meliana. "Awas kamu." Meliana langsung ngakak melihat wajah Karina yang memerah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD