Bab 6

1073 Words
Alina tersenyum ketika melihat kafe yang dia kelola saat ini sedang ramai pengunjung. Terhitung sejak seminggu lalu grand opening, pengunjung yang datang mulai melonjak walaupun tak terlalu signifikan. Walaupun begitu Alina harus bekerja ekstra keras agar kafe cabang yang sedang dia pegang tak bangkrut. Dia tak ingin Adam kecewa padanya karena telah mempercayai kafe ini padanya untuk dikelola. Bicara mengenai Adam, Alina sudah lama menjalin hubungan dengan pria itu. Jika di hitung-hitung sejak mereka pertama kali berjumpa hingga detik ini, mungkin perkenalan mereka telah menginjak usia yang ke sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun pula, Alina tahu seluk beluk mengenai latar belakang Adam yang ternyata anak orang kaya. Hal ini sangat kontras dengan dirinya yang merupakan anak panti asuhan. Hubungan Alina dan Adam pun telah terjalin selama lima tahun sejak di bangku kuliah semester tiga. Alina saat itu mati-matian menolak Adam tapi pria itu dengan sangat gigih membuktikan jika dirinya memang tulus mencinta Alina. "Pacar ku ini lagi mikirin apa sih?" Tau-tau Adam sudah berada di sebelah Alina yang sedang menatap lurus ke arah pengunjung. Alina tersentak sembari memegang dadanya seakan jantung nya akan copot. Adam memang sangat hobi membuatnya terkejut seperti ini. "Kamu ini," desis Alina pelan sambil mencubit punggung tangan Adam pelan. "Kalau jantung ku copot gimana?" Keluh Alina sambil menatap sebal ke arah Adam yang malah tertawa tanpa dosa. "Ampun bunda ratu," ucap Adam sambil tertawa. "Hei hei, aku kan udah minta maaf kenapa di cubit terus." Bukannya berhenti Alina malah makin semangat mencubit punggung tangan Adam. Sebenarnya cubitan Alina tak sakit sama sekali, Adam nya saja yang berlebihan. "Kamu tuh kebiasaan banget, hobi banget buat aku kaget," omel Alina. Lalu Alina memberhentikan aksi mencubit Adam karena tiba-tiba saja Alina tertarik dengan raut wajah Adam yang sedang tak biasa. "kita pindah tempat yuk," ajak Alina sambil menggandeng tangan Adam dan Adam sendiri sama sekali tak protes. Alina berjalan di depan persis seperti seorang ibu yang menyeret anaknya yang bandel. Adam yang berada di belakang Alina hanya bisa tersenyum tipis. Sepertinya kekasihnya itu sudah bisa menebak jika ada sesuatu hal yang tak beres saat ini. Adam memuji kepekaan Alina mengenai dirinya. Hal ini pula lah yang mendasari kenapa Adam begitu mencintai Alina melebihi nyawanya sendiri. Alina membawa Adam ke ruang kerjanya karena di tempat ini mereka bisa dengan sangat bebas mengobrol apa saja. Apalagi hal ini menyangkut masalah pribadi dan Alina tak ingin staf di kafe ada yang mencuri dengar. "Seminggu yang lalu ruangan ini masih sangat suram sekarang terkesan sangat hidup," komentar Adam mengenai ruang kerja Alina yang memang telah di sulap dengan begitu cantik. Seminggu yang lalu, ruangan berukuran empat kali empat meter ini hanyalah berupa ruangan standar yang hanya berisi meja kerja dan sebuah sofa kecil dan juga meja kecil di depannya. Sekarang ruangan itu telah mendapatkan beberapa sentuhan seperti dindingnya yang dilapisi wallpaper berwarna hijau, sebuah lemari kecil dan beberapa jejeran bunga hias yang berada di sudut kiri ruangan itu. Alina tersenyum tipis. "Aku sangat berterimakasih atas komentar kamu sayang," sahut Alina menatap Adam yang kini sedang melihat jejeran bunga hias. Alina masih memerhatikan Adam yang masih saja betah mengulur waktu. "Kamu mau cerita atau mau aku paksa kayak biasa?" Tawar Alina pada Adam. "Kamu gak punya bakat akting kalau di depan ku," lanjut Alina pada kekasihnya itu. Adam memutar tubuhnya dan menatap ke arah Alina. "Aku malah lebih suka dengan cara yang biasa," ucap Adam sambil menyengir lebar. Alina berdecak kesal sambil memutar bola matanya. "itu mah mau nya kamu," sahut Alina. Adam berjalan ke arah meja kerja Alina dan menarik salah satu laci yang ada di sana. Dia pun mengeluarkan sebuah buku, buku jurnal mereka berdua. "Kamu ingat buku ini kan?" Adam memegang sebuah buku jurnal berwarna coklat itu ke udara. Alina menganggukkan kepalanya karena dia tahu jelas tentang buku itu. "Ini buku rahasia kita berdua dan menurut ku sudah seharusnya kita menyimpan buku ini." "Seberat apa masalah kali ini sampai buku jurnal itu harus pensiun dini?" Alina tak habis pikir. Terakhir kali Adam mengatakan akan menyimpan buku itu adalah empat tahun yang lalu. Kenapa sekarang Adam melakukan hal yang sama?! "Pernikahan ku sudah di atur Alina." Sebuah kalimat mematikan keluar dari mulut Adam dan membuat Alina terpaku di tempat. Cepat atau lambat sebenarnya saat seperti ini akan datang. Seharusnya Alina telah menyiapkan hatinya. Tapi kenapa sekarang dia merasa tak rela?! "Aku tak punya pilihan." Adam menatap Alina dengan wajah sendu bahkan untuk memeluk kekasihnya saat ini pun, Adam rasanya tak sanggup. "Nama Brynata ini membuat apapun yang aku lakukan selalu salah." Alina masih terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, tak mungkin mereka berpisah kan? Dia tak akan sanggup jika Adam benar-benar pergi meninggalkannya saat ini. Alina masih membutuhkan Adam. "Kamu mau tinggalin aku?" Akhirnya Alina mengatakan hal yang ada dalam pikirannya dengan suara yang parau. Adam berjalan mendekat ke arah Alina. Hatinya terasa sangat sakit melihat wajah sedih kekasihnya itu. Dengan gerakan cepat, kedua tangan Adam telah merangkul tubuh mungil Alina dalam dekapannya. Ayahnya memang sangat keterlaluan dan mengumpankan dirinya untuk melebarkan sayap bisnis. "Aku tak akan pernah meninggalkan mu, sayang," bisik Adam. Hatinya saat ini bergejolak. "Tapi aku harap kamu bisa mengerti posisi ku." Tanpa Adam minta pun Alina sangat sadar diri. Dia yang Upik abu tak akan pernah bisa menjadi putri di sebuah kerjaan megah. Dia yang terbiasa ditelantarkan dan terbuang dan harus berjuang mati-matian agar keberadaannya tetap dibutuhkan. Alina selalu mengambil peran menjadi orang baik agar orang lain menyukai dirinya. "Sudah sepuluh tahun kita bersama." Suara Alina tersendat. "Aku selalu mengerti posisi ku dan posisi mu." Hati Adam terasa tersayat. Bukan seperti ini yang dia inginkan. Keberadaan Alina sangatlah penting dalam hidupnya walaupun keberadaan Alina terbuang dan terasing. Adam tetap menyimpan nama Alina di relung hatinya. "Aku janji padamu sayang walaupun aku telah menikah nantinya, aku akan tetap mencintaimu." Adam mengurai pelukan mereka dan menatap kedua mata Alina yang telah memerah menahan tangis. "setelah semuanya selesai, aku akan membawa mu pergi jauh dan aku akan melepaskan nama Brynata ini." Alina mencengkeram erat baju Adam. Walaupun Adam telah berjanji tapi tak ada kepastian jika suatu saat perasaan Adam akan goyah. Alina lalu menatap ke dalam mata Adam. Sebelum Adam mencampakkannya suatu saat nanti, Alina harus mengikat Adam lebih erat lagi. "Buktikan jika ucapan mu benar," tantang Alina. "Aku akan menikahi mu selang beberapa bulan ketika aku menikahi wanita itu." Hanya jawaban itulah yang terpikirkan oleh Adam saat ini. Tak ada penawaran apapun yang lebih bagus. Apapun yang terjadi Adam tak akan pernah mau melepaskan Alina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD