"kar, habis ini ada acara gak?" Tanya Meliana setelah jam kerja usai di Senin sore.
Karina sedang memperhatikan layar komputernya karena masih ada beberapa hal yang harus dia perbaiki. Laporan yang tengah dia kerjakan harus selesai sore ini dan di kirim ke email atasannya.
"Masih ngerjain laporan," sahut Karina tanpa memperhatikan Meliana yang telah duduk di seberangnya. "Tumben ngajak keluar sore kayak gini, gak disamperin Haikal?"
Mendengar nama Haikal di sebut-sebut membuat Meliana mendenguskan nafas kesal. Meliana sangat marah pada pacarnya yang telah berapa kali ingkar janji. Bukan sekali dua kali tapi berulang kali dan Meliana masih saja memaafkan pria itu.
"Masalah yang sama lagi?" Tebak Karina. Dia pun menghentikan aktivitasnya untuk beberapa menit dan menatap ke arah sahabatnya itu.
Meliana teringat kejadian semalam saat dia pergi ke klub malam bersama sepupunya. Niat hati ingin bersantai sembari meminum cocktail beberapa gelas. Dia malah disuguhkan pemandangan yang membuat matanya sepet. Sebelumnya Meliana telah mengirim pesan kepada pacarnya untuk ketemuan tapi pacarnya mengatakan jika dia sedang sibuk. Oleh sebab itu ketika Cecil sepupunya mengajak ke klub malam tanpa pikir panjang, Meliana pun menyambut ajakan itu.
"Kali ini lebih parah," sahut Meliana tak semangat. "Kalau masalah dia selingkuh oke aku coba memahami karena aku nya juga sibuk," lanjutnya.
Karina melepaskan kacamatanya dan meletakkan di sebelah kiri dekat tumpukan dokumen. Karina tahu jika Haikal memang beberapa kali kedapatan mengirim chat bernada mesra dengan beberapa wanita. Tapi Meliana selalu memaafkan pria itu. Padahal Karina telah berulang kali mengatakan jika kebiasan buruk Haikal tak akan mudah hilang. Kebiasaan itu telah mendarah daging karena sekali saja kedapatan selingkuh, pasti akan terus di ulang lagi.
"Jadi masalah apa?!" Karina jadi penasaran. Apa yang membuat sahabatnya itu sampai mengambil keputusan yang besar.
"Semalam aku dan Cecil ke klub malam, niat dari rumah mau menghibur diri karena Haikal gak bisa di ajak ketemuan." Meliana mulai menceritakan kejadian semalam yang masih terekam jelas di otaknya. "Belum juga pesan cocktail malah dapat pemandangan yang buat mata sepet."
Karina hanya diam sambil mendengarkan cerita Meliana. Ketika pikiran Meliana mumet, gadis itu pasti akan pergi ke klub malam. Itu adalah salah satu kebiasaan buruk Meliana yang tak di sukai Karina hingga saat ini. Walaupun Meliana terkadang ke klub malam, teman nya itu masih tahu batasan dan juga pandai menjaga dirinya. Begitu-begitu Meliana pemegang sabuk hitam Dan 2 karate. Jadi coba-coba saja berbuat aneh-aneh padanya kalau tak mau di buat babak belur oleh Meliana.
"Si b******k itu malah ciuman mesra dengan cewek berambut pirang. Mana tangannya udah bergerilya ke paha tuh cewek lagi," cerocos Meliana emosi. "Oke dari segi penampilan cewek itu menang banyak karena emang wajahnya cantik dan kita sempat kontak mata. Bukannya menghentikan ciumannya malah tambah dalam. Kurang ajar banget emang." Meliana lepas kontrol dan emosi.
Di tambah cewek berambut pirang itu seakan melayangkan tatapan mengejek ke arahnya.
"Terus kamu diam aja?"
Meliana tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu. Mungkin dulu-dulu Meliana akan sabar menghadapi Haikal yang chat dengan berbagai wanita di luaran sana karena hal itu tak terjadi di depan matanya sendiri. Tapi semalam, seluruh darahnya seakan mendidih. Detik itu juga rasanya Meliana telah membuang-buang waktunya untuk pria yang salah. Bukan waktunya untuk sabar tapi untuk sadar diri. Sadar jika Haikal hanya mempermainkan dirinya dan tak pernah serius menjalin hubungan dengannya.
"Ya gak lah," sahut Meliana cepat. "cocktail Cecil yang baru aja selesai di racik bartender aku siram ke arah mereka berdua." Meliana tersenyum penuh kemenangan. "Ketika mereka terperanjat kaget dan pelukan mereka terlepas. Saat itu juga dengan sekuat tenaga aku tendang perut Haikal sampai si b******k itu tersungkur di lantai."
Karina bertepuk tangan karena Meliana telah melakukan hal yang tepat. Kalau Karina jadi Meliana, tak hanya satu tendangan yang melayang mungkin dua atau tiga. Kalau bisa dia akan membuat pria itu babak belur. Lebih parah menyembuhkan hati yang patah dan berdarah-darah dari pada luka fisik yang diterima oleh Haikal.
"Cuma sekali aja?"
"Sekali udah cukup buat tuh cowok malu," ujar Meliana.
"Terus Cecil gak coba hentikan kamu?"
Meliana tergelak. Sepupunya itu malah memesan minuman baru lagi sambil melihat dia dan si cewek rambut pirang adu mulut. Emang sepupu gak ada akhlak nya.
"Si cebol itu malah asik minum lagi dia," sahut Meliana geli. "tapi ya sebelum pergi ninggalin dua makhluk b*****h itu, aku sempat melayangkan satu tamparan di pipi si b******k. Puas lah hati ini dan gak ada penyesalan lagi." Meliana menutup ceritanya.
"Dari awal kalian pacaran, aku kan udah pernah kasi tau kamu kalau Haikal itu hanya manfaatin kamu." Karina jadi greget sendiri mengingat setahun lalu saat Meliana memperkenalkan Haikal padanya. "Kamu nya mah ngeyel. Kalau udah bucin mah susah. Semua omongan yang aku bilang pada mental semua."
Meliana hanya cengengesan mengingat semua nasehat yang diberikan Karina padanya. Tapi dasarnya saja dia memang sudah jadi b***k cinta. Apapun yang dikatakan Karina hanya di anggap angin lalu.
"Ya deh kanjeng ratu. Hamba mengaku salah." Meliana tersenyum lebar ke arah Karina. "Maka dari itu aku mau merayakan putusnya dari Haikal. Aku mau traktir kamu makan." Meliana menarik turunkan alisnya.
Karina hanya geleng-geleng kepala. "Baiklah tapi setelah kerjaan selesai. Hari ini laporan ini udah harus di kirim."
Meliana mengepalkan kedua tangannya ke udara. Dia tak mau terlihat menyedihkan setelah putus dari Haikal.
"Oke aku bakalan nunggu," sahut Meliana semangat.
Tak terasa hampir satu jam Meliana menunggu Karina menyelesaikan pekerjaannya. Sembari menunggu Karina bekerja, Meliana menyempatkan diri untuk menjelajahi akun i********: miliknya. Sebenarnya dia penasaran apakah pria yang bernama Adam itu memiliki i********: atau tidak.
Beberapa kali Meliana mengetik nama Adam Brynata tapi yang muncul di mesin pencari bukanlah Adam yang di maksud. Sampai tak sengaja, Meliana membuka salah satu akun i********: sebuah kafe yang sedang booming di kalangan anak muda. Di sana terdapat foto Adam dan beberapa orang pria.
Meliana menopang dagunya dengan tangan kirinya. Dia mencoba menjelajahi komentar-komentar yang tertera di sana. Dan sialnya tak ada satupun akun pribadi Adam. Pria yang dijodohkan dengan Karina sangat misterius. Tak mungkin kan di zaman seperti ini orang-orang tak memiliki akun i********:? Rasanya sungguh mustahil.
"Udah siap nih, jadi gak?" Tanya Karina sambil membereskan meja kerjanya.
Meliana menutup akun i********: nya karena dia merasa kesal karena tak menemukan akunnya Adam.
"Yuk," sahut Meliana. "Kalau kita makan di kafe gak masalah, kan?"
Karina menyampirkan tas kerjanya di bahu kanannya. Alis sebelah kanannya terangkat dan menatap heran ke arah sahabatnya itu.
"Tumben malah ke kafe bukan restoran yang biasa."
Meliana hanya tertawa pelan dan membuat Karina penasaran. "Rahasia," sahut Meliana.
"Dih main rahasia nih sekarang."
Meliana merangkul pundak Karina. "Aku dapat misi dari Cecil soalnya," ujar Meliana berbohong.
Jika Meliana tak dapat bukti di media sosial mungkin dia harus mencari langsung ke sumber foto itu berasal. Cukup dirinya yang merasakan pahitnya patah hati dan jangan sampai Karina merasakan hal yang sama.