"udah ada kelanjutan dari hubungan kamu sama adam?" Tanya Meliana ketika mobil yang dikendarai Karina keluar dari gedung perkantoran.
"Masih gitu-gitu aja sih," sahut Karina. "tapi seenggaknya kemarin Adam ngirim chat duluan," ujar Karina dengan nada senang.
"Terus doi kirim chat apaan?"
"Chat standar doang sih." Karina mencoba mengingat kembali adegan tadi malam yang membuatnya sulit tidur. "tapi semalam kita sempat telpon bentar."
"Cieeeeee," goda Meliana sambil bertepuk tangan. "Jadi ceritanya sleep call nih."
Wajah Karina memerah. "Ya gak sleep call juga," bantah Karina tapi dalam hati setengah membenarkan ucapan sahabatnya itu. "Kita bahas hal biasa aja kan bentar lagi bakalan tunangan," sambung Karina karena kedua orangtua mereka ingin mempercepat peresmian hubungan antara Karina dan juga Adam.
"Tunangan?" Meliana terkejut.
Bukankah terlalu cepat untuk bertunangan? Bahkan Karina dan Adam baru sekali bertemu di restoran waktu itu. Sejauh ini Meliana belum pernah melihat Karina bertemu lagi. Malah terkesan Karina lah yang sedang memupuk pohon cinta di antara hubungan mereka berdua.
"Iya tunangan," sahut Karina. "Dua Minggu lagi deh kayaknya." Karina melihat ke arah Meliana yang masih tampak kaget. "Gak usah kaget, kamu kayak gak tau papa aja."
"Iya sih pak Daru emang begitu sih, suka mengambil keputusan dalam tempo sesingkat-singkatnya," kata Meliana sambil tertawa pelan. "Nyalain radio ya, sepi amat perjalanan kita."
Karina hanya menganggukkan kepalanya dan Meliana pun menyalakan radio. Suara penyiar radio mengudara di dalam mobil. Sementara Karina fokus melihat lampu lalu lintas berwarna merah sedangkan Meliana menatap pemandangan dari kaca samping mobil.
Ternyata banyak toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan, mulai dari toko baju, toko sepatu dan ada juga pet shop. Ketika Meliana memperhatikan sebuah pet shop, kedua matanya menangkap sosok yang tak asing. Meliana mencoba memfokuskan pandangannya. Jantungnya berdetak kencang saat pandangannya terkunci ke satu titik. Iya, kedua bola matanya menangkap dengan jelas sosok Adam yang baru keluar dari pet shop dengan seorang wanita.
Gila, itu kan Adam. Mesra banget sama tuh cewek, suara hati Meliana menjerit kencang ketika melihat tangan kanan Adam merangkul mesra pinggang si wanita.
Walaupun nasib percintaannya ngenes tapi Meliana hapal bagaimana ciri-ciri sentuhan sebagai pacar atau sentuhan sekedar sahabat. Kali ini Adam memang seolah menggali kuburan sendiri. Pria itu sungguh nekad menjalin hubungan secara resmi dengan keluarga Daru. Apakah ayahnya Karina tak mencari tahu sebelumnya mengenai latar belakang calon suami Karina?
Jangan sampai Karina melihat ke arah samping. Sinyal otak Meliana mengirim pesan dengan sangat cepat.
"Lihat apaaan sih, serius amat tuh wajah?" Karina mulai melajukan lagi mobilnya.
Meliana tersentak kaget tapi syukur saja reaksi Meliana itu tak di lihat oleh Karina. Bisa bahaya kalau Karina yang bucin sampai melihat Adam seperti tadi. Bunga nya belum mekar masa udah layu aja.
"Ternyata ada pet shop di sana," ucap Meliana. "Jadi pengen pelihara kucing deh." Meliana harus pandai-pandai berakting saat ini.
"Ya kan tinggal beli, gaji kamu kan besar."
"Dihhhh lebih besar gaji nya kamu lah," seloroh Meliana. "Kan kamu bos nya, aku msh apa atuh remah-remah roti doang."
Karina hanya tertawa. Gaji Meliana itu banyak kalau toh dia beli satu kucing pun, gajinya tak akan habis.
***
Bagai orang yang di Landa mabuk asmara. Adam selalu menurut keinginan sang kekasih, Alina. Minggu lalu sebenarnya Adam dan Karina bertaruh kecil mengenai grand opening cabang terbaru dari kafenya Adam. Apakah selama seminggu di kelola oleh Alina mengalami kemajuan atau pendapatan standar saja.
Ternyata selama seminggu setelah grand opening, kafe tersebut meraup untung yang lumayan. Bahkan Adam pun memuji manajemen yang diterapkan Alina di kafe itu. Dan hari ini Adam harus meniru keinginan kekasihnya itu.
"Molly udah bersih habis ini mau kemana?" Tanya Adam kepada Alina yang berada di sampingnya.
Alina sangat menyayangi molly, kucing jantan hadiah ulangtahun nya tahun lalu dari Adam. Kucing jantan itu lah yang kerap menemani hari-hari Alina.
Alina tampak berpikir sejenak. "Ke tempat biasa yuk," usul Alina sambil tersenyum lebar.
"Yakin mau sekarang?" Adam mencoba memastikan karena hari sudah mulai beranjak malam. Bahkan warna langit sore telah berubah dari hingga ke warna kelabu.
"Iya yakin," jawab Alina.
"Baiklah," sahut Adam dan mobil Adam pun mulai meluncur ke tempat rahasia mereka berdua.
Di sepanjang jalan, Alina menyandarkan kepalanya di bahu kiri Adam. Rasanya sudah lama dia tak bermanja-manja seperti ini. Sedangkan Adam setengah fokus saat ini. Ayahnya telah gila karena mengumumkan pertunangannya dengan Karina dua Minggu lagi. Sebegitu ingin melebarkan sayap sehingga ingin mengambil langkah cepat.
Adam tak mungkin menceritakan hal ini kepada Alina saat ini. Baru beberapa hari lalu Alina dengan berat hati menerima kenyataan pahit mengenai hubungan mereka. Dan sekarang Adam tak ingin menyiram minyak ke dalam api yang membara. Dia tak sanggup kehilangan Alina. Tapi jika dia menentang perjodohan itu sama saja Adam harus keluar dari kartu keluarga. Adam belum sanggup jatuh miskin di saat bisnisnya baru saja berkembang.
"Sayang."
"Hmmm iya sayang." Adam mengelus puncak kepala Alina ketika lampu lalu lintas berwarna merah. "Kalau kamu ngantuk tidur aja dulu. Perjalanan kita masih tiga puluh menit lagi. Masih ada waktu untuk istirahat."
"Kamu ingat Friska gak?"
Adam mencoba mengingat nama Friska dalam memorinya. "Yang pernah satu kelas sama kita waktu kuliah dulu?" Tanya Adam mencoba memastikan.
"Iya Friska yang itu," ucap Alina membenarkan.
"Emang dia kenapa?"
"Bermain api sama pacar orang." Alina mengatakan hal itu dengan nada yang datar.
Ketika dia mendapatkan kabar jika Friska menjalin hubungan dengan pacar orang lain, Friska menjadi bulan-bulanan grup alumni angkatan mereka. Adam tak mengetahui hal itu karena Adam telah keluar dari grup itu tak lama setelah grup itu terbentuk. Hanya Alina lah yang bertahan sekaligus mendapatkan informasi
"Dia menjadi bahan gosip di angkatan kita," sambung Alina.
Alina menghela nafas. Dulu hubungan mereka aman-aman saja walaupun sampai sekarang mereka menjalin hubungan diam-diam. Ketika di tanya mereka akan menjawab sebagai sahabat. Jika ketahuan mereka berdua menjalin hubungan di saat Adam sedang dekat dengan seorang wanita dari keluarga terpandang. Nasib Alina tak ada bedanya seperti Friska nantinya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Alina menjadi seonggokan sampah tak berguna..
Adam paham ke mana arah pembicaraan Alina. "Aku mengerti kegelisahan hati kamu saat ini," sahut Adam. "Bukan kah aku telah berjanji akan melindungi mu?"
Alina menganggukkan kepalanya. "Tapi aku gak siap, Adam."
"Aku tahu di sini yang menjadi orang ketiganya bukanlah kamu tapi Karina," kata Adam dengan tegas. "Apapun yang terjadi nama kamu bakalan tetap bersih."
Alina hanya tersenyum getir. Andai saja dia berasal dari keluarga berada mungkin cerita cinta mereka tak akan seperti ini. Alina tak akan merasakan cinta sembunyi-sembunyi yang membuat hatinya terasa perih.