Bab 9

1031 Words
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit tanpa drama macet. Akhirnya Adam dan juga Alina tiba di sebuah bukit, tempat favorit mereka berdua sejak masa kuliah dulu. Bukit itu mereka namakan bukit cinta, tempat yang sering mereka habiskan waktu bersama. Pemandangan yang terhampar sangatlah indah. Lihat saja dari bukit ini lampu-lampu kota terlihat sangat berkilau seperti hamparan berlian yang berkilauan. Alina keluar dari dari dalam mobil ketika dia melihat pemandangan dari bukit itu, dia merasa kembali terlempar ke masa lalu seperti di masa-masa ketika dirinya dan Adam memadu kasih. Di belakangnya adem mengikuti Alina dengan perasaan yang sangat bingung. Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya kepada Alina saat ini atau menyembunyikannya lebih lama lagi. Tapi ketika melihat wajah Alina yang sangat bahagia hati kecil Adam mengatakan untuk mengurungkan niatnya mengatakan hal sebenarnya kepada kekasihnya itu. Alina menoleh ke arah Adam sambil berseru riang. "Ih udah lama kita nggak ke sini aku sangat-sangat bahagia." Adam yang mendengar seruan kekasihnya hanya bisa mengembangkan senyumnya. Lalu dia pun berjalan mendekat ke arah sana kekasih sambil memeluk pinggang kanan Alina dengan penuh mesra. Sejujurnya ada masih merasa terusik dengan pembicaraan mereka mengenai Friska. Sudah sejauh ini dia melindungi keberadaan Alina dari keluarga besarnya. kalau keberadaan Alina sampai diketahui oleh ayahnya dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya. "Aku tahu ada yang kamu sembunyikan dari aku Adam." Alina berkata dengan nada suara pelan. "Kita sudah menghabiskan waktu cukup lama dan aku tahu bagaimana sifat dan sikap kamu. Apalagi saat ini aku tahu kamu sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar dari aku." Adam terdiam. Dia lupa jika Alina adalah seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Pasti Alina tahu bagaimana sifat dan sikap Adam sungguh Adam melupakan hal yang satu itu. "Jadi rahasia apa yang sedang kamu sembunyikan sekarang, sayang?" Adam hanya bisa tertawa getir sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa menang dari Alina. Adam mengambil nafas cukup dalam sembari mengumpulkan tekad untuk menyampaikan berita yang akan membuat Alina sedih. Adam tidak mau membuat kekasihnya sedih, lebih baik dia dibenci oleh keluarga besarnya daripada melihat Alina sedih dan menangis. "Sepertinya aku nggak akan pernah bisa menang dari kamu ya," ujar Adam. "Kamu ingat kan wanita yang bernama Karina wanita yang akan dijodohkan oleh keluarga besarku." Mendengar nama Karina disebut hati Alina merasa perih seolah sedang tersayat oleh pisau yang tak kasat mata. Dia lah orang yang pertama mengenal Adam hingga sampai sejauh ini kenapa wanita itu yang mengambil Adam dari sisinya. Alina cukup puas hanya bisa memiliki Adam dalam hidupnya. Alina tak pernah meminta apapun kecuali hal itu bahkan di usianya yang ketujuh tahun dia sudah lelah dengan kata keluarga. Ketika teman-temannya yang di panti asuhan memiliki keluarga baru Alina masih bertahan di panti asuhan hingga beranjak dewasa. "Aku nggak punya pilihan lain, sayang." Suara Adam terdengar bergetar. "Dua minggu lagi aku akan tunangan dengan Karina." Akhirnya Adam mengatakan hal sejujurnya pada Alina. Walaupun dia tahu konsekuensi apa yang akan terbentang nantinya. Dada Alina bergemuruh, tenggorokannya terasa sangat tercekat. Inilah hal yang paling ditakutkan oleh Alina ketika dia tahu saat keluarga Adam menjodohkan kekasihnya dengan wanita lain. Ya cepat atau lambat Adam akan pergi dari sisinya dan meninggalkannya seperti orang-orang itu. Kenapa kebahagiaan tak pernah berpihak padanya? Kenapa Tuhan selalu tidak adil padanya? Alina selalu bertanya hal itu terus-menerus di sepanjang hidupnya. Tanpa Alina sadari air matanya turun mengalir di pipinya. Adam yang melihat kekasihnya menangis buru-buru menghapus jejak air mata itu. Tak hanya Alina yang merasakan perih tapi Adam pun merasakan hal yang sama. Bagaimana bisa Adam menghabiskan waktunya dengan menikahi wanita yang sama sekali tidak ia cintai? Tujuan hidupnya hanya Alina dan sampai kapanpun tetap Alina. Andai dia lebih kaya dari ayahnya mungkin Adam akan menentang hal itu di awal tapi dia tak punya kuasa akan hal itu dia hanyalah badut bagi ayahnya hingga kini. "Maafkan aku sayang, maafkan aku." Adam lalu memeluk erat tubuh Alina yang bergetar karena sedang menahan tangis. Ini adalah hal yang paling ditakutkan oleh Adam ketika dia mengatakan Yang sejujurnya. Jauh di dalam dasar lubuk hatinya Adam lebih baik kehilangan segalanya daripada kehilangan Alina. "Sayang di bukit ini. Aku bersumpah aku akan menikahimu seminggu setelah aku menikahi Karina." Entah dasar apa yang membuat Adam mengambil keputusan itu. Jika dibiarkan terus berlarut seperti sekarang. Adam takut jika dia akan benar-benar kehilangan Alina untuk selamanya. "Menikah nggak segampang itu." Alina berseru lemah. "Kamu tahu betapa egoisnya aku, aku nggak mau berbagi kamu dengan wanita lain. kamu tahu itu." Hati Adam terasa perih. Wanita mana yang mau berbagi prianya dengan wanita lain. Sepertinya nggak akan ada. Jadi hal yang wajar ketika Alina memberontak seperti saat ini.Dia tak akan menyalahkan kekasihnya karena ucapan Alina memang benar adanya. "Tapi aku nggak punya pilihan sayang. Kamu tahu kan bagaimana ayahku?" Adam melepaskan pelukannya dan menatap ke dalam kedua mata Alina yang memerah menahan tangis. "Bagaimana dia mengontrol seluruh kehidupanku." Di dalam keresahannya Alina berpikir tentang tawaran yang dilontarkan Adam. Berjarak 1 minggu setelah pernikahan Adam dengan Karina, dia akan menikah dengan Adam pula. Sebenarnya tawaran itu tak begitu buruk. Tpi tetap saja Alina ingin hanya dirinya satu-satunya wanita yang mengisi hidup Adam setelah pernikahan. "Baiklah satu minggu setelah kamu menikah, kamu akan menikahi aku." Alina mencoba tersenyum sembari menahan tangisnya. "Aku akan menghapus jejak-jejak wanita itu ketika kamu berada di sisiku." Ada yang mendengar ucapan kekasihnya lalu merekahkan senyumnya. "Inilah Alina kekasihnya. Iya lakukan sepuasmu dan hapus jejak-jejak Karina ketika kita bersama." Di dalam hatinya Alina tersenyum puas. Sampai kapanpun dia tak akan pernah mau melepaskan Adam. Jika Karina bisa memiliki tubuh Adam, Alina bisa mendapatkan keduanya hati dan juga tubuh Adam. Alina akan membuktikan jika tak selamanya uang bisa membeli apapun termasuk kebahagiaan seseorang. Alina bakalan nafas lalu dia tersenyum. "Kalau gitu seminggu ke depan kamu harus temenin aku beli ini itu untuk persiapan pernikahan kita," ucap Alina. "As you wish my princess," sahut Adam. Hanya tinggal satu langkah saja dan kehidupan Alina akan terasa sangat sempurna. Tanpa ada rasa ragu, Alina memeluk Adam dengan cukup erat. Lalu dia mengecup bibir Adam cukup dalam. Hal itu di sambut oleh Adam dan membalas pagutan Alina tak kalah liarnya. Mungkin malam ini mereka akan menghabiskan wa ktu bersama di sebuah hotel tak jauh dari bukit ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD