Jam telah menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Langit senja pun kini telah berganti menjadi kelam khas malam telah tiba. Tandanya sudah hampir dua jam setengah sejak Meliana menyambangi ruangannya untuk pamit pulang duluan. Walaupun wajah Meliana tampak tak tega meninggalkan Karina lembur seorang diri tapi Karina dengan tegas mengatakan jika dia bisa mengatasi ini semua.
Karina merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku di sana sini. Wajar saja karena Karina telah menguras otak dan juga durasi waktu yang seolah di kejar setan. Karina berhasil menyelesaikan semua laporan itu tepat jam tujuh lewat tiga puluh menit. Setelah merenggangkan otot sebentar, Karina lalu membereskan meja nya yang lumayan berantakan.
Beberapa dokumen yang terbuka karena Karina harus melakukan cross check ulang sebelum laporan itu dikirimkan. Setelah memastikan semua laporannya aman, Karina pun lalu mengirimkan laporan itu ke atasannya.
"Lelahnya," gumam Karina sambil memejamkan kedua kelopak matanya sebentar.
Rasanya kedua matanya terasa sangat panas. Selang beberapa detik kemudian, Karina membuka matanya. Dia pun mengecek jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi sebelum Adam menjemput. Lebih baik Karina segera bergegas menuju toilet untuk merapikan diri serta memoles sedikit make up tipis di wajahnya. Karina ingin membuat hati Adam senang ketika melihat wajahnya yang tak begitu kucel. Anggap saja dia sedang belajar bagaimana cara menyenangkan hati suaminya kelak.
Setelah memastikan jika lampu ruang kerjanya telah padam, Karina lalu bergegas menuju ke arah toilet. Karena tak ingin nantinya Adam akan menunggunya dan hal itu berimbas dengan rusaknya mood Adam. Membayangkan hal itu saja sudah membuat Karina manyun. Yah intinya jangan sampai Adam ngambek.
"Cantik," puji Karina pada dirinya sendiri setelah dia memoles make up tipis diwajahnya.
Tanpa berlama-lama, Karina pun segera bergegas menuju ke lobi kantor. Di sepanjang jalan menuju lobi, Karina masih bertemu beberapa orang yang sepertinya sedang lembur juga. Karina menghela nafas, begini lah suasana kantor menjelang akhir bulan. Semua sibuk di kejar deadline.
"Wah Bu Karina tumben masih di kantor jam segini," sapa Naura salah satu staf resepsionis kantor yang kali ini sedang bertugas. "Lembur kah Bu?" Tanya Naura sedikit penasaran. Pasalnya sangat jarang sekali melihat Karina di jam-jam seperti sekarang. Terlebih lagi Karina hanya sendiri saat ini.
Karina mengulas senyumnya. "Iya biasa ikutan lembur jelang akhir bulan," jawab Karina. "Biasanya di jam segini memang sendiri Nau?" Tanya Karina penasaran. Sesekali Karina pernah pulang di atas jam sembilan malam. Biasanya ada dua staf yang bertugas.
"Lagi di toilet Bu."
Karina hanya mengangguk singkat. Tak lama kemudian, ponsel Karina berdering dan menampilkan nama Adam di layar. Buru-buru Karina menjawab panggilan dari Adam sembari pamit pada Naura.
"Halo Adam," ucap Karina setelah menerima panggilan dari Adam.
Karina pun mulai berjalan ke arahuat lobi kantor. Sepertinya Adam sebentar lagi akan tiba dan Karina tak ingin membuat Adam meninggal terlalu lama.
"Bentar lagi aku sampai di kantor kamu."
Suara Adam yang terdengar berat menerobos masuk ke dalam indera pendengaran Karina. Entah kenapa mendengar suara Adam saja telah mampu membuat jantung Karina seolah lumpuh. Bagaimana rasanya jika di peluk oleh Adam? Ya ampun membayangkan hal itu membuat tubuh Karina seakan lemas dan hampir pingsan.
Karina tak menyangka jika dia bisa sejauh ini dengan Adam. Berawal dari pengagum rahasia, kini status percintaan Karina telah naik level. Anggap saja jika Karina sedang mendapat berkah sehingga terus menerus mendapatkan jackpot.
Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil SUV hitam telah tiba di depan pelataran lobi kantor. Tanpa perlu repot-repot menebak, Karina tahu jika itu adalah mobilnya Adam. Sebelum Adam menurunkan kaca mobil, Karina sudah mempersembahkan senyum terbaiknya pada pria itu. Dan benar saja, tak lama kemudian Adam menurunkan kaca mobil.
Karina tahu jika itu adalah tandanya jika Karina boleh masuk ke dalam mobil pria itu.
"Udah nunggu lama sayang?" Tanya Adam ketika Karina telah duduk di samping kemudi mobil.
Pertanyaan Adam membuat Karina tersentak. Baru kali ini Adam memanggil nya sayang. Otak Karina mendadak buntu. Apakah dia harus membalas dengan panggilan sayang juga atau Adam seperti biasa? Andai ada Meliana, dia pasti telah mendiskusikan hal ini. Jawaban apa yang pas untuk situasi seperti saat ini.
Karina menoleh ke arah Adam. Lalu kepalanya menggeleng pelan lalu tersenyum tipis. "Gak kok." Ah sepertinya jawaban kayak gini salah satu alternatif aman.
Tiba-tiba saja Adam mendekatkan tubuhnya ke arah Karina dan membuat tubuh Karina menegang sembari menahan nafas. Sel-sel otak Karina mendadak berasap.
"Seatbelt nya sayang." Adam berhasil memasangkan seatbelt Karina. Lalu Adam mengacak pelan rambut Karina dan membuat pipi Karina mendadak merah. "Yuk berangkat."
Karina hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bisa mengeluarkan suara. Rasanya jantungnya seakan mau meledak. Apakah sang Cupid tengah menempel pada mereka saat ini? Kenapa sejak awal masuk ke dalam mobil Adam, irama jantung Karina terdengar tak beraturan.
"Kamu sakit?" Suara Adam terdengar khawatir saat Adam melihat Karina sedari tadi malah diam. "Atau kamu lagi laper?" Tebak Adam.
Karina berteriak dalam hati. Bukan keduanya. Ingin rasanya Karina mengatakan hal itu pada Adam. Tapi lagi-lagi karina harus mengambil jalan aman.
"Sedikit lapar habis lembur," jawab Karina. Sepertinya Adam bakalan mampir dulu nih ke salah satu restoran. Sebelum Adam membelokkan mobilnya, Karina harus meyakinkan Adam jika itu tak perlu. "Makan nya ntar aja Adam, ke toko perhiasan aja dulu ntar malah tutup."
Adam melirik jam di pergelangan tangannya. "Masih sempat jika jika singgah makan dulu," sahut Adam atas penyataan Karina. "Tapi kalau kamu gak sabaran lihat cincin kita, aku bisa apa." Adam menoleh ke arah Karina dan kedua mata mereka bertemu.
Karina benar-benar merasa jika nafasnya terasa sesak di tatap penuh cinta seperti itu. Lalu tangan kiri Adam meraih tangan kanan Karina dan mengarahkannya ke arah bibinya. Seperti yang sudah tahu kelanjutannya, bibir Adam mencium punggung tangan Karina.
"A.. Adam," cicit Karina.
Adam melirik ke arah Karina. "Kamu harus ngebiasin diri kamu, sayang." Adam dapat melihat jika wajah Karina telah merah padam. "Sebentar lagi kita akan menikah masa kamu masih malu dengan calon suami sendiri."
Karina kehilangan kata-kata. Ucapan Adam memang benar adanya, sampai sejauh mana dia akan bersikap malu-malu seperti remaja. Entahlah mungkin karena Karina tak pernah pacaran sebelumnya. Dan sikap Adam seperti ini mampu membuat Karina meleleh. Pantas saja bocah SD zaman sekarang sudah mulai pacaran. Ternyata di beri perhatian kecil begini mampu membuat Karina sampai hilang arah.
Adam menautkan jemarinya di sela-sela jemari Karina. "Jadi aku pinjam tangannya ya sampai toko perhiasan,"ucap Adam pada Karina.
Wajah Karina kali ini berubah menjadi tomat. Di dalam hati, Karina hanya bisa berdoa jika jantungnya tetap aman di tempat sampai di toko perhiasan.