° ° Semilir angin membelai punggungku yang setengah polos. Tahulah, perbuatan siapa. "Dingin, hm?" "Hm..." Andes terkekeh, dikecupnya keningku. "Kamu nggak apa kan kita nggak honeymoon? Aku lagi sibuk banget," celotehnya. "Hm..." "Hm? Cuma hm?" Aku menggeliat karena pegal, sejak tadi posisiku tak berubah. "W-wo-wow! Jangan gerak frontal, ini bangun deh..." hebohnya. "Apa sih Ndes?" Andes cuma senyum. Jujur, Andes tak pernah senyum seperti sekarang ini. Manis dan tulus. "Suka nggak sama cincinnya?" "Emh suka," aku mengangguk. "Kamu banget kan?" Aku mencebik. Maksudnya aku banget, ya kecil mungil . "Bukan nggak mau beliin yang gede, tapi jatohnya dia yang makin cantik karena dipake di jari kamu yang kecil." selorohnya. Apa dia bilang? Bukan bilang kalau aku makin canti

