Chapter 13

1224 Words
    Aditya berdecak kesal, untuk yang kedua kali dalam hidupnya, ia kalah atas pernyataannya sendiri. Pertama, ia sudah memperingatkan teman-temannya agar bermain aman dengan wanita agar tidak menghasilkan hal yang tidak diinginkan, nyatanya kini ia mempunyai Aira. Kedua, ia mengatakan pada Zakiyya kalau ia tidak akan kalah bahkan bertekuk lutut dengan wanita, nyatanya juga ia harus menuruti semua perintah dari wanita itu.     Sudah satu bulan ini Aditya mengikuti perintah dari Nina, dimulai ia harus lebih sering mengunjungi Aira, bermain dengannya, bahkan harus mengurusinya seperti menyuapinya, memandikannya, membacakan dongeng untuknya, dan masih banyak lagi. Padahal setelah acara pesta itu, ia justru ingin semakin kejam kepada putrinya, tapi nyatanya sekarang ia harus berperan bagaikan ayah yang sangat menyayangi putrinya. Tak hanya itu, ia juga harus merubah kebiasaannya yang menggunakan sebutan aku-kau ketika berbicara dengan Aira, dengan menggunakan sebutan ayah-sayang.     Sebenarnya bukan karena perkataan Nina yang menyebutkan Aira adalah sumber uangnya, karena pasti ayah Aditya tidak akan setega itu membuatnya terlunta-lunta dan jatuh miskin. Melainkan ancamannya yang mengatakan wanita itu akan mengatakan semua keburukannya pada orangtuanya yang secara tidak langsung akan berdampak pada kesehatan jantung ayahnya.     Tidak bisa dipungkiri, sejak kehadiran Aira empat tahun lalu, kondisi ayah Aditya berangsur membaik. Ia tidak pernah lagi kolaps seperti dulu. Tidak ada ring yang harus dipasang lagi. Boleh dibilang ring yang dipasang di Singapura dulu adalah ring terakhir ayahnya. Aditya tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi pada ayahnya jika mengetahui semua kelakuan busuknya selama ini. Ia tidak akan membiarkan hal buruk itu terjadi.     Sejak kehadiran Aira dalam kehidupan Aditya, sedikit banyak gadis kecil itu telah membuatnya tidak sebebas dulu. Ia harus merelakan hobi balapannya demi untuk mengurusi perusahaannya, belum lagi terkadang jadwal mengunjungi putrinya yang bertepatan dengan jadwalnya balapan. Mau tidak mau ia harus mengalah. Untungnya ia masih bisa menjalin hubungan dengan beberapa wanita selama beberapa tahun ini, walau harus lebih ekstra hati-hati lagi dan tidak ada hal lebih selain bertemu, b******u atau sekadar pegangan tangan.     Siang itu, Nina mengajak Aditya pergi ke suatu mall untuk membeli Aira buku dongeng, baju dan mainan dokter-dokteran pesanan malaikat kecil mereka. Sebenarnya pria itu sangat malas. Namun, wanita itu terus saja memaksanya.     Baru saja kemarin Aditya sudah dipaksa untuk memandikan Aira dan memasangkannya baju. Itu membuatnya benar-benar kesal. Pria itu hanya berpikir kalau mengurus anak adalah pekerjaan wanita. Mau tidak mau ia mengikuti perintah wanita itu untuk pergi ke mall, apalagi di rumah saat ini sedang ada ibunya.     Setelah selesai, Aditya mengajak Nina untuk segera pulang. Di sepanjang perjalanan handphone-nya berdering. Entah siapa yang menghubunginya. Ternyata sudah sejak di mall seseorang itu menghubunginya. Akhirnya, Aditya pun memutuskan untuk menghubungi seseorang itu kembali.     "Halo ... halo ... apa?" tanya Aditya kesal ketika panggilannya terdengar tidak jelas dan terputus-putus meski ia sudah menggunakan headset. "s**t!" umpatnya ketika ternyata pulsanya tidak mencukupi dan harus mengakhiri panggilannya secara paksa.     Nina menoleh ke arah Aditya. "Ada apa?"      "Aku akan membeli pulsa dulu," jawab Aditya. Matanya pun fokus ke arah pinggir jalan mencari minimarket atau sekadar tempat penjualan pulsa.     Akhirnya setelah beberapa menit, Aditya pun berhasil menemukan tempat penjualan pulsa. Lelaki itu pun menepikan mobilnya di bahu jalan, karena ternyata tempat penjualan pulsa itu ada di seberang jalan. Ia tidak mampu memarkir mobilnya di sana, karena di tengah jalan terdapat pembatas jalan yang membedakan arah. Itu berarti ia harus berputar arah dan arah putarnya masih beberapa kilometer lagi. Mau tidak mau, ia harus menyebrang.     Aditya melepas seatbelt-nya, lalu keluar dari mobil.     "Aku juga ingin membeli sesuatu," celetuk Nina, mengikuti Aditya. Mereka berdua pun akhirnya menyebrang dengan hati-hati.     Beberapa menit berlalu, Aditya kini sudah selesai membeli pulsa dan hendak kembali ke mobil tanpa memedulikan wanita itu. Sementara Nina masih menunggu penjual ayam goreng selesai meladeninya. Namun, tak lama kemudian terdengar teriakan seseorang memanggil Aditya.     "Adit, awas!" teriak seorang wanita yang kemudian mendorongnya hingga ke bahu jalan. Namun tak dikira wanita itu sendiri yang malah mengorbankan nyawanya.     Decitan yang ditimbulkan dari gesekan ban dan aspal, bunyi nyaring dari klakson, serta suara tubrukan antara depan mobil dan seorang wanita terdengar begitu keras dan ngilu.     Saat itu, Aditya terlalu fokus dengan teleponnya. Entah siapa sebenarnya yang Aditya hubungi. Ia berjalan terburu-buru seolah ada hal yang harus ia kejar sampai-sampai ia tidak memperhatikan jalan. Sebenarnya sudah ada klakson yang memanggilnya. Namun, tak ia dengar karena ia memakai headset, karena panggilan teleponnya terdengar kurang jelas. Sampai tiba-tiba seseorang mendorongnya hingga terjatuh ke bahu jalan.     "Berani-beraninya kau mendorongku!" geram Aditya ketika ia harus tersungkur ke pinggir jalan.     Aditya melepas headset-nya, membalikkan badan dan berniat untuk memarahi orang yang telah mendorongnya. Namun, apa yang ia lihat? Seorang wanita telah tertabrak sebuah minibus.      Saat ini merupakan hari yang membingungkan sekaligus mengagetkan bagi Aditya. Sebuah kecelakaan hampir saja menghampirinya. Namun, bukan hal itu yang membuat jantungnya berdegup kencang, melainkan melihat kondisi seseorang yang telah menyelamatkannya.     Seketika ia datang menghampiri wanita itu sambil bertanya-tanya dalam hati siapa dia, karena terhalang kerumunan orang-orang yang seketika mencoba menyelamatkan nyawanya.     Jantung Aditya berdegup kencang, matanya tak bisa berkedip dan kakinya terasa kaku tak bisa digerakan. Lemas, semua tulang rasanya telah rontok dari tubuhnya. Semua terasa seakan-akan dunianya telah berhenti setelah ia berlari menerobos kerumunan yang ada di depannya.     "Bella?" Aditya seketika mengernyit saat cadar yang terpasang di wajah Nina tersibak, beberapa saat ia bahkan hanya diam bagai patung sampai kemudian ia tersadar. "Astaga! Ayo, tolong saya! Tolong selamatkan dia!" teriak Aditya ketika ia berada di depan tubuh wanita yang sudah mendorongnya tadi. Pakaian wanita itu kini berubah warna menjadi merah menandakan banyak darah yang keluar dari mana-mana.     Kaget, itulah yang ia rasakan. Sedetik pun ia tak pernah menduga dan rasa tidak percaya masih menyelimuti pikirannya saat menatap wajah wanita yang kini dipangkunya. Sambil menahan lecet yang ada di tangannya, ia segera membawa wanita yang selama empat tahun ini hadir dalam hidupnya—terutama putrinya—menuju mobil yang ia parkir kemudian pergi menuju rumah sakit dibantu seseorang yang ada di tempat kecelakaan itu untuk memasukkannya ke dalam mobil, sedangkan si penabrak telah diamankan oleh beberapa orang di tempat kejadian.     Aditya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti ketika ia sedang berada di arena sirkuit balap. Namun sayang, lajunya harus terhenti di tengah jalan, karena ada truk mogok yang membuat terjadi kemacetan.     Aditya memukul keras setirnya sambil sesekali mengumpat dan menjambak rambutnya mengerang frustasi. Namun, perhatiannya tertuju pada seorang polisi yang mencoba mengatur arus jalan yang macet itu. Seketika ia membuka pintu mobilnya, berlari ke arah polisi dan memintanya membuka jalan, karena saat ini ada wanita yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya. Dengan sigap, polisi itu pun mengawalnya hingga sampai ke rumah sakit.     "Dokter ... dokter ... tolong selamatkan dia!" teriak Aditya panik sambil menggendong Bella dengan kedua tangannya. "Aku mohon Bella, bertahanlah. Kumohon," lirihnya.     Dengan sigap para perawat menaruh Bella di brankar dan mendorongnya ke ruang gawat darurat.     "Apa Anda suaminya?" tanya seorang perawat pada Aditya.     "Ya. Tolong selamatkan dia suster," pinta Aditya dengan wajah yang begitu pucat.     "Anda tenang saja, kami akan berusaha menyelamatkannya," sahut perawat itu sambil menutup pintu ruang ICU.     Aditya berdiri, menyandarkan tubuhnya sambil menempelkan telapak tangannya ke pintu ICU. Ia tidak bisa tenang dan tubuhnya lemas, pun dadanya yang terasa sesak. Untuk pertama kalinya ia menangis demi seorang wanita. Wanita yang telah rela menyelamatkannya.     "Aku mohon, Bella, bertahanlah. Demi aku. Demi putri kita. Mengapa kau menyelamatkanku? Mengapa ...?" lirih Aditya.     Tak terasa sebulir cairan bening jatuh seiring tubuh Aditya yang luruh ke lantai seraya menahan hujaman tombak panas tepat di jantungnya. Putri kita? Airanya ... apakah hasil dari perbuatannya bersama Bella malam itu? Lantas ia pun bertanya, mengapa Bella selama ini bersembunyi di balik cadar, bukan meminta pertanggungjawabannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD