Aditya meremas rambutnya kesal ketika pandangannya jatuh pada malaikat kecil yang tengkurap di atas meja makan sudah menumpahkan kaleng susunya. Malaikat kecilnya itu sudah bisa meraih apa yang ada di depannya dan juga sudah belajar merangkak meski belum sempurna. Itu hal normal bagi bayi berusia enam bulan seperti Aira.
"Kau bisa diam, tidak?! Kau sudah membangunkanku di tengah malam dan kini kau membuat s**u itu tumpah berantakan," tanya Aditya menggeram kesal. Sementara yang diajak bicara hanya tersenyum dan sesekali tertawa melihat apa yang dilakukan ayahnya.
Seminggu sudah Aira tinggal dengan Aditya. Sebenarnya mereka baru pulang dari Bali, karena selama itu Aditya ingin menyembunyikan putrinya dari para tetangganya sekaligus berlibur, berharap sedikit saja ia bisa menenangkan diri.
Di Bali, Aditya tidak segan-segan menitipkan Aira pada tetangga sekitar rumahnya sepanjang hari hanya dititipkan ke sana kemari pada orang di sekitar rumah dengan alasan Aditya harus mengurus resortnya yang ada di Bali. Tapi sayang, ayah dan ibu Aditya menyuruhnya segera kembali dan tidak membawa cucunya ke mana-mana.
Ya, Aditya punya rumah di Bali. Rumah kayu bergaya kontemporer berlantai satu dengan dinding-dindingnya yang terbuat dari kaca, serta kolam renang minimalis membuat rumah itu terlihat sangat sederhana namun elegan. Aditya selalu menginvestasikan uangnya untuk membeli rumah.Tak heran jika kini ia mempunyai 3 rumah yang berada di Jakarta, Bandung dan Bali, dan 1 unit apartment di Jakarta. Lagi pula Aditya selalu pergi ke luar kota, jadi tak ada salahnya jika ia mempunyai rumah yang bisa ia tinggali selepas ia mengunjungi condotelnya, karena ia tidak suka menginap di condotelnya itu—terlalu ramai. Ia mencintai ketenangan yang pada dasarnya dalam hidupnya ia tidak memberikan ketenangan pada gadis-gadis yang memujanya.
Ya, terlihat jelas dari kedua rumah Aditya yang ada di Bali dan di Bandung. Rumahnya berada di sekitar pedesaan dan perkebunan yang jauh dari hiruk pikuk ramainya kendaraan. Berbeda dengan rumah utamanya yang berada di Jakarta sekarang.
Aditya menghela napas kasar, harapannya seperti minggu lalu ketika Aira bisa tidur tanpa terbangun malam pupus sudah, bahkan bayi itu sangat rewel. Putri kecil itu selalu saja menangis, meski popoknya tidak basah dan ketika ayahnya mencoba membuatkan s**u, ia malah menolaknya mentah-mentah.
"Ini, minumlah!" perintah Aditya sambil memberikan botol s**u yang sudah siap dibuatnya tadi kepada putrinya. Botol s**u kecil sehingga Aira bisa memegangnya. Namun, malaikat kecil itu hanya memainkan botol itu dengan menggigit-gigitnya lalu menghempaskannya hingga menggelinding di atas meja. "Kau sebenarnya mau s**u tidak, sih?!" teriaknya geram. Baru saja ia hendak membersihkan kaleng s**u yang ditumpahkan Aira tadi, putrinya itu malah bersikap seolah tidak menghargai s**u yang sudah ia buat.
Naik sudah darah Aditya tatkala melihat tingkah malaikat kecilnya atau lebih tepatnya setan kecilnya. Dua minggu ini Aira sudah hadir dan menghancurkan hidupnya, membuatnya tidak bisa ke mana-mana dan tidak bisa menghadiri pernikahan temannya, bahkan ia libur dari kantor hanya untuk belajar bagaimana mengurus Aira.
Aira kecil hanya terdiam memerhatikan wajah ayahnya yang sedang berteriak kepadanya, kemudian ketika ayahnya menjambak rambutnya sambil bergerak ke sana kemari tak karuan, malaikat kecil itu malah tertawa seolah mengira ayahnya sedang melucu.
"Aku membencimu. Benci. Sangat membenci segala yang ada dalam dirimu. Kau telah merenggut segala kebebasanku. Kau adalah penghancur dan benalu dalam hidupku. Sungguh disayangkan mengapa aku tak bisa membuangmu. Dan malangnya, aku justru menyukai pipi merahmu. Siapa kau? Jangan berani tersenyum begitu padaku!" oceh Aditya.
Ya, tentu saja Aditya tidak bisa membuang Aira. Bahkan jika putrinya diberitakan hilang atau diculik, itu sama saja membuat masalah baru baginya. Orangtuanya pasti panik dan mencari Aira ke mana-mana dan sudah dipastikan hidupnya akan susah sebelum gadis kecil itu ditemukan.
Dalam hati Aditya ingin sekali gadis kecil itu pergi dari dunia ini, tapi ia tidak mungkin melakukannya dengan tangannya sendiri, tidak dengan cara yang keji. Bagaimanapun di dalam darah Aira terdapat darah yang sama dengannya.
Melihat Aira yang terus tertawa membuat Aditya terdiam seraya mengernyit. Apakah dirinya benar-benar lucu atau setan kecilnya itu sedang tertawa di atas penderitaannya? Semua hanya bayi kecil itu yang tahu. Dengan geram Aditya menggendong Aira dan juga botol s**u yang kini menjadi sumber kehidupannya menuju kamar.
Di dalam kamar, Aditya membaringkan Aira di boxnya beserta botol susunya.
"Kau diam di sini dan tidurlah. Apa kau tidak ingat perjanjian kita? Awas ya, kalau menangis lagi. Aku akan memberimu obat tidur dengan dosis tinggi," ancam Aditya sambil menodongkan jari telunjuknya. Kali ini Aira diam, mata bulatnya mengedip lucu dan mulai meneguk susunya seolah mengerti. Mungkin ia takut melihat kemurkaan ayahnya—wajah tampan yang kini terlihat seperti iblis.
Sikap Aditya sangat aneh, mana mungkin Aira ingat akan perjanjian yang pria itu maksud soal saling memberi ketenangan. Lagi pula saat itu ia mengatakannya saat putrinya sedang terlelap. Jika dipikir-pikir, Adityalah yang tidak ingat atau mungkin ia sudah stres.
Sebenarnya Aditya sudah menyuruh orang suruhannya mencari jasa pengasuh ke beberapa yayasan saat ia dan Aira di Bali, tetapi sampai saat ini belum juga satu pun pengasuh yang datang ke rumahnya.
Malam ini sungguh malam paling berat bagi Aditya dan ia memutuskan untuk tidur dengan penutup telinga agar Aira tidak membangunkannya lagi.
***
Nasib malang tak berhenti, hari ini Aditya harus berdecak kesal, karena Bu Farida tidak bisa masuk kerja karena harus mengunjungi kakaknya yang meninggal di kampung. Mau tidak mau, ia harus bergulat dengan Aira sendiri.
Sejak tadi Aditya sudah bangun dari pagi. Memulai hari dengan membersihkan rumah, memandikan dan memberi s**u untuk Aira, serta mencuci pakaian mereka. Sebenarnya ia bisa saja memanggil pembantu di sekitar komplek rumahnya, namun pasti mereka akan bertanya-tanya soal Aira. Aditya pun tidak bisa meminta bantuan dari orangtuanya, karena pastinya bukan bantuan yang ia dapat melainkan ceramah seharian. Namun, jangan heran mengapa pria es itu bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Walaupun ia anak dari seorang billionaire dunia, ia sudah terbiasa mandiri sejak menetap di Amerika. Amerika ... ah, rasanya Aditya ingin sekali menghilangkan ingatan yang tanpa permisi telah meninggalkan luka di hatinya. Kalau soal makanan sendiri, ia bisa memesan makanan dari delivery.
Aditya menghela napas panjang, merebahkan tubuhnya bersandar di sofa sambil meminum secangkir tehnya yang dingin setelah ia berhasil menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan syukurnya ia bisa menidurkan putrinya. Ah ... lagi pula ini sudah waktunya tidur siang.
Aditya mencoba memejamkan mata, menenangkan pikirannya dan kalau boleh memimpikan gadis-gadis cantik. Ah ... sial, seketika ia menepis keinginannya itu. Sejak Aira hadir, ia tidak bisa berasyik-asyik ria dengan wanita yang mengejar-ngejarnya.
Suara dentang bel rumah pun berbunyi tepat ketika Aditya mulai masuk ke alam mimpinya. Mau tidak mau ia harus bangun dan membuka pintu.
"Assalamu'alaikum!" teriak seorang wanita mengetuk pintu.
Seketika Aditya membuka pintu dan kaget bukan kepalang ketika melihat siapa yang datang.
"Maaf, saya tidak menerima sumbangan," ujar Aditya ketus.
"Maaf, tapi saya hanya ingin menjadi pengasuh putri Anda. Bukankah saat ini Tuan membutuhkan seorang pengasuh?" tanya wanita itu.
"Tapi, kau tidak terlihat seperti seorang pengasuh. Kau terlihat seperti ter—" Belum juga ia selesai tiba-tiba sudah terpotong.
"Teroris," lanjut wanita itu memotong perkataan Aditya sambil tertawa. "Tuan tenang saja, saya bukanlah seorang teroris," tambahnya.
"Lalu, mengapa kau memakai cadar seperti itu? Jika kau ingin bekerja di sini, sebaiknya kau melepas cadarmu," perintah Aditya, penuh curiga.
"Aurat wanita memanglah kecuali wajah dan telapak tangan. Namun, seringkali wajahnya memikat hati para pria. Karena itulah kami menggunakan cadar agar menghindari fitnah dan menjauhkannya dari godaan setan yang merajai mata lelaki," jawab wanita itu menerangkan.
"Jadi, kau berpikir wajahmu itu cantik sampai-sampai lelaki tergoda karenanya?" Aditya malah balik bertanya dengan nada terkesan mengejek.
"Saya tidak merasa seperti itu. Namun, godaan setan tak pernah pilih-pilih orang. Sama seperti kesehatan, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?" balas wanita itu.
Aditya berpikir, ucapan wanita itu ada benarnya, godaan setan tak pernah pilih-pilih. "Tapi saya masih belum yakin. Seperti yang kau tahu, saat ini maraknya teroris," ujarnya dengan jujur.
"Saya tahu. Itu tak hanya merusak arti cadar, tetapi mencoreng Islam itu sendiri. Saya turut prihatin dengan hal itu. Bukankah Islam itu cinta damai?" tanya wanita itu retoris.
"Ya, kau benar. Saya ini bukanlah orang yang baik. Tapi, saya tidak setuju jika banyak nyawa tak berdosa harus melayang," sahut Aditya.
Nyawa tak berdosa. Ah ... mungkin itu yang menjadi salah satu alasan Aditya masih mempertahankan putrinya. Walau gadis kecil itu hadir dari hasil hubungan terlarang, tapi Aira tetaplah bayi yang suci. Ia bukan anak haram seperti yang dikatakan banyak orang.
Belum juga ia mempersilakan wanita itu masuk, tiba-tiba terdengar lengkingan tangis bayi. Siapa lagi kalau bukan Aira. Dengan langkah panjang Aditya secepat kilat menghampiri putrinya.
Aditya mencoba untuk menenangkan putrinya, tetapi tak berhasil. Tiba-tiba, wanita itu masuk ke kamarnya, kemudian tanpa permisi mengambil alih Aira dari gendongannya. Pria itu terbelalak tatkala melihat wanita itu berhasil menenangkan putrinya.
"Siapa namanya?" tanya wanita itu sambil mengayun-ayun ke sana kemari, menenangkan Aira. Gadis kecil itu terlihat begitu nyaman dalam buaiannya.
"Namanya Humaira, tapi kami memanggilnya Aira. Coba kau lihat, pipinya sungguh merah bagaikan apel. Sebenarnya ibunya menamainya Chloe, tapi saya tidak terlalu suka dengan nama itu. Agar adil, saya turut menyumbang nama depan untuknya. Jadi, Humaira Chloe Akyas," jawab Aditya yang diam-diam wajahnya terasa damai memandang wajah putrinya, Aira. Dari sejak awal pipi Aira seperti menjadi daya tarik tersendiri baginya, apalagi ketika malaikat kecil itu tersenyum manis. Ah ... ia rasanya seperti ingin meleleh.
"Tuan benar, ia sangat cantik sekali. Tapi, di mana ibunya? Sedari tadi saya tidak melihatnya," tanya wanita itu.
"Dia ... ah, sudahlah, saya tidak ingin membahasnya. Kau ingin bekerja di sini, bukan? Kalau begitu kau diterima. Saya tidak akan menanyai tentangmu lagi dan saya harap kau juga tidak mencampuri urusan saya," balas Aditya tersadar dari tatapannya terhadap Aira. "Oh iya, saya Aditya, tapi kau boleh memanggil saya Adit." Setelah melihat anggukan wanita itu, ia kembali bertanya, "Siapa namamu?"
"Saya Nina Farhana. Tuan bisa memanggil saya Nina," jawab wanita itu. "Terima kasih, karena Tuan sudah mengizinkan saya bekerja di sini," jawab wanita itu.
"Oh iya, kau tidak akan tinggal di sini. Kau dan Aira akan tinggal di rumah saya yang berada di luar kota." Ucapa Aditya membuat Nina mengernyit.
"Lho, tapi kenapa, Tuan?" tanya wanita itu menatap bingung.
"Bukankah sudah saya katakan jangan mencampuri urusan saya. Kalau kau tidak mau, saya akan mencari pengasuh lain," tegas Aditya.
"Tidak, bukan begitu, saya hanya ingin tahu alasannya. Saya minta maaf," kata Nina penuh sesal.
"Saya hanya ingin putri saya hidup nyaman dan memiliki privasinya sendiri. Saya minta kau bisa menjaganya dengan baik tanpa lecet sedikit pun. Saya akan memberimu gaji sebesar lima belas juta tiap bulannya. Apa itu cukup?" tanya Aditya. Dengan begitu ia bisa hidup tenang tanpa Aira di rumahnya.
Kalau sudah urusan uang, Aditya memang tidak segan-segan mengeluarkannya. Baginya gaji sebesar itu tak seberapa dengan pemasukannya. Ia menganggap seperti kehilangan satu tamu hotel kelas luxury-nya. Tak bisa dipungkiri kalau untuk menyewa satu kamar hotelnya mulai dari kelas satu juta rupiah sampai dua puluh lima juta rupiah per malam. Pantas saja ia dengan mudahnya memberi ganti tiket pulang pergi Celina ke Milan.
"Itu sudah lebih dari cukup, Tuan. Saya janji saya akan merawatnya dengan baik," jawab Nina.
"Saya akan pegang janji itu. Satu lagi, jangan panggil saya Tuan. Panggil saja Adit," kata Aditya sambil mengulurkan tangannya, tetapi wanita itu tak membalas jabat tangannya. Rasanya, harga diri pria es itu jatuh seketika. Baru kali ini ada yang menolak sentuhan tangannya. Jangankan jabat tangan, di luar sana justru banyak wanita yang berharap lebih. "Saya akan mengunjungi kalian sebulan sekali," tambahnya kikuk seraya mengelus tengkuknya yang tak gatal, sementara yang diajak bicara hanya mengangguk tanda setuju.
***
Akhirnya Aditya bisa bersorak ria, karena mulai sekarang ia tidak usah mengurus Aira lagi. Bukankah orangtuanya mengizinkannya untuk menyewa pengasuh? Dan soal Aira yang akan tinggal di luar kota, ia akan mengatakan pada orangtuanya ini demi kebaikan Aira yang tak akan mendapat cibiran mengenai statusnya di mata tetangga-tetangganya. Ia berjanji akan membawa putrinya kembali saat ia sudah menemukan ibu kandung putrinya.
Malam harinya, untuk pertama kalinya, Aditya bisa tidur tenang, karena Aira tidur bersama wanita itu di lantai bawah. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
"Halo," sapa Aditya pada seseorang.
"Ada apa Tuan menelpon saya malam-malam?" tanya orang di seberang.
"Cari tahu mengenai wanita yang bernama Nina Farhana, saya takut dia seorang komplotan teroris yang hendak membom rumah saya dan cari tahu alasan kematian suaminya," jawab Aditya, padahal dalam hati ada sepercik rasa takut kalau wanita itu ternyata ibu kandung Aira atau suruhan ibu kandung putrinya mengingat betapa pintarnya ibu putrinya itu meretas CCTV dan mungkin prasangkanya benar bahwa Nina memang komplotan teroris dan suaminya meninggal, karena sedang beraksi.
"Baiklah, Tuan. Saya akan segera melaporkannya pada Anda," balas orang suruhan Aditya. Pria itu memang punya banyak orang suruhan. Terang saja, ia berasal dari keluarga kaya. Hal itu lumrah agar tetap menjaga keamanan keluarga dan juga aset-asetnya.
"Ok, saya tunggu secepatnya," ujar Aditya sambil menutup teleponnya.
Setelah makan malam, Aditya memang bertanya kepada Nina soal siapa dia, dari mana asalnya, berapa usianya, pengalaman kerjanya, dan masih banyak lainnya. Dari hasil yang ia dapat, Nina adalah wanita berusia 21 tahun dengan status janda, karena suaminya meninggal akibat sakit keras. Dia adalah kiriman dari salah satu yayasan tempat di mana orang suruhan Aditya mencari pengasuh. Makanya sejak awal wanita itu tahu kalau anak majikannya adalah seorang perempuan. Namun tetap saja, ia tidak bisa memercayai wanita yang kini menjadi pengasuh putrinya itu semudah itu, kendati dari berkas-berkas dan juga KTP yang wanita itu beri berkata seperti itu.