"Kami yakin tidak mau permanen?" Faz menggeleng dan menjawab dengan mantap bahwa dirinya ingin pulang saja. Empat tahun di Batam sudah memberikan banyak pelajaran berharga bagi Faz dan sekarang sudah waktunya untuk dia menata masa depan dengan lebih baik. Ia ingin memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah serta mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa. Selama bekerja di Batam, dirinya merasa waktunya terlalu banyak dihabiskan untuk bekerja. Apalagi dengan jam kerja yang gila-gilaan, hampir tidak ada waktu untuk me time. Hanya menulis melalui ponsel saja yang menjadi hiburan Faz di sela-sela jadwal kerja yang padat. "Sayang sekali, Faz." Supervisor Faz menarik napas panjang kemudian membuangnya dengan keras. "Tidak banyak operator yang mendapat tawaran untuk menjadi pekerja permanen, lh

