"Ck! Selalu saja dia seperti itu." Aku kesal pada Gading dan memutuskan masuk ke dalam kamar. Aku duduk di tepi ranjang, mataku menatap kosong ke arah jendela besar di kamar ini. Selama hampir lima hari, berada di sini, jauh dari rumah sakit, jauh dari kewajiban dan pasienku. Rasanya tidak adil, seperti ditarik dari dunia yang selama ini kujalani. Gading telah membawaku ke tempat yang tak kuketahui di luar kota, tanpa ada penjelasan yang jelas, kecuali bahwa aku harus tetap di sini—bersamanya. “Gading, aku sudah bilang, aku harus kembali bekerja. Ini tidak bisa terus begini!” aku berkata, suara kugetarkan dengan nada penuh protes. Gading menatapku dengan sabar dari pintu. Dia bersandar dengan santai, seolah semua ini bukan masalah besar. Tangannya terlipat di depan d**a, dagunya terang

