Aku duduk di kursi kayu yang sudah usang, membiarkan angin malam yang dingin menyusup di sela-sela jendela rumah tua ini. Kami berada jauh dari keramaian, di pinggiran kota Bogor yang sunyi dan susah sinyal. Semua terasa begitu sepi, tapi pikiran ini tidak. Hanya ada satu hal yang terus menghantuiku: Gading. 'Selalu saja seperti ini. Aku harus selalu bersama dia. Mau sampai kapan?' Aku menggerutu di dalam hati karena kesal saat harus berada di tempat yang sangat jauh dari Jakarta. Dia sudah banyak menyelamatku. Aku tahu dan sadar akan hal itu. Akan tetapi, semakin lama bersamanya, semakin banyak pertanyaan yang tak terjawab. Siapa sebenarnya dia? Mengapa dia selalu menghindar saat aku menanyakan hal itu? 'Bening sepertinya tahu banyak soal Gading, tapi aku sungkan untuk bertanya lebih

