"Aku akan tetap minta kado lagi," kata Gading membuatku terkejut dan menghentikan langkah. "Kado apa lagi, Gading? Kalo kau meminta kado, ayolah, kembali ke Jakarta," kataku kesal pagi ini karena bosan di tempat ini. "Aku minta kau bersikap lebih sabar, tidak marah-marah terus padaku, dan satu lagi, kau harus lemah lembut." Bukan terdengar seperti sebuah permintaan, tetapi itu perintah yang harus aku patuhi. Gading hanya menggeleng pelan. Tak lama, ia dan orang-orangnya pergi dari tempat ini. Aku seorang diri di tempat ini. Ah, ya, jangan lupakan orang-orang kepercayaan Gading yang selalu berjaga di luar sana, masih ada sebagian dari mereka yang tetap tinggal di sini. Aku mendapati diriku menatap pemandangan luar dari balik jendela kaca rumah kayu yang terletak di tengah hutan ini. Cah

