Aku dan Gading saling memandang dalam keheningan yang menggantung di udara. Tatapan matanya, tajam namun ada kelembutan di sana, membuat dadaku berdebar. Aku bisa merasakan jarak antara kami semakin tipis, hingga bibirnya hampir menyentuh wajahku. Sesaat, aku merasa waktu berhenti, napasku tertahan, jantungku berdetak lebih kencang. Tapi sebelum sesuatu terjadi, Gading tiba-tiba menarik diri. Dia terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. 'Tidak Tuhan, aku tidak mau,' kataku dalam hati sambil memejamkan mata karena takut ketika bibir Gading mendekati di wajah ini. Aku berdiri dengan cepat, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Tanganku reflek membetulkan pakaian, meskipun tidak ada yang benar-benar perlu diperbaiki. Sekadar mengatasi rasa canggung. Ketika aku berbalik, mer

