27. Masalah Hati dan Ambisi

1202 Words

Aku masih terngiang-ngiang dengan laporan dari Roy semalam. Rasanya darahku mendidih ketika mendengar bahwa Martin mengajak Aya berkencan. Bagaimana mungkin dia berani? Apakah dia benar-benar berpikir bisa menyentuh sesuatu yang bukan miliknya? Kupandangi Roy yang duduk di hadapanku, ekspresinya datar, tetapi sorot matanya menyiratkan keprihatinan yang sama. "Roy, kau yakin dia mengajak Aya berkencan?" tanyaku, suaraku terdengar lebih dingin dari biasanya. Roy mengangguk. "Saya mendengar langsung, Pak. Martin bahkan mengirimi Aya pesan untuk bertemu setelah jadwal tugas mereka selesai." Aku mengepalkan tangan, menahan amarah yang mulai merambat dalam diriku. "Baik. Kalau begitu, kita harus berikan pelajaran pada Martin. Dia perlu tahu batasannya." Aku tahu, ancaman adalah langkah terak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD