Aku melangkah cepat menuju ruang dekan. Suasana rumah sakit sore itu terasa lengang, hanya ada beberapa perawat yang berlalu-lalang di lorong. Namun, ada sesuatu yang membuat dadaku terasa berat, firasat tak enak yang menyeruak tanpa sebab yang jelas. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hati yang sejak tadi berdebar tak menentu. 'Mengapa mendadak aku dipanggil Bu Lusiandra?' Pertanyaan itu sejak tadi menari di kepala ini. "Tok, tok, tok!" Ketukanku bergema di pintu ruang dekan. Setelah beberapa detik, terdengar suara dari dalam yang mempersilakan masuk. Dengan hati-hati, aku membuka pintu dan melangkah masuk, menutup pintu perlahan di belakangku. Duduk di balik meja kerjanya, Bu Lusiandra memandang dengan mata yang tajam. Wajahnya datar, tak tersirat senyum atau k

