Langit mulai berwarna kelabu ketika aku berdiri di depan rumah sakit, menunggu taksi yang tak kunjung datang. Wajah Bening yang semringah saat pergi bersama Gading tadi seolah masih tergambar jelas di benakku, membuat dadaku terasa sesak. Bening, sahabatku yang ceria dan selalu penuh energi, tampak begitu mudah berbaur dengan Gading. Di sisi lain, aku hanya bisa berdiri dan tersenyum kaku melihat keakraban mereka. 'Ingat, aku bukan sesiapa bagi mereka berdua. Bening dan Gading itu setara. Aku tidak mau bersaing dengan Bening. Aku jelas kalah jauh.' Lagi dan lagi rasa minder itu kembali datang di dalam hati ini. Entah apa yang kurasakan saat ini. Cemburu? Mungkin, tetapi aku juga tak ingin mengakuinya begitu saja. Aku menarik napas panjang, mencoba menepis segala pikiran yang mengganggu,

