Gendis tersenyum lalu menciumi puncak lengan sang pangeran yang terpapar di depannya seraya berkata, “Mas Bagas harus percaya pada apa yang Mas Bagas lihat,” ujar Gendis, kali ini dia menekankan nada yang berbeda. “Tempo hari kamu melihat aku meneteskan air mata di pipimu. Itu bukan air mata sakit perut, Mas… tapi air mata karena aku melihat Mas Bagas akan menghancurkan dirimu sendiri.” Bagas menoleh, menatap ke arah Gendis lalu membaringkan kembali tubuhnya di bawah gadis itu dengan ekspresi terkejut. “Apa maksudmu?” “Mas Bagas akan mengucapkan janji suci, sebuah sumpah yang mengatakan kalau kamu mencintai Raden Ajeng Lintang, dan kamu akan melanggar sumpah darah leluhur,” jelas Gendis sambil membelai rambut sang pangeran yang hitam legam. “Gusti Endah pasti melihat keengganan dan ke

