ANIS "Sudahlah, semua sudah terjadi. Waktu tidak bisa diputar ulang." Sinta berdiri dari duduknya. Dia lalu meninggalkan teras. Meninggalkan aku sendiri yang belum ingin beranjak. Aku terdiam merenung. Memutar memori masa lalu yang tidak pernah surut dalam ingatan. Ingatan tentang seorang pria tampan mirip orang-orang timur tengah. Aku menyukai pria itu. Sangat menyukai. Meskipun pekerjaan dia serabutan, aku tetap suka. Kenyataannya, bukan hanya aku saja yang menyukainya. Tapi hampir semua gadis yang tinggal di wilayah ini di masa itu, menyukainya. Semua berebut ingin mendapatkan hatinya. Tapi mereka semua, termasuk aku, harus patah hati lantaran pria itu sudah menjatuhkan pilihannya pada seorang gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mbak Rodiah yang menurutku memiliki wajah b

