Keluar dari ruang sidang, Aldric tidak kembali ke singgasana. Langkah kaki Aldric berbelok menuju lorong sunyi yang mengarah ke ruang baca, satu-satunya tempat di istana utama yang masih memberinya ilusi ketenangan. Namun ketika tangan Aldric hendak menyentuh gagang pintu, “Yang Mulia!” Seorang prajurit berlari tergopoh, lalu berlutut cepat di hadapan Aldric. Rahang Aldric mengeras. Sorot matanya tajam dan dingin, seolah sisa ruang sidang masih menggantung di udara. “Katakan,” desisnya singkat. “Kapten Arven meminta kami mengganti tirai di Istana Violeta …” suara prajurit merendah satu nada, “…namun tiang penyangganya patah.” "Bukankah seharusnya kalian mengatakan hal ini pada kepala pelayan?!" potong Aldric cepat, tapi kemudian dia berpikir ulang jika kepala pelayan tidak bertangg

