Kael Thornhart meminta seorang pelayan membawakan sarapan Liora ke ruang kerjanya. Kesempatan ini dimanfaatkan Aldric tanpa ragu, bukan dengan kata-kata besar, melainkan lewat hal kecil yang justru paling jujur. Begitu pelayan meletakkan sarapan di atas meja depan Liora, Aldric langsung meraih piringnya yang terdapat roti, lalu memotong roti tersebut menjadi bagian-bagian lebih kecil, memastikan gadis itu bisa memakannya dengan santai tanpa harus mengotori jemarinya. Gerakan Aldric begitu natural seakan sudah terbiasa, seolah tubuhnya mengingat Liora lebih cepat daripada pikirannya. Pun dengan Liora, ia menerimanya begitu saja, seperti kebiasaan lama, bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan. “Ehem.” Kael Thornhart berdehem, suaranya sengaja dibuat sedikit lebih keras. “Bisakah kalian

