#4 Ardan vs Adam

1131 Words
New York, kota metropolitan itu kini tengah bersiap untuk menyambut musim dingin yang artinya salju akan segera turun sewaktu waktu. Seorang pria bertubuh tegap bernama Adam tengah menatap pemandangan kota dari teras apartemen di lantai tiga puluh delapan dengan tatapan kosong, tenggelam dalam lamunan tak berkesudahan. Sudah lebih tiga bulan Adam melewatkan malam ditemani sunyi dan dingin angin yang menerpa wajah tampannya menunggu kantuk datang. Dan biasanya dia baru dapat tertidur lewat pukul dua pagi. "Adam....masuklah, dingin loh di luar" tegur Renny, wanita yang sudah tiga bulan telah sah menjadi istrinya. "Hmm..baiklah" jawab Adam dengan malas dan terpaksa menyeret kakinya yang terasa berat. "Aku buatkan kamu teh hangat, sudah kuletakkan di meja. Diminum ya sayang..." ucap Renny dengan suara yang lembut sambil mengelus perutnya yang terlihat membuncit. "Hmm" dengan acuh Adam memberikan jawaban singkat. Dirinya tidak mempunyai selera bercakap dengan wanita itu. Perasaannya telah mati bersama dengan kepergian kekasihnya. Adam tidak menyalahkan siapapun, wanita mana yang tidak sakit hati jika mengetahui bila calon suaminya bercinta dengan perempuan lain dan baru tahu sehari sebelum hari pernikahan mereka? "Dam...." panggilan Renny membuyarkan lamunannya, kebiasaan yang menjengkelkan. "Berisik! Aku tidak tuli." ketus Adam, entah kenapa hari ini dirinya cepat tersinggung dari biasanya. "Aku..aku ingin menunjukkan perutku yang sudah semakin membesar padamu." jawab Renny dengan suara bergetar. "Tidak mau tahu dan tidak perduli!" bentaknya lalu membanting pintu kamar sebagai pelampiasan kekesalan hatinya. Semenjak mereka menikah Adam memilih kamar tamu sebagai kamar tidurnya sementara Renny tidur di kamar utama. Tidak ada niat secuilpun dalam hati Adam untuk berdekatan dengan istrinya. Pernikahan ini dilakukan hanya karena rasa tanggung jawab pada janin yang tengah dikandung Renny, tidak lebih dan tidak kurang. Adam menghempaskan dirinya pada ranjang dan menatap langit langit kamarnya. Bayangan wajah manis Vanie, wanita yang telah membuatnya bahagia selama mereka berpacaran kini terlintas dalam benaknya. Vanie yang tahu kapan harus bersikap tegas dan lembut, Vanie yang suka bergurau, Vanie yang suka makan, dan segudang sifat perempuan itu yang membuat Adam jatuh cinta padanya. "Urrhhhgggg....FUCK! kenapa aku bisa sampai mabuk dan tidur dengan Renny. f**k! f**k! f**k!" teriak Adam seraya melempar bantal ke sembarang arah. Dia sangat membenci dirinya, dengan mudah terjerat rayuan Renny pada pesta kecil yang diadakan Nada Gutama, mamanya. Pesta yang seharusnya dihadiri oleh Stevanie sebagai calon istri Adam tetapi disayangkan Vanie sudah memiliki acara bersama dengan teman kuliah, sehingga malam itu Adam seorang diri menyambut para tamu yang kebanyakan tidak dikenalnya. Dan tak disangka, Nada mengundang Renny, mantan kekasih Adam. Sampai hari ini Adam masih tidak mengerti mengapa dia bisa secepat itu mabuk, padahal baru menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol saja, bagi tubuhnya hal itu sudah biasa dan tidak mungkin dapat membuatnya tak sadarkan diri dan bercinta dengan Renny tanpa bisa mengingat semuanya itu. Berulang kali Adam meminta maaf pada Vanie dan meminta wanita itu untuk memberikan dirinya kesempatan untuk memperbaiki semua kekacauan yang dibuatnya, tetapi hati perempuan itu telah membeku dan membatu. Pintu hati Vanie telah tertutup rapat. Luka yang ditoreh Adam telalu dalam untuk tidak berbekas, bahkan waktupun tidak dapat mengobatinya. Jakarta diguyur hujan deras tanpa berbelas kasihan pada pengguna jalan, terutama para pengendara kendaraan roda dua. Vanie mengibaskan rambutnya yang basah akibat menerobos hujan dari parkiran mobil. Tubuhnya basah dan kedinginan sehingga terbesit pikiran untuk membatalkan pertemuan dengan Nanda, sahabatnya. "Gunakan jaket ini untuk menghangatkan tubuhmu" tetiba suara berat seorang pria terdengar bersamaan dengan mendaratnya jaket hitam menyelimuti punggungnya. Vanie memutar tubuh, terbelalak kaget dan reflek mundur selangkah menjauhi pria itu, tak menyadari kalau pijakannya goyah. "Aaaaa..."jeritnya dengan tubuh terhuyung ke belakang. Dengan sigap sang pria menarik tangan Vanie yang terjulur padanya, masuk dalam pelukannya dengan sempurna. Vanie mendorong tubuh pria itu dengan kasar "Lepaskan aku!" serunya. "Aku tidak membutuhkan belas kasihan, aku bisa hidup tanpamu!" seraya melempar jaket tersebut ke arah lawan bicaranya dengan sisa tenaga yang dimilikinya. "Benar benar wanita keras kepala..cih..perhatikan baik baik siapa yang dihadapanmu." kata sang pria dan sengaja mendekatkan wajahnya. "Apakah aku Adam? Pria k*****t yang telah menyia-nyiakanmu? Jika demikian bearti kamu juga belum pantas menikah dengannya" Vanie memicingkan matanya, memperhatikan lebih detail wajah pria itu. "Ohhhhh..." serunya tertahan, kedua tangan kini menutupi mulutnya yang terbuka. "Kamu.... siapa kamu! Kenapa wajahmu mirip dengannya?" tanya Vanie dengan dahi berkerut. Ardan menyeringai, "Sudah tahu perbedaannya sekarang hah?" Kedua tangan kekarnya mencengkram pundak Vanie, mengunci wanita itu supaya tidak lari. "Perkenalkan, aku Sebastian Ardan Nugroho, adik kembar Adam." Bagai disambar petir, tubuh Vanie melunglai lemas. Jiwanya seakan melayang lepas dari tubuhnya. "Tidak ..tidak mungkin! Kamu mempermainkan aku lagi Dam. Teganya kamu..." suara lihir Vanie terdengar sangat memilukan. Luka itu kembali basah, goresan yang belum kering kini kembali pedih. "Huhh.. dengarkan aku baik baik, Aku bukanlah Adam. Aku adalah Ardan, walaupun kami adalah kembar identik tetapi aku berbeda dengannya." ucapnya dengan penuh penekanan pada kalimat terakhir. Ardan tidak sudi jika dianggap sama dengan kakaknya. "Iris matamu...lebih gelap"desis Vanie. "Hmm...benar! Seratus buatmu" puji Ardan, hanya segelintir orang yang dapat membedakan mereka tanpa diberikan petunjuk sebelumnya. "Aku tidak tahu kalau Adam memiliki seorang adik...kembar" ucapnya. Ardan melepas cengkramannya lalu menarik tangan Vanie masuk ke dalam coffee shop yang ada di belakang mereka. "Hei!!" seru Vanie tak menyangka pria itu berani menyentuhnya lagi. "Lepaskan tanganku" "Baiklah akan kulepaskan, tapi berjanjilah untuk tidak lari menghindariku" Vanie mengangguk, "Percuma aku pergi, suatu hari nanti pasti dengan mudah kau dapat menemukanku" sindir Vanie. "Hmm benar sekali, cepat juga kamu memahamiku." ucap Ardan seraya memberikan jalan pada Vanie untuk melewatinya dan membiarkan wanita itu memilih tempat untuk mereka duduk. "Vannie!"seorang wanita berambut pirang sebahu memanggil namanya. Setelah mengatur jiwanya kembali, Vanie memasang senyum pada wajahnya lalu menghampiri Nanda tanpa memperdulikan Ardan. "Rambut kamu hits banget deh Nda, cocok dengan autfit kamu hari ini" puji Vanie lalu memeluk sahabat lamanya. "Van, dibelakang kamu siapa?" bisik Nanda curiga, "Tampangnya sangar banget, kamu gak apa apa kan?" "Itu dia bodyguard aku Nda, mau aku kenalin?" gurau Vanie lalu melambaikan tangan kanan memanggil Ardan. "Ardan, Kenalin ini sahabatku Nanda. Nda, ini Ardan bodyguard yang disewa papaku" kata Vanie menahan geli karena dari raut wajahnya tercetak jelas kalau pria itu tersinggung. Nanda hanya memberikan anggukan pada Ardan lalu menarik lengan Vanie menjauh pria bertubuh besar itu "Van, memangnya ada yang hendak menyakitimu sampai perlu menyewa bodyguard segala?" tanya Nanda, ternyata ia percaya dengan omongan sahabatnya. "Ya, seperti itulah keadaannya. Sudahlah...acuhkan saja dia. Bagaimana kabarmu?" Vanie mengalihkan pembicaraan sementara Ardan menyingkir dan memilih tempat duduk terpisah dari mereka, namun sepasang matanya tetap mengawasi Vanie. Sejam lebih Ardan menunggu, di mejanya terlihat dua gelas kosong bekas kopi yang telah habis diminum ditambah puntung rokok yang telah memenuhi asbak. "Huhh..perempuan kalau sudah ketemu susah berhenti" gerutunya. Ardan mendorong kursinya dan berdiri meninggalkan coffee shop dengan perasaan jengkel. "Malam ini aku akan mengalah, tapi bukan bearti kalah. Wanita itu harus bertekuk lutut dihadapanku!" geramnya dan melajukan mobil sport hitam bergambar kuda dengan kecepatan tinggi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD