Aku memandang kosong pada layar komputer setelah menulis sebuah artikel dan menyerahkannya ke redaktur. Ucapan Ilalang semalam masih berputar di kepala. Si k*****t itu maunya apa sih? Aku mengembuskan napas panjang. Dari balik jendela kaca, aku bisa melihat Ezra yang berdiri dan melayangkan senyuman. Ia melambaikan tangan. Aku mengubur diri di balik komputer, takutnya menjadi bahan perbincangan karena dikira main mata dengannya. "Besok ada rapat dadakan buat bahas pemberitaan korupsi," kata Mas Tama di sampingku. "Mau ngingetin. Lo udah jarang nengok grup, sih. Ngapain? Pacaran?" "Hm? Nggak. Lagi... males aja." Aku menggaruk belakang telinga. Begitu jam istirahat datang, aku segera bergegas ke kantin untuk membeli makanan ringan. Di sana, aku melihat Mas Danu dan Mbak Meri yang sedang m

